Rabu, 04 Desember 2013

Sejarah Kerajaan Mataram Yang Berpusat Di Jawa Timur

A.   ASAL USUL WANGSA ISANA
            Istilah wangsa isana di jumpai di dalam prasasti pucangan di bagian bahasa sansekerta. Prasasti ini di dikeluarkan oleh raja airlangga pada tahun 963 saka.bagian yang berbahasa sansekerta itu mulai dengan penghormatan kepada brahmana,wisnu,dan siwa yang disusul dengan  penghormatan kepada raja airlangga.selanjutnya dimuat silsilah raja airlangga mulai dari raja isanatungga atau mpu sindok. Sri isanatungga mempunyai anak perempuan bernama sri isanatunggawijaya yang menikah dengan sri lokapala dan mempunyai anak bernama sri makutawangsawardhana,yang di dalam bait 9 sengaja disebut keturunan wangsa isana.
            Seperti yang dapat dilihat,dari silsilah tersebut maka pendiri wangsa ini adalah mpu sindok sri isanawikramma dharmotunggadewa. Mengingat kedudukannya di dalam  masa pemerintahan rakai layang dyah tlodhong dan rakai sumba dyah wawa,yaitu berturut-turut sebagai rakryan mapatih I halu dan rakryan I hino yang biasanya hanya dapat dijabat oleh kaum kerabat raja terdekat,tentulah ia masih anggota wangsa syailendra akan tetapi ,karena kerajaan mataram di Jawa Tengah mengalami kehancuran karena letusan gunung merapi yang dahsyat. Sehingga dalam anggapan para pujangga hal itu dianggap sebagai pralaya (kehancuran dunia pada akhir masa kaliyuga. Sesuai dengan kosmogonis kerajaan-kerajaan kuno haruslah di bangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru. Oleh karena itu mpu sindok yang membangun kerajaan di Jawa Timur,dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru yaitu wangsa isana. Kerajaan baru tersebut tetap bernama mataram. Sebagai mana ternyata dari prasasti paradah tahun 865 saka dan prasati anjukladang tahun 859 saka. Ibukotanya adalah tamwlang. Nama ini pada akhir prasati turyyyan tahun 851 saka. Ibukota ini hingga kini hanya di temui di dalam prasasti turryyan.sekarang mungkin di dekat jombang.
            Mpu sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M. Dari masa pemerintahannya di dapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian besar tertulis di batu. Sebagian prasasti mpu sindok berkenaan dengan penetapan sima di bagian suatu bangunan suci.yang di tetapkan menjadi sima atas perintah raja sendiri hanayalah desa linggasutan dan sawah kakatikan di anjukladang. Di dalam prasati linggasutan tahun 851 saka.dikatakan bahwa raja telah memerintah agar desa linggasutan yang termasuk wilayah rakryan hujung,dengan penghasilan pajak sebanyak 3,emas dan kewajiban kerja bakti seharga 2 masa setiap tahunnya,ditetapakan menjadi sima dan dipersembahkan kepada bhatara di walandit untuk penambah biaya pemujaan terhadap bhatara di walandit setiap tahunnya.
            Dan di prasasti anjukladang tahun 859 saka,dikatakan bahwa raja mpu sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan di anjukladang dijadiakan sima dan dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang prasada kabhaktian di sri jayamerta,dharma dari samgat anjukladang.dari sekian banyak bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti mpu sindok belum ada satu pun yang dapat dialokasiakan dengan tepat. Prasasti anjukladang menyebutkan adanya candi lor dan sekarang di dekat brebek ,kabupaten nganjuk ada reruntuhan candi,akan tetapi apakah memang candi lor itu yang dimaksud di dalam prasasti,belum dapat dipastikan.perpindahan pusat kerajaan tersebut ke Jawa Timur tidak perlu disertai penakklukan-penaklukan.karena hal ini dapat dipahami sejak rakai watukura dyah balitung kekuasaan kerajaan mataram telah meluas sampai ke jawa timur.

DHARMAWANGSA TEGUH
            Setelah pemerintahan mpu sindok ada masa gelap sampai masa pemerintahan dharmawangsa airlangga.dalam masa 70 tahum itu tercatat hanya tiga prasasti yang berangka tahun yang ditemukan yaitu prasasti hara-hara tahun 888 saka.prasasti kawambang kulwan tahum 913 saka.dan  prasati lucem tahun 934  saka.prasasti hara-hara berisi keterangan tentang pemberian tanah sima oleh mpu mano yang telah diwarisinya dari nenek moyangnya.yang terletak di desa hara-hara sebelah selatan perumahannya.
            Kepada mpungku di susuk pager dan mpungku di nairanjana yang bernama mpu buddhiwala.untuk digunakan sebagai tempat mendirikan bangunan suci.sebagai sumber pembiayaan tersebut dan biaya upacara di dalam bangunan suci. Ditebuslah sawah yang terletak di sebelah selatannya  seluas 3 tampah,yang telah di gadai oleh mpungku susuk pager dan mpungku di nairanjana.prasati kawambang kulwan dikatakan belum di terbitkan sebagaimana mestinya. Apa yang terdapat dalam transkipsi brandes sebagian kecil permulaannya saja.itu hanya di baca satu sisi,prasasti ini di tulis melingkar. Yang di dapat dari prasasti ini ialah memuat anugerah raja.kepada samgat kanuruhan pu burung berupa sima di desa kawambang kulwan.
            Agar sang pamgat kanuruhan mendirikan bangunan suci pemujaan dewa (an padamla parhyangan). Prasati ini berasal dari masa dharmawangsa teguh. Boleh dikatakan gelaplah masa antara mpu sindok dan dharwangsa teguh. Hanya dari prasasti pucangan diketahui bahwa mpu sindok mempunyai anak perempuan cantik karena kesucian hatinya.
            Yang memerintah sebagai ratu dengan nama sri isanatunggawijaya. Ia bersuamiakan raja srim lokapala,raja yang bijaksana,memesona dan termasyur karena kesucian budinya.mengenai masa pemerintahan sri isanatunggawijaya dan suaminya lokapala,demikian pula masa pemerintahan makutawangsawardana.tidak ada suatu sumber apa pun yang lain yang dapat member keterangan.hanya perlu dicatat di sini tentang nama makutawangsawardhana itu,yang secara harfiah berarti pelanjut wangsa yang bermahkota atau pelanjut wangsa raja.ditambah  dengan penekanan bahwa ia putra wangsa isana hal itu menunjukan bahwa bagaimanapun anak laki-laki dari permaisuri merupakan tahta yang ideal.        Dharmawangsa teguh yang begitu berambisi untuk meluaskan kekuasaanya sampai ke luar pulau jawa mengalami keruntuhan di tangan seorang raja bawahannya sendiri.prasasti pucangan baik yang berbahasa sansekerta maupun yang berbahasa kuno,memberitakan tentang keruntuhan itu.bagian yang berbahasa kuno lebih banyak member keterangan tentang akhir masa pemerintahan dharmawangsa teguh.

AIRLANGGA         
            Prasasti pucangan menyebutkan bahwa dharmawangsa airlangga dapat menyelamatkan diri dari serangan haji wurari dan masuk hutan dengan hanya diikuti seorang hambanya yang bernama narotttama.keterangan lebih terperinci terdapat dalam bagian yang berbahasa jawa kuno.dikatakan bahwa pada waktu terjadi serangan itu ia masih sangat muda baru berumur 16 tahun,dank arena itu belum banyak pengalaman dalam paperangan dan belum begitu mahir menggunakan alat senjata.akan tetapi karena ia penjelmaan wisnu ,ia tak dapat binasa oleh kekuasaan mahapralaya.ia kemudian tinggal di hutan lereng gunung,bertemankan para pertapa yang suci kelakuannya.diikuti seorang hambanya yang amat setia.
            Dialah abdi yang teramat teguh dalam kesetiaan mengikuti kemana raja ia pergi,ikut berpakaian kulit kayu,dan makan apa saja yang dimakan oleh para pertapa yang tinggal di hutan.selama di hutan airlangga tak pernah lupa pemujaan terhadap  dewa-dewa siang dan malam.karena itulah para dewa amat besar cinta kasihnya kepadanya,dan mengharapkan agar ia memperolah pohon keinginan untuk melindungi dunia.
            Menggantikan kedudukan leluhurnya. Mengenai masa pemerintahan dharmawangsa airlangga lebih banyak keterangan didapatkan karena banyak prasaati yang ditemukan kembali,meskipun seluruhnya  belum diterbitkan,selain itu prasasti pucangan cukup member banyak informasi peristiwa di masa pemerintahannya,seperti yang telah disebutkan din atas prasasti pucangan yang berbahasa sansekerta memuat silsilah airlangga.meskipun ada silsialah itu tentu ada juga pihak-pihak yang masih juga merasa tidak puas sebab tak mungkin rasanya semau keturunan mpu sindok binasa karena serangan haji wurari itu. Prasasti pucangan memberikan keterangan tentang penyerangan raja atas musuh-musuhnya mulai tahun 951 saka samapai tahun 959 saka,ada satu peristiwa yang rupanya tidak dicantumkan di dalam prasasti pucangan yaitu ditaklukannya dan dibunuhnya raja hansin,peristiwa itu diperingati dengan prasasti baru tahun 952 saka. Peristiwa penakklukan raja hansin itu tentulah terjadi sebelum tanggal 28 april 1030 M.
            Yang perlu dikemukakan di sini adalah kenyataan bahwa bahasa jawa kuno di dalam prasasti airlangga merupakan bahasaa prosa yang indah,berbeda dengan bahasa jawa pada prasasti sebelumnya,rupanya raja airlangga mempunyai seorang pujangga yang ulung. Ini kelihatan dari satu-satunya hasil karya sastra dari masa pemerintahan airlangga yang sampai kepada kita,yaitu kitab arjunawiwaha,kitab ini berisi gubahan dari episode mahabarata,yaitu pada waktu arjuna disuruh bertapa oleh saudaranya untuk mohon senjata yang ampuh member kemenagan kepada para pandawa di dalam perang bharata yang akan terjadi.bahasa dari kitab arjunawiwaha memang boleh dikatakan yang terindah di antara karya sastra kuno,di samping kitab Ramayana kakawin

B. KEADAAN MASYARAKAT
            Pada Masa Kerajaan Mataram yang telah dipindahkan dari Jawa Tengah ke daerah Jawa Timur ini masih ditemukan adanya pembagian stratifikasi sosial pada kehidupan masyarakatnya. Pembagian stratifikasi sosial ini didasarkan kepada kedudukan atau posisi masyarakat itu sendiri pada wilayah itu. Kedudukan ini berdasarkan didalam birokrasi maupun berdasarkan materiil (kekayaan).
Sedangkan keadaan atau kehidupan yang digambarkan pada masa itu yaitu didapat dari berita Cina bahwa dalam dalam kerajaan itu dikelilingi tembok dan didalamnya terdapat ibukota, yang pertama adalah didalam istana itu sendiri yaitu dapat digambarkan bahwa dalam istana itu adalah tempat berdiam dari seorang raja dan keluarganya yakni didampingi oleh permaisuri, selir-selir dan anak-anaknya yang masih belum dewasa dan ada juga para hamba istana (pelayan di istana), sedangkan yang kedua adalah kehidupan diluar istana yang merupakan kediaman putra mahkota beserta ketiga adiknya dan juga sebagai kediaman oleh pejabat-pejabat tinggi kerajaan. Pejabat-pejabat tinggi dikerajaan itu tak lain adalah seorang pejabat dari keagamaan dan kehakiman juga ada pejabat sipil yang bergelar sebagai rakai. Dan yang terakhir adalah yang masih berada dalam lingkungan tembok namu telah diluar wilayah istana adalah tempat bagi pejabat sipil yang lebih rendah yang bekisar 300 orang bersama dengan keluarga mereka, juga sebagian besar diantaranya yaitu abdi dalem kraton, termasuk pasukan pengawal istana, para pandai emas, perunggu dan besi.
Dalam menjalankan pemerintahan dikerajaan ini, Raja sebagai pemegang tertinggi kekuasaan di kerajaan tersebut. Dalam pengambilan setiap keputusan adalah setelah Raja mendengar pendapat dari pejabat yang hadir pada saat rapat diputuskannya sebuah keputusan itu. Sebagai contoh pada prasasti Sarwadharma tahun 1191 Saka yang berisi mengenai permohonan rakyat desa-desa diwilayah Janggala dan Pangjalu agar mereka dapat dibebaskan dari pajak, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan pungutan apapun. Sang Ramapati yang ememnag pada saat itu adalah memikirkan kelestarian semua bangunan suci kemudian menghadap raja dan memohon supaya permohonan itu dikabulkan.
Ada juga dalam prasasti Baru pada tahun 952 Saka raja Airlangga diingatkan oleh Samgat Landayan Rarai pu bama dan Samgat Lucem Rarai pu Manuritan akan janjinya untuk menjadikan Desa Baru dan wilayahnya sebagai sebuah daerah sima, karena jasa dari daerah Baru pada waktu raja dan pasukannya menginap didesa itu dalam perjalanan untuk menyerang musuh. Kedua orang itu mengatakan hal demikian yaitu bertujuan agar jangan sampai ada orang yang mengatakan kalau ada raja yang ingkar janji.
Selain pada saat Raja membuat keputusan setelah raja mendengar pendapat para pejabat dai keluhan masyarakat, raja juga adakalanya mengeluarkan perintah atas permohonan rakyat langsung yang tertuju padanya. Hal ini dijelaskan seperti pada prasasti Kinewu tahun 829 Saka. Pada prasasti ini menyebutkan bahwa adanya pemberian anugrah dari Raja kepada pejabat atau penduduk Desa  yang masuk wilayah Randaman.
Mengenai keputusan dan peintah Raja itu sendiri disampaikan secara tertulis. Yaitu bahwa pada saat sebuah keputusan yang telah diputuskan dan diambil oleh Raja, maka keputusan itu akan ditulis oleh Citralekha (juru tulis) yang bertugas menulis keputusan/perintah raja itu diatas sebuah ripta (lontar) dan keputusan yang ditulis citralekha itulah yang dibawa kedesa. Namun dalam kasusnya para penduduk desa meminta agar keputusan yang ditulis diatas ripta tersebut dipindah untuk ditulis diatas batu, alasannya tentu saja agar tahan lama hingga akhir zaman. Lalu ada juga prasati Baru yang menyebutkan adanya prasati yang tertuliskan lebih dari 400 nama orang yang memperoleh anugerah menyimpan prasasti tembaga. Tentu ini tidak mungkin jika diperkirakan bahwa Raja memerintahkan citralekha menulisnya dalam 400 batu yang tersebar kepada semua orang.
Dari contoh peristiwa tersebut, memang seharusnya jika Raja memperkerjakan ahli-ahli yang terbaik dibidang. Ini tidak tertuju hanya pada citralekha saja tentunya. Namun selain itu, seperti arsitek, pemahat, pemanah, penatah, juru sungging, dalag, penari, pesinden dan para pandai (besi, tembaga, emas, perak) dan lain lain. Sehingga ini menjadikan para putra mahkota dan para pejabat tinggi yang berada diluar istana memiliki seniman-seniman diberbagai candi yang mereka tinggalkan. Menurut berita Cina yang pernah didapatkan, seni arsitektur pada masa Kerajaan itu adalah dianggap sebagai bangunan yang terbesar dan yang terindah dalam kerajaan.
Sekarang mengenai putra mahkota dan para pejabat lainnya, bahwa mereka itu memiliki daerah lungguh diluar ibukota kerajaan. Namun tetap saja dalamlungguh itu masih ada pejabat-pejabat didaerah atau wilayah tersebut.
Selain ibukota, dan kota-kota yang merupakan pusat wilayah, dahulunya juga ada kota-kota pelabuhan namun hanya ada satu yang biasa kita kenal sejak dizaman Mataram Kuno yaitu pelabuhan bernama Hujung Galuh di Jawa Timur. Menurut prasati Kamalgyan menjelaskan bahwa dulunya pelabuhan ini dikunjungi oleh perahu-perahu dagang dari pulau-pulau yang lain. Anmun hingga kini belum ditemukan adanya informasi mengenai bagaimana pengelolahan pelabuhan pada masa Mataram Kuno.
Diluar kota-kota itu juga terdapat desa-desa yang dimana desa-desa itu dipimpin oleh pejabat-pejabat desa. Pada umumnya penduduk desa hidup dari bertani, berdagang kecil-kecilan, kerajina rumah atau memburuh di istana. Ada juga pembagian wilayah (watak) pada kerajaan ini yaitu memang saling berbatasan. Namun meskipun demikian, setiap watak itu pasti memiliki jalan penghubung kecil yang bertujuan memudahkan setiap warga desa dalam berinteraksi atau memerlukan bantuan dari luar desanya sendiri.
Adanya kelompok-kelompok pemukiman itu tidak hanya disebabkan dari faktor geografis ataupun ekonomi namun muncul juga adanya sistem permukiman. Batasan sistem pemukiman masyarakat memiliki pola yaitu yang disebut mancapat atau mengelompok. Jadi sebuah watak akan menggerombol menjadi satu dengan wilayah itu yang memiiki pusat.

1.)    Landasan kosmogonis
      Menurut seorang tokoh bernama R. Von Heine Gelden yang menyatakan pendapatnya yaitu bahwa Kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara mempunyai suatu landasan kosmogonis (kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia manusia ini). Disamping itu dapat kita ketahui mengenai ajaran di agama Hindu dan Buddha. Pada Hindu bahwa alam ini terdiri atas suatu benua pusat berbentuk lingkaran, sedangkan pada agama Buddha agak berbeda dengan yang ada di ajaran Hindu namun pada dasarnya sama yaitu sebagai pusat alam semesta yaitu tetap Gunung Meru. Ia dilingkari oleh tujuh lautan dan tujuh pegunungan.
      Konsep kosmologis ini juga melandasi dari struktur kerajaan Mataram kuno. Terbukti dari adanya prasasti Canggal yang memberi penjelasan bahwa Raja Sanjaya sebagai Raghu telah menaklukkan raja-raja tetangga yang mengelilinginya. Sumber lain yaitu dari berita Cina dizaman dinasti T’ang yakni bahwa raja tinggal dikota She-p’o tetapi leluhurnya bernama Ki-yen memindahkan pusat kerajaannya ke Timur.
      dari sumber-sumber prasasti yang hungga kini dapat dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa Kerajaan mataram Kuno terdiri atas daerah pusat kerajaan dan dalam prasasti itu dapat kita jumpai kurang lebih 100 daerah watak.

2.)    Struktur Birokrasi
      Sumber yang bisa menjelaskan mengenai permasalahan ini ada pada naskah Ramayana Kakawin dimana pada naskah ini ada pembagian yang pertama mengenai tugas dan kewajiban seorang (ajaran Rama kepada Wibhisana) dan yang kedua yaitu mengenai perilaku seorang raju yang berpadu pada 8 dewa-dewa, yaitu Indra, Yama, Surya, Soma, Wayu, Kuwera, Waruna dan Agni.
      Disamping itu juga telah adanya ketentuan tentang hak waris yaitu bahwa yang pertama-tama berhak untuk menggantikan duduk diatas takhta kerajaan ialah anak-anak raja yang lahir dari parameswari. ada juga dijumpai bahwa adanya 17 pejabat tinggi yang menerima perintah raja tanpa dibedakan kedudukannya seperti halnya pada prasasti-prasasti sejak zama raja Dharmawangsa Airlangga.
      Dari sumber prasasti yang diperoleh mengenai birokrasi, ada sebuah penggambaran bahwa Raja didampingi oleh Pangeran, diantaranya putra mahkota dan seorang pejabat kehakiman. Menurut berita dari zaman rajakula T’ang pertama mengatakan bahwa pada saat itu telah ada tiga puluh dua pejabat tinggi yang menerangkan jika tiga orang anak raja bertindak sebagai raja dan ada pejabat yang bergelar samgat dan empat rakyan bersama-sama menyelenggarakan negara sebagaimana para menteri di Cina. Yang kedua ini lebih terperinci yaitu mengenai keterangan bahwa mereka itu tidak memperoleh gaji yang tetap, dapat diperkirakan jika mereka tinggal didaerah kekuasaan dan hidup dari penghasilan daerah tersebut.
      Ada pula keterangan bahwa mangilala drawya haji itu ialah abdi kraton yang menikmati kekayaan raja atau menerima gaji tetap dari perbendaharaan kerajaan. Dalam menjalankan kekuasaan dari para pejabat tinggi dan pangeran atau putra mahkota, mereka lebih banyak pada tingkat dilingkungan ibukota kerajaan saja dan juga adanya pembagian dari kekuasaan ditingkat watak.
      Dimasa itu Raja berhak melakukan pergeseran daerah pada dareah yang dikuasai pangeran dan pejabat tinggi termasuk juga diantaranya adanya mutasi jabatan pada pejabat ditingkat watak, namun masih ada pengecualian lagi. Pada zaman Rakai Kayuwangi dan Rakai Watukura sendiri telah terkumpul prasasti kurang lebih 30 macam jabatan. Meskipun telah banyak prasasti terkumpul sebagai sumber, masih belum ada sumber yang bisa menjelaskan fungsi masing-masing pejabat desa ini.

3.)    Sumber Penghasilan Kerajaan
      Dalam berlangsungnya kehidupan sehari-hari dalam kerajaan ini, penghasilan yang didapat kerajaan salah satunya yaitu Penarikan Pajak. Pada penarikan pajak ini telah ada pejabat yang bertugas memungut pajak yang disebut pengurang. Selain penarikan pajak yang dilakukan oleh pengurang yang berupa pajak hasil bumi dan pajak tanah, masih ada lagi penarikan pajak lain yaitu rakyat masih harus membayar pajak perdagangan dan pajak usaha kerajinan. Namun dari penarikan pajak itu masih adanya ketentuan termasuk bagi para pengrajin, yakni pajaknya harus dibagi tiga.

Rakyat Mataram menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. Hal ini mengakibatkan banyak kerajaan-kerajaan serta daerah lain yang saling mengekspor dan mengimpor hasil pertaniannya.Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Yang diperdagagkan pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-buahan, sirih pinang, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan barang-barang anyaman, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam serta telurnya juga di perjualbelikan.Usaha perdagangan juga mulai mendapat perhatian ketika Raja Balitung berkuasa.Raja telah memerintahkan untuk membuat pusat-pusat perdagangan serta penduduk disekitar kanan-kiri aliran Sungai Bengawan Solo diperintahkan untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.Sebagai imbalannya, penduduk desa di kanan-kiri sungai tersebut dibebaskan dari pungutan pajak. Lancarya pengangkutan perdagangan melalui sungai tersebut dengan sendirinya akan menigkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.

Hukum
Sumber penghasilan kerajaan dan pemerintahan daerah yang lain ialah denda-denda yang dikenakan atas segala macam tindak pidana. Di dalam prasasti-prasasti disebut sukha dukha, yang di dalam naskah-naskah hukum disebut hala hayu, denda-denda itu di dalam prasasti juga disebut drawya haji. Hal ini tidak perlu mengherankan karena dapat dibayangkan bahwa naskah-naskah hukum menjadi pegangan para hakim itu tentu tidak ditulis di atas logam, karena akan menjadi berat dan mahal.Beberapa naskah hukum jawa kuno yang sampai kepada kita diketahui merupakan olahan dari naskah-naskah hukum di India. Antara lain kitab Purwadhigama, Kuramanawa atau Siwasasana dan Swarajambhu. Menurut penelitian van Naerssen memang ada petunjuk bahwa naskah-naskah hukum jawa kuno itu diulis kembali pada waktu kemudian.
Karena dari jaman Mataram tidak ada naskah hukum yang sampai kepada kita, maka gambaran tentang administrasi kehakiman hanya dapat disuguhkan di sini berdasarkan beberapa prasasti yang merupakan keputusan peradilan (Jaya Patra), dan keterangan tentang sukha dukha yang terdapat dalam prasasti-prasasti yang lain. Perkara yang dipermasalahkan di dalam prasasti Guntur dan Wurudu Kidul dapat diselesaikan ditingkat watak oleh seorang pamgat. Sudah kita lihat bahwa yang diperkarakan di dalam prasasti Guntur ialah masalah hutang piutang. Di dalam surat keputusan itu disebutkan sebagai sebab yang pertama mengapa Sang Dharmma dikalahkan perkaranya ialah karena ia tidak hadir di persidangan. Alasan yang serupa juga digunakan terhadap Sang Pamariwa yang digugat oleh Sang Danadi.
Sebagai alasan yang kedua mengapa Sang Dharmma dikalahkan perkaranya ialah karena menurut kitab hukum hutang istri yang dibuat tanpa pengetahuan suaminya, apalagi kalau mereka itu tidak mempunyai anak, tidak menjadi tanggung jawab si suami. Pasal yang mengatakan demikian tidak terdapat di dalam naskah hukum yang diterbitkan oleh Jonker, juga tidak ada di dalam bab VIII dari Manawadharmmasastra. Hal yang diajukan di dalam prasasti Wurudu Kidul tidak terdapat di dalam naskah hukum yang kita kenal. Mungkin tidak ada naskah hukum yang mengatur masalah status kewarganegaraan seseorang. Maka dalam hal ini keputusan diambil berdasarkan kesaksian kaum keluarga Sang Dhanadi dan penduduk asli yang netral dari beberapa desa di luar desa tempat tinggal Sang Dhanadi.
Di dalam naskah-naskah hukum memang ada juga dicantumkan syarat-syarat seorang saksi, antara lain harus orang yang telah berkeluarga, yang banyak anaknya, penduduk asli, dan orang-orang yang tidak berkepentingan di dalam perkaranya, baik dari kasta ksatrya, waisya, maupun sudra. Seorang brahmana tidak dapat dijadikan saksi, demikian pula raja sendiri, para tukang dan pandai, dan para pendeta yang telah meninggalkan keduniaan.Bahwa pihak yang tidak hadir dalam persidangan harus dinyatakan kalah perkaranya memang ditentukan di dalam naskah hukum. Dalam kasus Sang Dharmma melawan Pu Tabwel sebenarnya ada ketentuan bahwa Sang Dharmma dapat dikenai denda, karena menagih hutang tetapi tidak mau datang di pengadilan untuk menjelaskan duduk perkaranya hutang piutang itu. Tetapi ternyata di dalam prasasti Guntur itu tidak ada disebutkan hukuman bagi Sang Dharmma.

KESENIAN
A.    Seni  Sastra    
Dari prasasti Wukujana jelas kiranya bahwa cerita Mahabarata dan Ramayana, dua wiracarita yang amat terkenal di India, dalam permulaan abad X M, dan mungkin juga dalam pertengahan abad IX M atau sebelumnya, sudah dikenal oleh nenek moyang kita dalam bentuk gubahan dalam bahasa Jawa kuno. Akan tetapi, naskah dari masa itu yang diketahui hanyalah Ramayana Kakawin. Hal itu gak disayangkan karena Ramayana Kakawin ternyata amat indah bahasanya. Sang pujangga mampu untuk menerapkan ilmu persajakan bahasa Sansekerta dalam bahasa Jawa kuno yang masuk keluarga bahasa yang lain dari bahasa Sansekerta. Ia juga menguasai bahasa Sansekerta dengan amat baik seperti yang ditunjukkan oleh Poerbatjaraka. Hal itu antara lain terlihat dan kemampuan san pujangga untuk mengalihbahsakan bagian-bagian yang amat sulit dipahami dari naskah sumbernya.
            Dapat diketahui bahwa Ramayana Kakawin sebagian besar bersumber dari naskah. Ravanavadha karangan pujangga Bhatti yang berasal dari kira-kira tahun 500-650 M. Perbandingan yang amat terperinci antara Ramayana Kakawin, Ravanavadha, dan Ramayana karya pujangga Valmiki yang telah dilakukan oleh Hooykas mengungkapkan bahwa sampai dengan sargga XVII penggubah Ramayana Kakawin mengikuti Ravanavadha, dengan menyisipkan hal-hal yang dianggapnya perlu dan menurut seleranya sendiri, seperti misalnya uraian tentang Nitisastra, uraian tentang suatu percandian Siwa, Rama menerima dan membaca surat dari Sita. Uraian tentang Nitisastra itu terdapat pada sargga III, bait ke -53-85, yang menggambarka waktu Rama menyuruh adiknya, Bharata, yang menyusulnya ke hutan untuk memerintah di Ayodhya atas namanya dengan membekalinya dengan ajaran-ajaran tentang tingkah laku dan kewajiban seorang raja.
            Kitab Ramayana Kakawin ialah satu-satunya hasil susastra dari masa sebelum Pu Sindok yang sampai kepada kita. Zoetmulder mengemukakan salah satu kemungkinan ialah tidak diturunkannya sesuatu karya sastra karena tidak disukai oleh generasi yang berikut. Pada waktu itu menurunkan karya sastra ialah satu-satunya cara untuk memperbanyaknya. Karena karya sastra itu, seperti yang dapat disimpulkan dari keterangan-keterangan di dalamnya, ditulis diatas bahan yang tidak tahan lama, yaitu karas (= semacam batu tulis atau bambu yang dibelah(?)), karya sastra yang tidak disukai lagi tentunya lama-lama hancur dan tidak ada kemungkinan untuk sampai kepada kita. Seperti yang telah dikemukakan dimuka pusat kerajaan Mataram mungkin sekali terpaksa dipindahkan ke Jawa Timur karena letusan Gunung Merapi yang terhebat dalam sejarahnya. Dapat dibayangkan bahwa raja dan kaum kerabatnya dan golongan elite yang lain mungkin mempunyai koleksi karya-karya sastra mengungsi ke Jawa Timur tanpa sempat membawa koleksinya itu. Adapun golongan elite yang tidak mengungsi karena daerahbya tidak terkena akibat letusan itu mungkin mash menyimpan karya-karya sastra, tetapi kenyataannya di Jawa tidak ada yang melestarikannya sesudah kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Boleh dikata hampir seluruh karya sastra Jawa kuno yang ada sekarang ini ditemukan kembali di Bali dan Lombok, dan ditulis dengan huruf Bali, karena orang Balilah yang melestarikannya.
            Pertama-tama dapat disebut di sini naskah Sang Hyang Kamahayanika yang memuat uraian tentang agama Buddha Mahayana. Di dalam salah satu naskah disebut nama raja Pu Sindok, sekalipun dalam bentuk yag agak rusak, yaitu Sri Isana Bhadrotunggadewa mpu Sindok. Mungkin sekali Sang Hyang Kamahayanika dapat dikembalikan pada zaman wangsa Sailendra, karena ternyata W.F. Stutterheim dan Noerhadi Magetsari telah menggunakan isi kitab itu untuk menerangkan landasan keagamaan Candi Borobudur. Adanya naskah yang menguraikan ajaran agama Buddha Mahayana dalam masa pemerintahan Pu Sindok, yang isi prasasti-prasastinya dan namanya mengesankan bahwa ia penganut agama Siwa, tidak perlu dipermasalahkan, karena sejak zaman wangsa Sailendra, agama Hindu dan Buddha berkembang berdampingan secara damai.
            Menyusul kemudian 9 parwwa dari cerita Mahabharata dan 1 kanda dari epos Ramayana. Kesembilan parwwa itu ialah Adiparwwa, yaitu parwwayang pertama, Sabhaparwwa, parwwa yang kedua, Wirataparwwwa, parwwa yang keempat, Udyogaparwwa, parwwa yang kelima, Bhismaparwwa, parwwa yang keenam, Asramawasana-parwwa, parwwa yang kelima belas, Mosalaparwwa, parwwa yang keenam belas, Prasthanikaparwwa, parwwa yang ketujuh belas, dan Swargarohana parwwa, parwwa yang terakhir. Pada akhir parwwa yang kedelapan belas ini terdapat epilog yang menerangkan tentang kekeramatan dan kekuatan menyucikan kitab Mahabharata, dan berkah yang diperoleh oleh orang yang membacanya.
            Kesembilan parwwa dan kitab Uttarakanda itu tertulis dalam bentuk porsa. Rupanya si penurun memegang aslinya, karena banyak kalimat-kalimat bahasa Sansekerta yang dikutib, kemudian disalin ke dalam bahasa Jawa kuno tanpa tambahan-tambahan. Itu rup-rupanya memang kehendak raja yang memerintahkan menyalin kitab-kitab itu, sebagaimana dari permulan kitab Wirataparwa. Dari kitab Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa, dan Uttarakanda diketahui bahwa raja yang memerintahkan menyalin kitab-kitab itu (manjawaken) ialah raja Dharmawangsa Teguh. Dua buah kitab keagamaan, kedua-duanya dalam bentuk prosa, mungkin berasal dari masa ini juga.
            Kitab Arjunawiwaha (= perkawinan Arjuna) yang merupakan petikan dari Wanaparwa, yaitu bagian yang menceritakan ketika Sang Arjuna sedang bertapa di bukit Indrakila untuk memohon senjata yang ampuh kepada para dewa untuk memenangkan peperangan yang akan terjadi antara para Pandawa dan Kurawa, dan ia dimintai bantuan para dewa untuk membinasakan para raksasa Niwatakawaca yang hendak menghancurkan Keindraan. Kitab Arjunawiwaha itu boleh dikata merupakan permulaan sastra Kakawin dalam bahasa Jawa kuno dalam periode Jawa Timur, dan merupakan gubahan Pu Kanwa sendiri. Kitab ini digubah pada zaman pemerintahan raja Airlangga. Berdasarkan keterangan pada akhir naskah Arjunawiwaha yang mengatakan bahwa Pu Kanwa yang barupertama kali itu menghasilkan karya sastra, merasa gelisah karena harus mempersiapkan iri utnuk suatu peperangan dengan mempersebahkan doa-doa.

B.     Seni Pertunjukan
Dalam kehidupan sehari-hari rakyat tidak terlepas dari kebutuhan akan hiburan. Prasasti-prasasti dan relief candi-candi, terutama candi Borobudur dan Prambanan, banyak memberi  data tentang bermaca-macam seni pertunjukan. Pertam-tama dijumpai keterangan tentang pertunjukan wayang di dalam prasasti Wukujana dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung. Dalam prasasti itu bahwa pada upacara penetapan desa-desa Wukujana, Tumpamg, dan Wuru Telu menjadi sima bagi sebuah biara di Dalinan telah diadakan beberapa macam pertunjukan, antara lain wayang dengan dalangnya Si Galigi yang memainkan lakon Bhima Kumara.
Selain pertunjukan wayang kulit dan petilan wayang orang serta pembaca cerita Ramayana, ada lagi pertunjukan lawak (mamirus dan mabanol). Pertunjukan lawak itu dijumpai hampir di semua prasasti yang menyebut upacara penetapan sima sima secara terperinci. Relief candi juga banyak melukiskan pelawak itu, yang mungkin merupakan prototipe tokoh-tokoh panakawan pada relief candi-candi di Jawa timur. Tarian-tarian juga sering dipertunjukkan pada upacara penetapan sima.
Ada tari-tarian yang yang dapat di tarikan oleh laki-laki dan perempuan, orang-orang tuan dan pemuda-pemudi, dan ada juga tari-tarian khusus seperti tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta. Ada juga tari topeng (matapukan), tari-tarian itu biasanya diiringi dengan gamelan. Ternyata prasasti dan relief candi menampilkan jenis alat gamelan yang terbatas, antara lain semacam gendang (padahi), kecer atau simbal (regang), semacam gambang, saron, kenong, beberapa macam bentuk kecapi (wina), seruling, dan gong.

Adanya berbagai macam tarian yang diiringi oleh gamelan yang terbatas itu banyak dijumpai di relief candi Prambanan dan Borobudur. Di antaranya dapat dilihat tarian perang, seorang perempuan menari sendiri, adegan yang menggambarkan semacam reog di Jawa Barat. Berbagai macam tontonan itu tentu saja tidak hanya dipertunjukkan pada waktu ada upacara penetapan sima. Ada dalang, penabuh gamelan, penari dan pelawak profesional, yang memperoleh sumber penghasilan dari profesinya itu. Seperti telah dikatakan di atas para seniman itu masuk ke dalam kelompok wargga kilalan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar