A. ASAL USUL WANGSA ISANA
Istilah wangsa isana di
jumpai di dalam prasasti pucangan di bagian bahasa sansekerta. Prasasti ini di
dikeluarkan oleh raja airlangga pada tahun 963 saka.bagian yang berbahasa
sansekerta itu mulai dengan penghormatan kepada brahmana,wisnu,dan siwa yang
disusul dengan penghormatan kepada raja
airlangga.selanjutnya dimuat silsilah raja airlangga mulai dari raja
isanatungga atau mpu sindok. Sri isanatungga mempunyai anak perempuan bernama
sri isanatunggawijaya yang menikah dengan sri lokapala dan mempunyai anak
bernama sri makutawangsawardhana,yang di dalam bait 9 sengaja disebut keturunan
wangsa isana.
Seperti yang dapat dilihat,dari silsilah tersebut maka
pendiri wangsa ini adalah mpu sindok sri isanawikramma dharmotunggadewa. Mengingat
kedudukannya di dalam masa pemerintahan
rakai layang dyah tlodhong dan rakai sumba dyah wawa,yaitu berturut-turut
sebagai rakryan mapatih I halu dan rakryan I hino yang biasanya hanya dapat
dijabat oleh kaum kerabat raja terdekat,tentulah ia masih anggota wangsa
syailendra akan tetapi ,karena kerajaan mataram di Jawa Tengah mengalami
kehancuran karena letusan gunung merapi yang dahsyat. Sehingga dalam anggapan
para pujangga hal itu dianggap sebagai pralaya (kehancuran dunia pada akhir
masa kaliyuga. Sesuai dengan kosmogonis kerajaan-kerajaan kuno haruslah di
bangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru. Oleh karena itu mpu sindok yang
membangun kerajaan di Jawa Timur,dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru yaitu
wangsa isana. Kerajaan baru tersebut tetap bernama mataram. Sebagai mana
ternyata dari prasasti paradah tahun 865 saka dan prasati anjukladang tahun 859
saka. Ibukotanya adalah tamwlang. Nama ini pada akhir prasati turyyyan tahun
851 saka. Ibukota ini hingga kini hanya di temui di dalam prasasti
turryyan.sekarang mungkin di dekat jombang.
Mpu sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948
M. Dari masa pemerintahannya di dapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian
besar tertulis di batu. Sebagian prasasti mpu sindok berkenaan dengan penetapan
sima di bagian suatu bangunan suci.yang di tetapkan menjadi sima atas perintah
raja sendiri hanayalah desa linggasutan dan sawah kakatikan di anjukladang. Di
dalam prasati linggasutan tahun 851 saka.dikatakan bahwa raja telah memerintah
agar desa linggasutan yang termasuk wilayah rakryan hujung,dengan penghasilan
pajak sebanyak 3,emas dan kewajiban kerja bakti seharga 2 masa setiap
tahunnya,ditetapakan menjadi sima dan dipersembahkan kepada bhatara di walandit
untuk penambah biaya pemujaan terhadap bhatara di walandit setiap tahunnya.
Dan di prasasti anjukladang tahun 859 saka,dikatakan
bahwa raja mpu sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan di
anjukladang dijadiakan sima dan dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang
prasada kabhaktian di sri jayamerta,dharma dari samgat anjukladang.dari sekian
banyak bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti mpu sindok belum ada
satu pun yang dapat dialokasiakan dengan tepat. Prasasti anjukladang
menyebutkan adanya candi lor dan sekarang di dekat brebek ,kabupaten nganjuk
ada reruntuhan candi,akan tetapi apakah memang candi lor itu yang dimaksud di
dalam prasasti,belum dapat dipastikan.perpindahan pusat kerajaan tersebut ke
Jawa Timur tidak perlu disertai penakklukan-penaklukan.karena hal ini dapat
dipahami sejak rakai watukura dyah balitung kekuasaan kerajaan mataram telah
meluas sampai ke jawa timur.
DHARMAWANGSA
TEGUH
Setelah pemerintahan mpu sindok ada masa gelap sampai
masa pemerintahan dharmawangsa airlangga.dalam masa 70 tahum itu tercatat hanya
tiga prasasti yang berangka tahun yang ditemukan yaitu prasasti hara-hara tahun
888 saka.prasasti kawambang kulwan tahum 913 saka.dan prasati lucem tahun 934 saka.prasasti hara-hara berisi keterangan
tentang pemberian tanah sima oleh mpu mano yang telah diwarisinya dari nenek
moyangnya.yang terletak di desa hara-hara sebelah selatan perumahannya.
Kepada mpungku di susuk pager dan mpungku di nairanjana
yang bernama mpu buddhiwala.untuk digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan
suci.sebagai sumber pembiayaan tersebut dan biaya upacara di dalam bangunan
suci. Ditebuslah sawah yang terletak di sebelah selatannya seluas 3 tampah,yang telah di gadai oleh
mpungku susuk pager dan mpungku di nairanjana.prasati kawambang kulwan
dikatakan belum di terbitkan sebagaimana mestinya. Apa yang terdapat dalam
transkipsi brandes sebagian kecil permulaannya saja.itu hanya di baca satu
sisi,prasasti ini di tulis melingkar. Yang di dapat dari prasasti ini ialah
memuat anugerah raja.kepada samgat kanuruhan pu burung berupa sima di desa
kawambang kulwan.
Agar sang pamgat kanuruhan mendirikan bangunan suci
pemujaan dewa (an padamla parhyangan). Prasati ini berasal dari masa
dharmawangsa teguh. Boleh dikatakan gelaplah masa antara mpu sindok dan
dharwangsa teguh. Hanya dari prasasti pucangan diketahui bahwa mpu sindok
mempunyai anak perempuan cantik karena kesucian hatinya.
Yang memerintah sebagai ratu dengan nama sri
isanatunggawijaya. Ia bersuamiakan raja srim lokapala,raja yang
bijaksana,memesona dan termasyur karena kesucian budinya.mengenai masa
pemerintahan sri isanatunggawijaya dan suaminya lokapala,demikian pula masa
pemerintahan makutawangsawardana.tidak ada suatu sumber apa pun yang lain yang
dapat member keterangan.hanya perlu dicatat di sini tentang nama
makutawangsawardhana itu,yang secara harfiah berarti pelanjut wangsa yang
bermahkota atau pelanjut wangsa raja.ditambah
dengan penekanan bahwa ia putra wangsa isana hal itu menunjukan bahwa
bagaimanapun anak laki-laki dari permaisuri merupakan tahta yang ideal. Dharmawangsa teguh yang begitu berambisi
untuk meluaskan kekuasaanya sampai ke luar pulau jawa mengalami keruntuhan di
tangan seorang raja bawahannya sendiri.prasasti pucangan baik yang berbahasa
sansekerta maupun yang berbahasa kuno,memberitakan tentang keruntuhan
itu.bagian yang berbahasa kuno lebih banyak member keterangan tentang akhir
masa pemerintahan dharmawangsa teguh.
AIRLANGGA
Prasasti pucangan menyebutkan
bahwa dharmawangsa airlangga dapat menyelamatkan diri dari serangan haji wurari
dan masuk hutan dengan hanya diikuti seorang hambanya yang bernama
narotttama.keterangan lebih terperinci terdapat dalam bagian yang berbahasa
jawa kuno.dikatakan bahwa pada waktu terjadi serangan itu ia masih sangat muda
baru berumur 16 tahun,dank arena itu belum banyak pengalaman dalam paperangan
dan belum begitu mahir menggunakan alat senjata.akan tetapi karena ia
penjelmaan wisnu ,ia tak dapat binasa oleh kekuasaan mahapralaya.ia kemudian
tinggal di hutan lereng gunung,bertemankan para pertapa yang suci
kelakuannya.diikuti seorang hambanya yang amat setia.
Dialah abdi yang teramat teguh dalam kesetiaan mengikuti
kemana raja ia pergi,ikut berpakaian kulit kayu,dan makan apa saja yang dimakan
oleh para pertapa yang tinggal di hutan.selama di hutan airlangga tak pernah
lupa pemujaan terhadap dewa-dewa siang
dan malam.karena itulah para dewa amat besar cinta kasihnya kepadanya,dan
mengharapkan agar ia memperolah pohon keinginan untuk melindungi dunia.
Menggantikan kedudukan leluhurnya. Mengenai masa pemerintahan
dharmawangsa airlangga lebih banyak keterangan didapatkan karena banyak
prasaati yang ditemukan kembali,meskipun seluruhnya belum diterbitkan,selain itu prasasti
pucangan cukup member banyak informasi peristiwa di masa
pemerintahannya,seperti yang telah disebutkan din atas prasasti pucangan yang
berbahasa sansekerta memuat silsilah airlangga.meskipun ada silsialah itu tentu
ada juga pihak-pihak yang masih juga merasa tidak puas sebab tak mungkin
rasanya semau keturunan mpu sindok binasa karena serangan haji wurari itu. Prasasti
pucangan memberikan keterangan tentang penyerangan raja atas musuh-musuhnya
mulai tahun 951 saka samapai tahun 959 saka,ada satu peristiwa yang rupanya
tidak dicantumkan di dalam prasasti pucangan yaitu ditaklukannya dan dibunuhnya
raja hansin,peristiwa itu diperingati dengan prasasti baru tahun 952 saka. Peristiwa
penakklukan raja hansin itu tentulah terjadi sebelum tanggal 28 april 1030 M.
Yang perlu dikemukakan di sini adalah kenyataan bahwa
bahasa jawa kuno di dalam prasasti airlangga merupakan bahasaa prosa yang
indah,berbeda dengan bahasa jawa pada prasasti sebelumnya,rupanya raja
airlangga mempunyai seorang pujangga yang ulung. Ini kelihatan dari
satu-satunya hasil karya sastra dari masa pemerintahan airlangga yang sampai
kepada kita,yaitu kitab arjunawiwaha,kitab ini berisi gubahan dari episode
mahabarata,yaitu pada waktu arjuna disuruh bertapa oleh saudaranya untuk mohon
senjata yang ampuh member kemenagan kepada para pandawa di dalam perang bharata
yang akan terjadi.bahasa dari kitab arjunawiwaha memang boleh dikatakan yang
terindah di antara karya sastra kuno,di samping kitab Ramayana kakawin
B.
KEADAAN MASYARAKAT
Pada Masa Kerajaan Mataram yang telah dipindahkan dari
Jawa Tengah ke daerah Jawa Timur ini masih ditemukan adanya pembagian
stratifikasi sosial pada kehidupan masyarakatnya. Pembagian stratifikasi sosial
ini didasarkan kepada kedudukan atau posisi masyarakat itu sendiri pada wilayah
itu. Kedudukan ini berdasarkan didalam birokrasi maupun berdasarkan materiil
(kekayaan).
Sedangkan
keadaan atau kehidupan yang digambarkan pada masa itu yaitu didapat dari berita
Cina bahwa dalam dalam kerajaan itu dikelilingi tembok dan didalamnya terdapat
ibukota, yang pertama adalah didalam istana itu sendiri yaitu dapat digambarkan
bahwa dalam istana itu adalah tempat berdiam dari seorang raja dan keluarganya
yakni didampingi oleh permaisuri, selir-selir dan anak-anaknya yang masih belum
dewasa dan ada juga para hamba istana (pelayan di istana), sedangkan yang kedua
adalah kehidupan diluar istana yang merupakan kediaman putra mahkota beserta
ketiga adiknya dan juga sebagai kediaman oleh pejabat-pejabat tinggi kerajaan.
Pejabat-pejabat tinggi dikerajaan itu tak lain adalah seorang pejabat dari
keagamaan dan kehakiman juga ada pejabat sipil yang bergelar sebagai rakai. Dan
yang terakhir adalah yang masih berada dalam lingkungan tembok namu telah
diluar wilayah istana adalah tempat bagi pejabat sipil yang lebih rendah yang
bekisar 300 orang bersama dengan keluarga mereka, juga sebagian besar
diantaranya yaitu abdi dalem kraton,
termasuk pasukan pengawal istana, para pandai emas, perunggu dan besi.
Dalam
menjalankan pemerintahan dikerajaan ini, Raja sebagai pemegang tertinggi
kekuasaan di kerajaan tersebut. Dalam pengambilan setiap keputusan adalah
setelah Raja mendengar pendapat dari pejabat yang hadir pada saat rapat
diputuskannya sebuah keputusan itu. Sebagai contoh pada prasasti Sarwadharma
tahun 1191 Saka yang berisi mengenai permohonan rakyat desa-desa diwilayah
Janggala dan Pangjalu agar mereka dapat dibebaskan dari pajak, sehingga mereka
tidak perlu mengeluarkan pungutan apapun. Sang Ramapati yang ememnag pada saat
itu adalah memikirkan kelestarian semua bangunan suci kemudian menghadap raja
dan memohon supaya permohonan itu dikabulkan.
Ada
juga dalam prasasti Baru pada tahun 952 Saka raja Airlangga diingatkan oleh
Samgat Landayan Rarai pu bama dan Samgat Lucem Rarai pu Manuritan akan janjinya
untuk menjadikan Desa Baru dan wilayahnya sebagai sebuah daerah sima, karena
jasa dari daerah Baru pada waktu raja dan pasukannya menginap didesa itu dalam
perjalanan untuk menyerang musuh. Kedua orang itu mengatakan hal demikian yaitu
bertujuan agar jangan sampai ada orang yang mengatakan kalau ada raja yang
ingkar janji.
Selain
pada saat Raja membuat keputusan setelah raja mendengar pendapat para pejabat
dai keluhan masyarakat, raja juga adakalanya mengeluarkan perintah atas
permohonan rakyat langsung yang tertuju padanya. Hal ini dijelaskan seperti
pada prasasti Kinewu tahun 829 Saka. Pada prasasti ini menyebutkan bahwa adanya
pemberian anugrah dari Raja kepada pejabat atau penduduk Desa yang masuk wilayah Randaman.
Mengenai
keputusan dan peintah Raja itu sendiri disampaikan secara tertulis. Yaitu bahwa
pada saat sebuah keputusan yang telah diputuskan dan diambil oleh Raja, maka
keputusan itu akan ditulis oleh Citralekha (juru tulis) yang bertugas menulis
keputusan/perintah raja itu diatas sebuah ripta (lontar) dan keputusan yang
ditulis citralekha itulah yang dibawa kedesa. Namun dalam kasusnya para
penduduk desa meminta agar keputusan yang ditulis diatas ripta tersebut
dipindah untuk ditulis diatas batu, alasannya tentu saja agar tahan lama hingga
akhir zaman. Lalu ada juga prasati Baru yang menyebutkan adanya prasati yang
tertuliskan lebih dari 400 nama orang yang memperoleh anugerah menyimpan
prasasti tembaga. Tentu ini tidak mungkin jika diperkirakan bahwa Raja
memerintahkan citralekha menulisnya dalam 400 batu yang tersebar kepada semua
orang.
Dari
contoh peristiwa tersebut, memang seharusnya jika Raja memperkerjakan ahli-ahli
yang terbaik dibidang. Ini tidak tertuju hanya pada citralekha saja tentunya.
Namun selain itu, seperti arsitek, pemahat, pemanah, penatah, juru sungging,
dalag, penari, pesinden dan para pandai (besi, tembaga, emas, perak) dan lain
lain. Sehingga ini menjadikan para putra mahkota dan para pejabat tinggi yang
berada diluar istana memiliki seniman-seniman diberbagai candi yang mereka
tinggalkan. Menurut berita Cina yang pernah didapatkan, seni arsitektur pada
masa Kerajaan itu adalah dianggap sebagai bangunan yang terbesar dan yang
terindah dalam kerajaan.
Sekarang
mengenai putra mahkota dan para pejabat lainnya, bahwa mereka itu memiliki
daerah lungguh diluar ibukota kerajaan. Namun tetap saja dalamlungguh itu masih
ada pejabat-pejabat didaerah atau wilayah tersebut.
Selain
ibukota, dan kota-kota yang merupakan pusat wilayah, dahulunya juga ada
kota-kota pelabuhan namun hanya ada satu yang biasa kita kenal sejak dizaman
Mataram Kuno yaitu pelabuhan bernama Hujung Galuh di Jawa Timur. Menurut
prasati Kamalgyan menjelaskan bahwa dulunya pelabuhan ini dikunjungi oleh
perahu-perahu dagang dari pulau-pulau yang lain. Anmun hingga kini belum
ditemukan adanya informasi mengenai bagaimana pengelolahan pelabuhan pada masa
Mataram Kuno.
Diluar
kota-kota itu juga terdapat desa-desa yang dimana desa-desa itu dipimpin oleh
pejabat-pejabat desa. Pada umumnya penduduk desa hidup dari bertani, berdagang
kecil-kecilan, kerajina rumah atau memburuh di istana. Ada juga pembagian
wilayah (watak) pada kerajaan ini yaitu memang saling berbatasan. Namun
meskipun demikian, setiap watak itu pasti memiliki jalan penghubung kecil yang
bertujuan memudahkan setiap warga desa dalam berinteraksi atau memerlukan
bantuan dari luar desanya sendiri.
Adanya
kelompok-kelompok pemukiman itu tidak hanya disebabkan dari faktor geografis
ataupun ekonomi namun muncul juga adanya sistem permukiman. Batasan sistem
pemukiman masyarakat memiliki pola yaitu yang disebut mancapat atau
mengelompok. Jadi sebuah watak akan menggerombol menjadi satu dengan wilayah
itu yang memiiki pusat.
1.)
Landasan
kosmogonis
Menurut seorang tokoh bernama R. Von Heine Gelden yang menyatakan pendapatnya yaitu bahwa Kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara mempunyai suatu landasan kosmogonis (kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia manusia ini). Disamping itu dapat kita ketahui mengenai ajaran di agama Hindu dan Buddha. Pada Hindu bahwa alam ini terdiri atas suatu benua pusat berbentuk lingkaran, sedangkan pada agama Buddha agak berbeda dengan yang ada di ajaran Hindu namun pada dasarnya sama yaitu sebagai pusat alam semesta yaitu tetap Gunung Meru. Ia dilingkari oleh tujuh lautan dan tujuh pegunungan.
Konsep kosmologis ini juga melandasi dari struktur kerajaan Mataram kuno. Terbukti dari adanya prasasti Canggal yang memberi penjelasan bahwa Raja Sanjaya sebagai Raghu telah menaklukkan raja-raja tetangga yang mengelilinginya. Sumber lain yaitu dari berita Cina dizaman dinasti T’ang yakni bahwa raja tinggal dikota She-p’o tetapi leluhurnya bernama Ki-yen memindahkan pusat kerajaannya ke Timur.
dari sumber-sumber prasasti yang hungga kini dapat dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa Kerajaan mataram Kuno terdiri atas daerah pusat kerajaan dan dalam prasasti itu dapat kita jumpai kurang lebih 100 daerah watak.
Menurut seorang tokoh bernama R. Von Heine Gelden yang menyatakan pendapatnya yaitu bahwa Kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara mempunyai suatu landasan kosmogonis (kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia manusia ini). Disamping itu dapat kita ketahui mengenai ajaran di agama Hindu dan Buddha. Pada Hindu bahwa alam ini terdiri atas suatu benua pusat berbentuk lingkaran, sedangkan pada agama Buddha agak berbeda dengan yang ada di ajaran Hindu namun pada dasarnya sama yaitu sebagai pusat alam semesta yaitu tetap Gunung Meru. Ia dilingkari oleh tujuh lautan dan tujuh pegunungan.
Konsep kosmologis ini juga melandasi dari struktur kerajaan Mataram kuno. Terbukti dari adanya prasasti Canggal yang memberi penjelasan bahwa Raja Sanjaya sebagai Raghu telah menaklukkan raja-raja tetangga yang mengelilinginya. Sumber lain yaitu dari berita Cina dizaman dinasti T’ang yakni bahwa raja tinggal dikota She-p’o tetapi leluhurnya bernama Ki-yen memindahkan pusat kerajaannya ke Timur.
dari sumber-sumber prasasti yang hungga kini dapat dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa Kerajaan mataram Kuno terdiri atas daerah pusat kerajaan dan dalam prasasti itu dapat kita jumpai kurang lebih 100 daerah watak.
2.)
Struktur
Birokrasi
Sumber yang bisa menjelaskan mengenai permasalahan ini ada pada naskah Ramayana Kakawin dimana pada naskah ini ada pembagian yang pertama mengenai tugas dan kewajiban seorang (ajaran Rama kepada Wibhisana) dan yang kedua yaitu mengenai perilaku seorang raju yang berpadu pada 8 dewa-dewa, yaitu Indra, Yama, Surya, Soma, Wayu, Kuwera, Waruna dan Agni.
Disamping itu juga telah adanya ketentuan tentang hak waris yaitu bahwa yang pertama-tama berhak untuk menggantikan duduk diatas takhta kerajaan ialah anak-anak raja yang lahir dari parameswari. ada juga dijumpai bahwa adanya 17 pejabat tinggi yang menerima perintah raja tanpa dibedakan kedudukannya seperti halnya pada prasasti-prasasti sejak zama raja Dharmawangsa Airlangga.
Dari sumber prasasti yang diperoleh mengenai birokrasi, ada sebuah penggambaran bahwa Raja didampingi oleh Pangeran, diantaranya putra mahkota dan seorang pejabat kehakiman. Menurut berita dari zaman rajakula T’ang pertama mengatakan bahwa pada saat itu telah ada tiga puluh dua pejabat tinggi yang menerangkan jika tiga orang anak raja bertindak sebagai raja dan ada pejabat yang bergelar samgat dan empat rakyan bersama-sama menyelenggarakan negara sebagaimana para menteri di Cina. Yang kedua ini lebih terperinci yaitu mengenai keterangan bahwa mereka itu tidak memperoleh gaji yang tetap, dapat diperkirakan jika mereka tinggal didaerah kekuasaan dan hidup dari penghasilan daerah tersebut.
Ada pula keterangan bahwa mangilala drawya haji itu ialah abdi kraton yang menikmati kekayaan raja atau menerima gaji tetap dari perbendaharaan kerajaan. Dalam menjalankan kekuasaan dari para pejabat tinggi dan pangeran atau putra mahkota, mereka lebih banyak pada tingkat dilingkungan ibukota kerajaan saja dan juga adanya pembagian dari kekuasaan ditingkat watak.
Dimasa itu Raja berhak melakukan pergeseran daerah pada dareah yang dikuasai pangeran dan pejabat tinggi termasuk juga diantaranya adanya mutasi jabatan pada pejabat ditingkat watak, namun masih ada pengecualian lagi. Pada zaman Rakai Kayuwangi dan Rakai Watukura sendiri telah terkumpul prasasti kurang lebih 30 macam jabatan. Meskipun telah banyak prasasti terkumpul sebagai sumber, masih belum ada sumber yang bisa menjelaskan fungsi masing-masing pejabat desa ini.
Sumber yang bisa menjelaskan mengenai permasalahan ini ada pada naskah Ramayana Kakawin dimana pada naskah ini ada pembagian yang pertama mengenai tugas dan kewajiban seorang (ajaran Rama kepada Wibhisana) dan yang kedua yaitu mengenai perilaku seorang raju yang berpadu pada 8 dewa-dewa, yaitu Indra, Yama, Surya, Soma, Wayu, Kuwera, Waruna dan Agni.
Disamping itu juga telah adanya ketentuan tentang hak waris yaitu bahwa yang pertama-tama berhak untuk menggantikan duduk diatas takhta kerajaan ialah anak-anak raja yang lahir dari parameswari. ada juga dijumpai bahwa adanya 17 pejabat tinggi yang menerima perintah raja tanpa dibedakan kedudukannya seperti halnya pada prasasti-prasasti sejak zama raja Dharmawangsa Airlangga.
Dari sumber prasasti yang diperoleh mengenai birokrasi, ada sebuah penggambaran bahwa Raja didampingi oleh Pangeran, diantaranya putra mahkota dan seorang pejabat kehakiman. Menurut berita dari zaman rajakula T’ang pertama mengatakan bahwa pada saat itu telah ada tiga puluh dua pejabat tinggi yang menerangkan jika tiga orang anak raja bertindak sebagai raja dan ada pejabat yang bergelar samgat dan empat rakyan bersama-sama menyelenggarakan negara sebagaimana para menteri di Cina. Yang kedua ini lebih terperinci yaitu mengenai keterangan bahwa mereka itu tidak memperoleh gaji yang tetap, dapat diperkirakan jika mereka tinggal didaerah kekuasaan dan hidup dari penghasilan daerah tersebut.
Ada pula keterangan bahwa mangilala drawya haji itu ialah abdi kraton yang menikmati kekayaan raja atau menerima gaji tetap dari perbendaharaan kerajaan. Dalam menjalankan kekuasaan dari para pejabat tinggi dan pangeran atau putra mahkota, mereka lebih banyak pada tingkat dilingkungan ibukota kerajaan saja dan juga adanya pembagian dari kekuasaan ditingkat watak.
Dimasa itu Raja berhak melakukan pergeseran daerah pada dareah yang dikuasai pangeran dan pejabat tinggi termasuk juga diantaranya adanya mutasi jabatan pada pejabat ditingkat watak, namun masih ada pengecualian lagi. Pada zaman Rakai Kayuwangi dan Rakai Watukura sendiri telah terkumpul prasasti kurang lebih 30 macam jabatan. Meskipun telah banyak prasasti terkumpul sebagai sumber, masih belum ada sumber yang bisa menjelaskan fungsi masing-masing pejabat desa ini.
3.)
Sumber
Penghasilan Kerajaan
Dalam berlangsungnya kehidupan sehari-hari dalam kerajaan ini, penghasilan yang didapat kerajaan salah satunya yaitu Penarikan Pajak. Pada penarikan pajak ini telah ada pejabat yang bertugas memungut pajak yang disebut pengurang. Selain penarikan pajak yang dilakukan oleh pengurang yang berupa pajak hasil bumi dan pajak tanah, masih ada lagi penarikan pajak lain yaitu rakyat masih harus membayar pajak perdagangan dan pajak usaha kerajinan. Namun dari penarikan pajak itu masih adanya ketentuan termasuk bagi para pengrajin, yakni pajaknya harus dibagi tiga.
Dalam berlangsungnya kehidupan sehari-hari dalam kerajaan ini, penghasilan yang didapat kerajaan salah satunya yaitu Penarikan Pajak. Pada penarikan pajak ini telah ada pejabat yang bertugas memungut pajak yang disebut pengurang. Selain penarikan pajak yang dilakukan oleh pengurang yang berupa pajak hasil bumi dan pajak tanah, masih ada lagi penarikan pajak lain yaitu rakyat masih harus membayar pajak perdagangan dan pajak usaha kerajinan. Namun dari penarikan pajak itu masih adanya ketentuan termasuk bagi para pengrajin, yakni pajaknya harus dibagi tiga.
Rakyat Mataram menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. Hal ini
mengakibatkan banyak kerajaan-kerajaan serta daerah lain yang saling mengekspor
dan mengimpor hasil pertaniannya.Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan
hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Yang
diperdagagkan pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-buahan, sirih
pinang, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat
perkakas dari besi dan tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan barang-barang
anyaman, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi,
kambing, itik, dan ayam serta telurnya juga di perjualbelikan.Usaha perdagangan
juga mulai mendapat perhatian ketika Raja Balitung berkuasa.Raja telah
memerintahkan untuk membuat pusat-pusat perdagangan serta penduduk disekitar
kanan-kiri aliran Sungai Bengawan Solo diperintahkan untuk menjamin kelancaran
arus lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.Sebagai imbalannya,
penduduk desa di kanan-kiri sungai tersebut dibebaskan dari pungutan pajak.
Lancarya pengangkutan perdagangan melalui sungai tersebut dengan sendirinya
akan menigkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.
Hukum
Sumber
penghasilan kerajaan dan pemerintahan daerah yang lain ialah denda-denda yang
dikenakan atas segala macam tindak pidana. Di dalam prasasti-prasasti disebut
sukha dukha, yang di dalam naskah-naskah hukum disebut hala hayu, denda-denda
itu di dalam prasasti juga disebut drawya haji. Hal ini tidak perlu
mengherankan karena dapat dibayangkan bahwa naskah-naskah hukum menjadi
pegangan para hakim itu tentu tidak ditulis di atas logam, karena akan menjadi
berat dan mahal.Beberapa naskah hukum jawa kuno yang sampai kepada kita
diketahui merupakan olahan dari naskah-naskah hukum di India. Antara lain kitab
Purwadhigama, Kuramanawa atau Siwasasana dan Swarajambhu. Menurut penelitian
van Naerssen memang ada petunjuk bahwa naskah-naskah hukum jawa kuno itu diulis
kembali pada waktu kemudian.
Karena dari
jaman Mataram tidak ada naskah hukum yang sampai kepada kita, maka gambaran
tentang administrasi kehakiman hanya dapat disuguhkan di sini berdasarkan
beberapa prasasti yang merupakan keputusan peradilan (Jaya Patra), dan
keterangan tentang sukha dukha yang terdapat dalam prasasti-prasasti yang lain.
Perkara yang dipermasalahkan di dalam prasasti Guntur dan Wurudu Kidul dapat
diselesaikan ditingkat watak oleh seorang pamgat. Sudah kita lihat bahwa yang
diperkarakan di dalam prasasti Guntur ialah masalah hutang piutang. Di dalam
surat keputusan itu disebutkan sebagai sebab yang pertama mengapa Sang Dharmma
dikalahkan perkaranya ialah karena ia tidak hadir di persidangan. Alasan yang
serupa juga digunakan terhadap Sang Pamariwa yang digugat oleh Sang Danadi.
Sebagai
alasan yang kedua mengapa Sang Dharmma dikalahkan perkaranya ialah karena
menurut kitab hukum hutang istri yang dibuat tanpa pengetahuan suaminya,
apalagi kalau mereka itu tidak mempunyai anak, tidak menjadi tanggung jawab si
suami. Pasal yang mengatakan demikian tidak terdapat di dalam naskah hukum yang
diterbitkan oleh Jonker, juga tidak ada di dalam bab VIII dari
Manawadharmmasastra. Hal yang diajukan di dalam prasasti Wurudu Kidul tidak
terdapat di dalam naskah hukum yang kita kenal. Mungkin tidak ada naskah hukum
yang mengatur masalah status kewarganegaraan seseorang. Maka dalam hal ini
keputusan diambil berdasarkan kesaksian kaum keluarga Sang Dhanadi dan penduduk
asli yang netral dari beberapa desa di luar desa tempat tinggal Sang Dhanadi.
Di dalam
naskah-naskah hukum memang ada juga dicantumkan syarat-syarat seorang saksi,
antara lain harus orang yang telah berkeluarga, yang banyak anaknya, penduduk
asli, dan orang-orang yang tidak berkepentingan di dalam perkaranya, baik dari
kasta ksatrya, waisya, maupun sudra. Seorang brahmana tidak dapat dijadikan
saksi, demikian pula raja sendiri, para tukang dan pandai, dan para pendeta
yang telah meninggalkan keduniaan.Bahwa pihak yang tidak hadir dalam persidangan
harus dinyatakan kalah perkaranya memang ditentukan di dalam naskah hukum.
Dalam kasus Sang Dharmma melawan Pu Tabwel sebenarnya ada ketentuan bahwa Sang
Dharmma dapat dikenai denda, karena menagih hutang tetapi tidak mau datang di
pengadilan untuk menjelaskan duduk perkaranya hutang piutang itu. Tetapi
ternyata di dalam prasasti Guntur itu tidak ada disebutkan hukuman bagi Sang
Dharmma.
KESENIAN
A.
Seni
Sastra
Dari
prasasti Wukujana jelas kiranya bahwa cerita Mahabarata dan Ramayana, dua
wiracarita yang amat terkenal di India, dalam permulaan abad X M, dan mungkin
juga dalam pertengahan abad IX M atau sebelumnya, sudah dikenal oleh nenek
moyang kita dalam bentuk gubahan dalam bahasa Jawa kuno. Akan tetapi, naskah
dari masa itu yang diketahui hanyalah Ramayana Kakawin. Hal itu gak disayangkan
karena Ramayana Kakawin ternyata amat indah bahasanya. Sang pujangga mampu
untuk menerapkan ilmu persajakan bahasa Sansekerta dalam bahasa Jawa kuno yang
masuk keluarga bahasa yang lain dari bahasa Sansekerta. Ia juga menguasai
bahasa Sansekerta dengan amat baik seperti yang ditunjukkan oleh Poerbatjaraka.
Hal itu antara lain terlihat dan kemampuan san pujangga untuk mengalihbahsakan
bagian-bagian yang amat sulit dipahami dari naskah sumbernya.
Dapat diketahui bahwa Ramayana
Kakawin sebagian besar bersumber dari naskah. Ravanavadha karangan pujangga
Bhatti yang berasal dari kira-kira tahun 500-650 M. Perbandingan yang amat
terperinci antara Ramayana Kakawin, Ravanavadha, dan Ramayana karya pujangga
Valmiki yang telah dilakukan oleh Hooykas mengungkapkan bahwa sampai dengan
sargga XVII penggubah Ramayana Kakawin mengikuti Ravanavadha, dengan
menyisipkan hal-hal yang dianggapnya perlu dan menurut seleranya sendiri,
seperti misalnya uraian tentang Nitisastra, uraian tentang suatu percandian
Siwa, Rama menerima dan membaca surat dari Sita. Uraian tentang Nitisastra itu
terdapat pada sargga III, bait ke -53-85, yang menggambarka waktu Rama menyuruh
adiknya, Bharata, yang menyusulnya ke hutan untuk memerintah di Ayodhya atas
namanya dengan membekalinya dengan ajaran-ajaran tentang tingkah laku dan
kewajiban seorang raja.
Kitab Ramayana Kakawin ialah
satu-satunya hasil susastra dari masa sebelum Pu Sindok yang sampai kepada
kita. Zoetmulder mengemukakan salah satu kemungkinan ialah tidak diturunkannya
sesuatu karya sastra karena tidak disukai oleh generasi yang berikut. Pada
waktu itu menurunkan karya sastra ialah satu-satunya cara untuk
memperbanyaknya. Karena karya sastra itu, seperti yang dapat disimpulkan dari
keterangan-keterangan di dalamnya, ditulis diatas bahan yang tidak tahan lama,
yaitu karas (= semacam batu tulis atau bambu yang dibelah(?)), karya sastra
yang tidak disukai lagi tentunya lama-lama hancur dan tidak ada kemungkinan
untuk sampai kepada kita. Seperti yang telah dikemukakan dimuka pusat kerajaan
Mataram mungkin sekali terpaksa dipindahkan ke Jawa Timur karena letusan Gunung
Merapi yang terhebat dalam sejarahnya. Dapat dibayangkan bahwa raja dan kaum
kerabatnya dan golongan elite yang lain mungkin mempunyai koleksi karya-karya
sastra mengungsi ke Jawa Timur tanpa sempat membawa koleksinya itu. Adapun
golongan elite yang tidak mengungsi karena daerahbya tidak terkena akibat
letusan itu mungkin mash menyimpan karya-karya sastra, tetapi kenyataannya di
Jawa tidak ada yang melestarikannya sesudah kerajaan-kerajaan Islam berdiri.
Boleh dikata hampir seluruh karya sastra Jawa kuno yang ada sekarang ini
ditemukan kembali di Bali dan Lombok, dan ditulis dengan huruf Bali, karena
orang Balilah yang melestarikannya.
Pertama-tama dapat disebut di sini
naskah Sang Hyang Kamahayanika yang memuat uraian tentang agama Buddha
Mahayana. Di dalam salah satu naskah disebut nama raja Pu Sindok, sekalipun
dalam bentuk yag agak rusak, yaitu Sri Isana Bhadrotunggadewa mpu Sindok.
Mungkin sekali Sang Hyang Kamahayanika dapat dikembalikan pada zaman wangsa
Sailendra, karena ternyata W.F. Stutterheim dan Noerhadi Magetsari telah
menggunakan isi kitab itu untuk menerangkan landasan keagamaan Candi Borobudur.
Adanya naskah yang menguraikan ajaran agama Buddha Mahayana dalam masa
pemerintahan Pu Sindok, yang isi prasasti-prasastinya dan namanya mengesankan
bahwa ia penganut agama Siwa, tidak perlu dipermasalahkan, karena sejak zaman
wangsa Sailendra, agama Hindu dan Buddha berkembang berdampingan secara damai.
Menyusul kemudian 9 parwwa dari
cerita Mahabharata dan 1 kanda dari epos Ramayana. Kesembilan parwwa itu ialah
Adiparwwa, yaitu parwwayang pertama, Sabhaparwwa, parwwa yang kedua,
Wirataparwwwa, parwwa yang keempat, Udyogaparwwa, parwwa yang kelima,
Bhismaparwwa, parwwa yang keenam, Asramawasana-parwwa, parwwa yang kelima
belas, Mosalaparwwa, parwwa yang keenam belas, Prasthanikaparwwa, parwwa yang
ketujuh belas, dan Swargarohana parwwa, parwwa yang terakhir. Pada akhir parwwa
yang kedelapan belas ini terdapat epilog yang menerangkan tentang kekeramatan
dan kekuatan menyucikan kitab Mahabharata, dan berkah yang diperoleh oleh orang
yang membacanya.
Kesembilan parwwa dan kitab
Uttarakanda itu tertulis dalam bentuk porsa. Rupanya si penurun memegang
aslinya, karena banyak kalimat-kalimat bahasa Sansekerta yang dikutib, kemudian
disalin ke dalam bahasa Jawa kuno tanpa tambahan-tambahan. Itu rup-rupanya
memang kehendak raja yang memerintahkan menyalin kitab-kitab itu, sebagaimana
dari permulan kitab Wirataparwa. Dari kitab Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa,
dan Uttarakanda diketahui bahwa raja yang memerintahkan menyalin kitab-kitab
itu (manjawaken) ialah raja Dharmawangsa Teguh. Dua buah kitab keagamaan,
kedua-duanya dalam bentuk prosa, mungkin berasal dari masa ini juga.
Kitab Arjunawiwaha (= perkawinan
Arjuna) yang merupakan petikan dari Wanaparwa, yaitu bagian yang menceritakan
ketika Sang Arjuna sedang bertapa di bukit Indrakila untuk memohon senjata yang
ampuh kepada para dewa untuk memenangkan peperangan yang akan terjadi antara
para Pandawa dan Kurawa, dan ia dimintai bantuan para dewa untuk membinasakan
para raksasa Niwatakawaca yang hendak menghancurkan Keindraan. Kitab
Arjunawiwaha itu boleh dikata merupakan permulaan sastra Kakawin dalam bahasa
Jawa kuno dalam periode Jawa Timur, dan merupakan gubahan Pu Kanwa sendiri.
Kitab ini digubah pada zaman pemerintahan raja Airlangga. Berdasarkan
keterangan pada akhir naskah Arjunawiwaha yang mengatakan bahwa Pu Kanwa yang
barupertama kali itu menghasilkan karya sastra, merasa gelisah karena harus
mempersiapkan iri utnuk suatu peperangan dengan mempersebahkan doa-doa.
B.
Seni Pertunjukan
Dalam
kehidupan sehari-hari rakyat tidak terlepas dari kebutuhan akan hiburan. Prasasti-prasasti
dan relief candi-candi, terutama candi Borobudur dan Prambanan, banyak
memberi data tentang bermaca-macam seni
pertunjukan. Pertam-tama dijumpai keterangan tentang pertunjukan wayang di
dalam prasasti Wukujana dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung.
Dalam prasasti itu bahwa pada upacara penetapan desa-desa Wukujana, Tumpamg,
dan Wuru Telu menjadi sima bagi sebuah biara di Dalinan telah diadakan beberapa
macam pertunjukan, antara lain wayang dengan dalangnya Si Galigi yang memainkan
lakon Bhima Kumara.
Selain
pertunjukan wayang kulit dan petilan wayang orang serta pembaca cerita
Ramayana, ada lagi pertunjukan lawak (mamirus dan mabanol). Pertunjukan lawak
itu dijumpai hampir di semua prasasti yang menyebut upacara penetapan sima sima
secara terperinci. Relief candi juga banyak melukiskan pelawak itu, yang
mungkin merupakan prototipe tokoh-tokoh panakawan pada relief candi-candi di
Jawa timur. Tarian-tarian juga sering dipertunjukkan pada upacara penetapan
sima.
Ada
tari-tarian yang yang dapat di tarikan oleh laki-laki dan perempuan,
orang-orang tuan dan pemuda-pemudi, dan ada juga tari-tarian khusus seperti
tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta. Ada juga tari topeng (matapukan),
tari-tarian itu biasanya diiringi dengan gamelan. Ternyata prasasti dan relief
candi menampilkan jenis alat gamelan yang terbatas, antara lain semacam gendang
(padahi), kecer atau simbal (regang), semacam gambang, saron, kenong, beberapa
macam bentuk kecapi (wina), seruling, dan gong.
Adanya
berbagai macam tarian yang diiringi oleh gamelan yang terbatas itu banyak
dijumpai di relief candi Prambanan dan Borobudur. Di antaranya dapat dilihat
tarian perang, seorang perempuan menari sendiri, adegan yang menggambarkan
semacam reog di Jawa Barat. Berbagai macam tontonan itu tentu saja tidak hanya
dipertunjukkan pada waktu ada upacara penetapan sima. Ada dalang, penabuh
gamelan, penari dan pelawak profesional, yang memperoleh sumber penghasilan
dari profesinya itu. Seperti telah dikatakan di atas para seniman itu masuk ke
dalam kelompok wargga kilalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar