Jumat, 20 Desember 2013

PENYEBARAN AGAMA ISLAM YANG BERDAMPAK PADA PERKEMBANGAN KERAJAAN HINDU-BUDDHA DI JAWA


1.    PENDAHULUAN
1.1 L    1.1 Latar Belakang
Agama Islam adalah agama yang baru saja berkembang di Nusantara dibandingkan agama sebelum-sebelumnya seperti Hindu-Buddha. Dalam perkembangannya, ajaran pada Agama Islam memiliki pengaruh dan peran penting pada agama lain sebelumnya dan berdampak pada perubahan baik dari segi fisik maupun yang non-fisik yakni pada kerajaan yang memegang aliran Hindu-Buddha, seperti pada sebuah buku berjudul Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara karangan Slamet Muljana ada kata menarik yang ditulis disana yakni yang berbunyi “Kisah Kehancuran Majapahit, yang diiringi oleh tumbuhnya negara-negara Islam di Bumi Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang menarik untuk diungkit kembali.”
Dari segi fisik saja, dapat dilihat dari beberapa dampak yang ditimbulkan akibat penyebaran Islam terhadap ke eksistensian kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang telah sekian lama berdiri dan berkembang. Agama Islam tersebar bahkan diseluruh Nusantara, terutama di Pulau Jawa yang pada saat itu mayoritas Kerajaan aliran agama Hindu-Buddha ada disana. Hal ini berpengaruh penting terhadap kepercayaan yang nantinya dianut oleh sebuah masyarakat disuatu kerajaan itu, belum lagi masih adanya perebutan wilayah kekuasaan antara kedua belah pihak agar daerah yang berhasil dikuasai dapat dengan mudah dalam menyebarkan agama masing-masing.
Penyebaran agama Islam di Nusantara yang berdampak pada perkembangan Kerajaan Hindu-Buddha ini penting adanya, yakni untuk mengkaji apa saja yang menjadi penyebab dan alasan bagaimana proses penyebaran agama Islam itu sendiri sehingga bisa berdampak pada suatu Kerajaan beraliran agama Hindu-Buddha. Bahkan dampak dari penyebaran agama Islam ini sendiri menjadikan kerajaan Hindu-Buddha sebelumnya mengalami masa keruntuhan dan penyempitan daerah kekuasaan akibat meluasnya ajaran Agama Islam terutama di Pulau Jawa. Dapat diambil contoh dari Kerajaan Hindu-Buddha di Pulau Jawa yang paling akhir, yaitu Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan salah satu sebabnya selain perebutan kekuasaan oleh pihak keluarga, juga karena adanya serangan dari luar yang berasal dari orang Kerajaan Demak. Kerajaan Demak sendiri adalah Kerajaan Islam pertama yang berdiri ditanah Jawa. Untuk bisa menyebarkan kekuasaan, maka harus adanya perluasan kekuasaan maupun ajaran yang nantinya akan diajarkan.
Disini bisa didapatkan informasi kepada pembaca, tidak hanya penulis bahwa Agama Islam memiliki pengaruh kuat, terbukti dari adanya pengaruh yang ditimbulkan pada Kerajaan Hindu-Buddha. Dapat juga dikaji bahwa dalam proses penyebaran Islam ini lebih mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat sehingga semakin memudahkan agama Islam dalam mempengaruhi perkembangan ajaran agama Hindu-Buddha. Di pulau Jawa sendiri dapat kita ambil contoh penyebaran agama Islam, tokoh yang paling berpengaruh yakni Wali Songo. Karena pada saat Wali Songo menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, mereka juga melakukan akulturasi budaya antara ajaran Islam dengan Hindu-Buddha maupun kepercayaan lain sebelumnya. Dapat dilihat dari banyaknya peninggalan pada zaman penyebaran agama Islam yang medapat pengaruh dari kedua aliran agama tersebut. Penyebaran agama Islam tidak hanya memiliki peran sendiri dalam penyebarannya, namun juga berperan terhadap akibat dari keruntuhan Kerajaan Hindu-Buddha.
Dalam penulisan karya ilmiah ini, tentu didapatkan referensi yang menjadi sumber penunjang dan bukti utama dari dimuatkannya informasi mengenai subbab ini, diantaranya yaitu dari buku Sejarah Nasional Indonesia jilid II & Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono dan Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara oleh Slamet Muljana.

1.2 Rumusan Masalah
    
Adapun rumusan masalah dijabarkan sebagai berikut.
1.    Bagaimana Awal Penyebaran Agama Islam di Nusantara?
2.    Bagaimana Pengaruh Agama Islam terhadap Kerajaan Hindu-     Buddha terutama di Jawa?
3.    Bagaimana dampak pada Kerajaan Hindu-Buddha setelah adanya pengaruh Agama Islam?

1.3 Tujuan
      
Adapun tujuan diuraikan sebagai berikut.
1.     Untuk  mendeskripsikan Awal Penyebaran Agama Islam di Nusantara.
2.     Untuk mendeskripsikan Pengaruh Agama Islam terhadap Kerajaan Hindu       Buddha terutama di Jawa.
3.    Untuk mendeskripsikan dampak pada Kerajaan Hindu-Buddha setelah adanya pengaruh Agama Islam

2.    PPEMBAHASAN
2.1 Awal Penyebaran Agama Islam di Nusantara
           
Agama Islam datang dan disebarkan diwilayah Nusantara tentulah tidak dalam waktu yang bersamaan. Alasan logisnya yakni letak Indonesia yang sebegitu luas mulai dari Sabang hingga Merauke. Namun Agama Islam sendiri pertama hadir dan mulai menyebar yaitu di Pulau Sumatera, ini karena Sumatera berada pada letak strategis yaitu jalur perdagangan Internasional.
            Sumatera adalah tempat singgah sebagian besar pedaganng dari Cina, India dan Arab. Kedatangan orang Arab yang mayoritas beragama Islam inilah menjadi alasan utama mulai berkembangnya agama Islam di Pulau itu.
            Sebelum Islam dapat berkembang luas ditanah Sumatera, tentunya harus dengan perjuangan. Dikala itu, Sumatera diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya yang sebagian besar beragamakan Buddha sebagai pedoman bahkan dikerajaan itu sendiri banyak orang yang berpegang teguh pada agama Buddha. Ini terbukti karena banyaknya pendeta Buddha yang belajar agama Buddha seperti halnya yang diajarkan di India, seperti yang diketahui bahwa agama Buddha adalah agama yang berasal dari daratan India. Bila di Kerajaan Sriwijaya sendiri para pendeta Buddha sudah belajar layaknya di India, dapat dipastikan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan aliran Budhisme yang teguh dan mendapat julukan sebagai pusat pengajaran agama Buddha Internasional.
            Namun disamping Kerajaan Sriwijaya terkenal akan adanya pengaruh Buddha yang kuat, ternyata masih ada pengaruh campur tangan dari ajaran Hidu sendiri. Diperkirakan bahwa agama Hindu menunjukkan perkembang pada kira-kira abad VIII-IX M yakni dari temuan arca Ganesa batu berukuran besar yang ditemukan di Kota Palembang. Perkembangan agama Hindu inipun terus berlanjut sampai kira-kira abad XI-XII M tampak pada situs Bumiayu, Kabupaten Muara Enim berupa reruntuhan kompleks percandian.
            Di pulau Sumatera sendiri, kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan paling besar dan paling berkuasa di tanah sumatera. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono menerangkan bahwasanya Kerajaan Sriwijiya juga telah berhasil menaklukkan Malayu sekitar tahun 685, dan dalam jangka waktu yang tidak lama sudah tidak dijumpai nama Malayu disebutkan dalam beberapa sumber-sumber sejarah. Ini berarti Kerajaan Sriwijaya berniat untuk menyingkirkan semua kerajaan yang berada disekitar Sumatera agar bisa menguasai sumatera seorang diri tanpa adanya pesaing. Tentunya dengan alasan bahwa Malayu sendiri berlokasikan dipantai timur Sumatera dekat Selat Malaka, sehingga memegang peran penting dalam hal pelayaran dan perdagangan antara lain yaitu India dan Cina dengan daerah-daerah di Indonesia bagian timur.
            Selang dari tahun tersebut, sudah tidak ditemukan lagi keterangan lebih lanjut. Barulah pada tahun 1328-1350 didapat beberapa kabar tentang daerah Malayu. Rupa-rupanya ini Malayu muncul kembali sebagai daerah yang menguasai Sumatera sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanagara sudah tidak terdengar lagi beritanya.
            Secara singkat Kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan letak strategisnya yang membuatnya makmur dengan ditunjang ajaran Budhisme yang teguh nyatanya memiliki kemunduran kekuasaan hingga wilayah. Dalam hal ini bnayak faktor yang mempengaruhi, diantara penjelasan yaitu ada pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III, Bab I yeng menjelaskan secara singkat tentang situasi dan Kondisi politik pada masa kedatangan Islam disana. Secara garis besarnya mulai munculnya orang muslim yaitu ketika terjadinya pemberontakan petani-petani Cina Selatan terhadap kekuasaan T’Ang masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889) dimana banyak orang muslim yang terlibat dan dibunuh. Sedangkan pada kenyataan, orang-orang muslim pendatang itu tinggal dan membentuk perkampungan di Kedah, salah satu daerah kekuasaan Sriwijaya harusnya mendapat perlindungan dari Sriwijaya. Maka inilah titik dimana mulai berkobarnya orang muslim dalam keikiut campurnya dibidang politik.
            Jika pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Sriwijaya menunjukkan kemajuannya pada ekonomi dan politik, ternyata lain halnya pada abad ke-13 dimana Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Tanda-tanda kemunduran Sriwijaya ditunjukkan pertama kali dibidang perdagangan, bahwasanya persediaan barang-barang dari Sriwijaya yang mahal karena negeri itu tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam, selain itu Cina mendapatkan berita bahwa Jawa lebih kaya daripada Sriwijaya dan yang terakhir adalah munculnya kekhalifahan Ta-shih. Dilanjut pada kemunduran Sriwijaya dibidang perdagangan serta politik semakin dipercepat dari adanya kerajaan Singhasari di Jawa yang mengadakan ekspedisi Pamalayu.
            Sejalan dari semua kelemahan yang dialami oleh Sriwijaya, pedagang-pedagang muslim bersama para mubaligh (orang yang telah cukup umur) adalah yang paling berkesempatan mendapat untung dagang dan politik dan mereka juga yang menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul di sumatera  hingga muncullah pernyataan sebagai kerajaan yang bercorak islam pertama di sumatera yaitu Samudera Pasai yang letaknya dipesisir timur laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara saat ini. Diperkirakan munculnya daerah ini pada abad ke-13.
            Seiring waktu, Kerajaan Samudera Pasai berkembang baik dibidang perdagangan, pelayaran maupun politik. Hubungan dengan Malaka yang sempat terputus dimasa Sriwijaya pun mulai terbuka dan ramai sehingga pada abad ke-14 muncul masyarakat muslim disana. Perkembangan yang drastis itu terus berjalan, hingga sekitar pada abad ke-15 telah muncul suatu pusat kerajaan Islam. Pengaruh penting dari hal tersebut karena keruntuhan Sriwijaya.
            Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515) yang terdapat dibuku Sejarah Nasional Indonesia jilid III, yang intinya bahwa didareah pesisir Sumatera Utara dan timur sampai Palembang sudah banyak masyarakat bahakan kerajaan-kerajaan Islam. Namun masih juga ada kerajaan-kerajaan yang masih belum Islam, sehingga dilakukanlah Islamisasi kedaerah tersebut termasuk kedaerah pedalaman Aceh dan Sumatera Barat, terutama mulai terjadi ekspansi politik oleh Aceh pada abad-abad XVI-XVII
2.2 Pengaruh Agama Islam terhadap Kerajaan Hindu Buddha terutama di Jawa.
            Kerajaan dengan beraliran agama Hindu-Buddha yang terakhir yang berada di Jawa yakni Kerajaan Majapahit. Pada awalnya Kerajaan Majapahit ini memang mengalami keemasan, alasan utama yaitu Majapahit kala itu dikuasai oleh dua orang yang berpengaruh. Tak lain yaitu Rajanya yang bijaksana dan cakap dalam bidang politik bernama Hayam Wuruk dengan dibantu oleh Patihnya yang bernama Patih Gajah Mada. Dari keduanya, didapat keadaan Majapahit yang mengalami masa kemakmuran dan kesejahteraan.
            Namun keadaan yang sedemikian makmurnya yang terjadi di Kerajaan Majapahit yaitu ketika kedua pemimpin yang begitu pengaruh itu wafat. Patih Gajah Mada yang awalnya meninggal karena sakit keras, akhirnya meninggal pada tahun 1364 lalu disusul oleh sang Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kematian kedua pemimpin ini mungkin menjadikan Majapahit belum bisa mengimbangi kejayaan Majapahit pada saat kepemimpinan Raja dengan Patihnya itu.
            Setelahnya sang raja Hayam Wuruk meninggalpun, masalah kekuasaan masih bergola di Majapahit sendiri. Ini disebabkan karena adanya perebutan kekuasaan. Pengganti Hayam Wuruk yang menduduki takhta yaitu menantunya bernama Wikramawarddhana yang menikah dengan putri mahkotanya Kusumawarddhani. Inilah yang menjadi terjadi persaingan sengit dengan putra mahkota Hayam Wuruk Bhre Wirabumi.
            Pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono dijelaskan bahwa meski pemulihan keadaan kerajaan telah terjadi namun perang saudara memperebutkan kekuasaan masih saja terjadi. Bahkan pada pemerintahan Kertajaya, beliau telah memberi daerah kadiri kepada Bhre Daha III dan Kahuripan kepada suaminya pada saat Kertajaya wafat pada tahun 1451 kekacauan terutama dibidang politik masih saja terjadi dan timbul lagi.
            Awal agama Islam berkembang ditanah Jawa sebenarnya yaitu sejak Jayanegara yang menggantikan Kertarajasa telah terjadi begitu banyak pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang disebutkan pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III yaitu diantaranya Pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295, kemudian Sadeng dan Keta yang baru berhasil dihentikan dan diatasi pada tahun 1331, itu juga berkat usaha dari Gajah Mada yang memberikan peluang bagi proses kedatangan Islam dan perkembangan masyarakat muslim di Pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Majapahit.
                        Didapatkan juga informasi mengenai kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Jawa akibat pengaruh agama Islam yaitu dari seorang tokoh bernama Tome Pires yang menceritakan bahwa dari hasil perjalanannya, ia menemukan tentang masih adanya kerajaan-kerajaan Indonesia-Hindu didaerah Jawa Timur maupun Jawa Barat, meskipun pada saat itu sudah adanya kerajaan bercorak Islam yaitu Demak. Ini dimungkinkan pada saat islam pertama dibawa ke Jawa melalui berdirinya kerajaan pertama bercorak islam di Jawa yaitu Demak, Jawa masih belum sepenuhnya menerima dan mengamalkan ajaran islam. Dimungkinkan disini proses Islamisasi ditanah Jawa masih belum merata dalam penyebarannya. Terbukti yaitu bahwa dibeberapa daerah pedalam khususnya wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur masyarakatnya masih mempertahankan dan menjaga tradisi agama Hindu-Buddha nya.
            Tidak hanya pengaruh secara agama, pengaruh politik atas datangnya ajaran agama Islam di Jawa dapat dilihat pada kerajaan-kerajaan kecil Hindu-Buddha yang masih ada di Jawa meskipun kerajaan Indonesi-Hindu pada tahun 1526 sudah banyak yang runtuh. Diantara kerajaan-kerajaan kecil yang belum terislamkan itu antara lain yaitu Kerajaan Pasuruan, Panarukan yang memiliki pusat kota di Balambangan. Akibat kian banyak ancaman yang didapat oleh pengaruh Kerajaan Islam, maka Balambangan mulai meminta bantuan kepada Portugis dalam menghadapi sernagan yang akan dilancarkan oleh Demak dalam memperluas daerah kekuasaannya.
            Peristiwa ini tentunya menjadi timbal balik antara Kerajaan Indonesia-Hindu yang masih ada di Jawa dengan pihak Portugis. Karena memang hal itu dilakukan untuk menangani kericuhan yang terjadi antara lain Pasuruan yang sudah tunduk dibawah kekuasaan kerajaan Islam pada tahun 1546 yang pada waktu penyerangan tersebut dipimpin oleh Trenggono.
            Kerja sama yang dilakukan Balambangan dengan Portugis ini terjadi ketika Portugis sedang menguasai Malaka pada tahun 1511. Apalagi pada saat itu memang Portugis memerlukan bahan-bahan yang dibutuhkan dari Balambangan. Sehingga antara Balambangan dan Portugis terjadi kesinambungan kesepakatan antara kedua belah pihak. Kerja sama ini pun juga berbuah, karena diketahui bahwa Balambangan mampu bertahan hingga abad ke-17 yaitu pada saat serangan-serangan Sultan Agung dan Amangkurat.
            Dapat diketahui dari menyebarnya agama islam yang begitu cepat yaitu karena pada proses penyebarannya,Islam melakukannya dengan cara damai yaitu melalui perdangan dan dakwah oleh para mubalig (orang alim). Lalu apabila suatu kerajaan mengalami perebutan kekuasaan dibidang politik yang menjadikan kerajaan Hindu-Buddha itu melemah maka agama islamlah yang dijadikan alat politik para bangsawan maupun raja-raja yang menghendaki suatu kekuasaan tertentu dalam kerajaan itu. Dapat dijadikan contoh yaitu pada Kerajaan Majapahit sendiri yang semakin mengalami kemunduran, yang akhirnya disebutkan dalam berita tradisi mengalami keruntuhan atas serangan dari Kerajaan Islam Demak. Dijelaskan pula disana pemimpin dari serangan itu adalah Adipati Unus, anak dari raden Patah. Alasan serangan tersebut tak lain adalah pembalasan dendam oleh leluhur Adipati Unus yang dibunuh oleh leluhur Raja Majapahit pada saat itu yang bernama Kertajaya.
2.3 Dampak pada Kerajaan Hindu-Buddha setelah adanya pengaruh Agama Islam
            Masuknya ajaran agama di Pulau Jawa yang awalnya telah tersebar mengenai ajaran Hindu-Buddha, tentu mengalami bentuk pencampuran budaya dalam bentuk akulturasi budaya dengan agama.
            Pada buku Sejarah Indonesia Kuno jilid III telah disebutkan mengenai kerajaan yang tersebar di Nusantara diakhir dan menjelang datangnya islam yaitu di Sumatera terdapat Kerajaan bercorak Indonesia-Hindu yaitu Sriwijaya dan Melayu, di Jawa Majapahit dan Suda-Pajajaran, di Kalimantan terdapat Kerajaan Negara-Daha dan Kutai. Sedangkan di Bali kerajaan yang bercorak Hindu masih terus berlangsung hingga abad ke-20. Penyebaran agama islam di nusantara paling banyak didapat dari adanya proses perdagangan, semakin ramai wilayah tersebut dijadikan tempat perdagangan Internasional, maka semakin banyak pula ajaran atau agama yang diterima termasuk Islam. Di Bali dimungkinkan tidak begitu banyak mendapat pengaruh dari agama islam yaitu karena letak Bali sendiri bukan dijalur perdagangan. Sehingga diperkirakan persebaran agama hanya pada Hindu saja, bahkan hingga saat ini. Berbeda dengan daerah yang menjadi strategis sebagai jalur perdagangan seperti Sumatera dan Jawa.
            Inilah salah satu alasan kenapa Jawa dan Sumatera mendapat paling banyak akulturasi budaya maupun agama yang awalnya dari pengaruh Hindu-Buddha yang ditambah dengan pengaruh agama Islam.
            Di Sumatera sendiri berkembang kerajaan Islam yaitu Samudera Pasai, yang awalnya daerah kekuasaan kerajaan tersebut adalah dari kerajaan Indonesia-Hindu yaitu Sriwijaya. Semenjak berkembanganya kerajaan corak islam tersebut, terjadi perkembangan disana dalam bentuk pelayaran maupun perdagangan karena memang pada dasarnya letak kerajaan itu sudah begitu strategis sebagai jalur pelayaran dan pusat perdagangan. Tidak hanya dikedua bidang tersebut, juga diberitakan bahwa pada masa Samudra Pasai tersebut mata uang  seperti uang kecil yang disebut ceitis yang dijelaskan pada buku Sejarah Nasional Indoneisa jilid III yaitu uang ini terbuat dari emas dan perak.
            Dibidang perdagangan, Samudra Pasai telah menghasilkan komoditas utamanya ekspor selain lada, sutra, kapur barus, namun masih banyak lagi yang dijadikan ekspor utamanya. Ini dikarenakan Samudra Pasai adalah daerah pusat tempat pengumpulan seluruh barang-barang ekspor dalam perdagangan. Untuk menunjang kegiatan itupun juga dilakukan kebijakan tentang pemungutan pajak untuk mengurangi masalah pendapatan-pendapatan negara. Dibidang agama, telah banyak ulama yang datang yaitu dari Persia, Syria dan Isfahan.
            Di Jawa yaitu Majapahit tidak begitu jauh berbeda dengan Sriwijaya oleh Samudra Pasai. Islam mengalami perkembangan di jawa terutama karena latar belakang mulai runtuhnya kerajaan Majapahit juga karena banyaknya raja-raja maupun bangsawan dari Majaphit yang banyak menggunakan sistem aturan mengenai bidang politik maupun perdagangan. Sehingga perkembangan islam disana mengalami kemajuan. Tidak hanya itu juga proses penyebaran agama islam di Nusantara ini juga terkenal dengan cara damai, sehingga masyarakat sekitar yang menerima ajaran baru ini mudah menerimanya.
            Di Jawa terkenal penyebaran agama islam yaitu melalui tokoh yang bernama Wali Songo yang tersebar di seluruh wilayah Jawa. Dalam proses dakwah penyebaran agama islam ini juga tentu pari Wali Songo menggunakan cara akulturasi yang paling dikenal yaitu Wayang. Jika pada sebelumnya seni wayang menceritakan tentang tokoh Mahabaratha dari cerita agama Hindu, maka Wayang ini juga digunakan dalam proses penyebaran dan ajaran islam.
            Kedatangan dan penyebaran agama islam di pesisir utara pulau jawa dapat diteliti dan dibuktikan melalui beberapa temuan dari data arkeologis maupun dari sumber-sumber babad, hikayat, legenda serta berita-berita asing. Penemuan pertama yaitu ditemukannya nisan kubur di sebuah daerah sebagai pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Yang kedua yaitu makam Maulana Malik di Gresik, dan yang terakhir yaitu di Troloyo dan di trowulan yang diperkirakan daerah tersebuta dalah tempat pusat dari kerajaan Majapahit yaitu terdapat sejumlah nisan kubur muslim yang dimungkinkan pada tahun sekitar abad XIII sampai XV M.
            Sedangkan dalam pembahasan terakhir ini adalah mengenai dampak akulturasi akibat runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dengan Islam di Jawa yang dijelaskan pada buku Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara yaitu dengan dibangunan sebagai pusat negara islam. Ini dilakukan untuk menyempurnakan pembentukan negara islam Demak. Maka dibangunlah sebuah Masjid Semarang  pada 1478 yang menadakan dari keberhasilan Jin Bun yang telah menaklukkan kerajaan Hidu-Jawa. Pembangunan masjid ini juga ditujukan atas rasa hormat dan syukur kepada Tuhan-nya.

3.    PENUTUP
3.1 Simpulan
           
Agama Hindu-Buddha telah berkembang di Indonesia telah sekian lama hingga melahirkan banyaknya Kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Namun disamping berkembangnya Kerajaan Hindu-Buddha itu tentunya juga terjadi kemunduran atau keruntuhan. Alasan keruntuhan sebuah kerajaan bercorakkan Hindu-buddha salah satunya yaitu perebutan kekuasaan yang menyebabkan perubahan politik dan kelemahan dalam sistem pemerintahan. Dalam mengatasi maslaah itupun juga para raja-raja maupun bangsawan yang terlibat dalam perebutan itu mengikut sertakan dan menggunakan sistem dalam islam, tidak hanya dibidang politik namun juga dibidang ekonomi, pelayaran dan perdagangan. Inilah yang menjadikan islam masuk dan berkembang dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama.
            Meskipun pada awal masuknya agama islam di nusantara mengalami ketidak merataan di beberapa daerah pedalaman, namun proses Islamisasi oleh beberapa kerajaan bercorak Islam terus dilakukan. Dan dalam proses tersebut, bnyak kerajaan-kerajaan kecil yang masih bercorakkan Indonesia-Hindu telah berhasil ditundukkan kekuasaan serta wilayahnya.
            Selain itu alasan lain yang menjadikan mudahnya Islam mudah berkembang dan menyebar di nusantara yaitu karena Islam melakukan nya dengan proses dmaai yang artinya dalam masuknya hal baru tersebut tanpa ada pertentangan atau paksaan. Karena pada awalnya memang islam masuk melalui interaksi dan timbal balik masyarakat Indonesia dengan orang Islam dalam bidang perdagangan dan pelayaran.
3.2 Saran
    
Dari keseluruhan penulisan karya ilmiah yang dibuat penulis ini, tentunya memiliki banyak kekurangan maupun kesalahan yang dibuat penulis sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung. Itulah mengapa penulis mengharapkan kepada semua pembaca untuk memberi kritik maupun saran yang membangun agar nantinya lebih baik untuk karya ilmiah berikutnya.


DAFTAR RUJUKAN

Soedjono.2008.Sejarah Nasional Indonesia II (Zaman Kuno).Jakarta:Balai Pustaka.
Soedjono.2008.Sejarah Nasional Indonesia III (Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesi).Jakarta:Balai Pustaka.
Muljana Slamet .2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu – Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam Di Nusantara. Yogyakarta:LkiS Pelangi Aksara

Selasa, 10 Desember 2013

KEBENARAN, OBYEKTIFITAS DAN SUBYEKTIFITAS DALAM SEJARAH

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Subjektifnya sumber data sebenarnya tidak perlu menjadi persoalan yang terlalu di besar-besarkan untuk mengatakan bahwa ilmu sejarah ialah ilmu yang sangat subjektif, walaupun pada sebagian besar tulisan sejarah menunjukkan hal tersebut seperti penggambaran sejarah politik selama ini, sebab itu dikatakan bahwa ilmu sejarah paling besar muatan politiknya. Karena itu ilmu sejarah di katakan sebagai ilmu yang sangat subjektif pula. Namun jika kita mengkajinya secara akademis, tentu terdapat jalan keluar dari apa yang dikatakan sebagai subjektivitas dalam ilmu sejarah tersebut. Seperti yang akan kita diskusikan pada tulisan ini, ternyata subjektivitas dalam sejarah merupakan sesuatu yang tidak dapat di pisahkan juga, karena penulis sejarah tidak mungkin bisa lepas dari nilai yang  di yakini oleh seorang penulis sejarah tersebut, mereka tidak bisa lepas dari nilai politis dan etis dimana penulis sejarah tersebut berada. Karena dengan memahami makna dari objektivitas dan subjektivitas tersebut akan membuka wawasan kita bahwa ilmu sejarah dan termasuk juga ilmu sosial lain seperi ilmu Antropologi, ilm Politik, ilmu Sosiologi dan lain sebagainya terikat oleh objektivitas dan subjektivitas ini. Namun jelasnnya, sebagaimana akan kita diskusikan pada tulisan ini bahwa adanya subjektivitas dalam penulisan sejarah bukan merupakan suatu halangan untuk menunjukkan keilmiahan sejarah, sebab manusia tidak akan pernah lepas dari nilai pada ruang dan waktu dimana mereka berada. Karena itu memahami terlebih dahulu makna dan fungsi dari kedua istilah ini adalah sebuah keharusan untuk tidak mendapatkan kekeliruan dalam memahaminya.

B.     RUMUSAN MASALAH
berpijak dari masalah diatas, maka penulis menganggap perlu membahas dan mendalami objektifitas dan subjektifitas sejarah. Untuk meguraikan masalah tersebut maka, dapat penulis diskripsikan sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan obyektifitas dan subyektifitas sejarah?
2.      Apa saja yang perlu diperhatikan dalam objektifitas sejarah?
3.      Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi subjektivitas dalam pengkajian sejarah?

C.    TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Prasejarah Indonesia, ada beberapa tujuan diantaranya:
1.      Memahami tentang objektifitas dan subyektifitas sejarah
2.      Menambah pengetahuan dan pengalaman kami sebagai mahasisaw/i





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Subjektivitas dan Objektivitas
           
Sebuah pelukisan sejarah kita sebut subyektif, bila subyek yang tahu yakni sejarawan sendiri jelas hadir didalamnya. Pelukisan sejarah kita sebut obyektif, bila hanya obyek penulisan sejarah dapat kita amati. Salah satu cara penulisan sejarah dapat bersifat subyektif ialah bila sejarawan membiarkan keyakinan politik atau etisnya turut berperan.
Pada prinsipnya, permasalahan mengenai subyektifitas seorang sejarawan, tidak hanya menyangkut masalah sejauh mana ia dipengaruhi oleh nilai – nilai politis atau etis – etis tertentu tapi juga dapat dipengaruhi oleh kepentingan yang melandasinya.
Fakta yang diperoleh dari kesaksian narasumber (facts of meaning) pada dasarnya tidak dapat dilihat, dirasa, dikecap, didengar, atau dicium baunya, dan dapat dikatakan bahwa fakta tersebut merupakan lambang atau wakil dari sesuatu yang pernah ada dan hanya ada dalam pemikiran pengamat atau sejarawan dan karenanya dapat disebut subyektif. Untuk dapat dipelajari secara obyektif (yakni dengan maksud memperoleh pengetahuan yang tak memihak dan benar, bebas daripada reaksi pribadi seseorang, maka fakta / informasi tersebut harus menjadi suatu obyek dan memiliki eksistensi yang merdeka diluar pemikiran manusia.
            Perbedaan pendapat mengenai subyektifitas dan obyektifitas sejarah telah lama ada semenjak jaman Renaissance. Sejak jaman tersebut para sejarawan sadar bahwa bahwa penulisan sejarah diresapi oleh nilai – nilai yang bersifat subyektif. Akan tetapi sejak abad 19 timbul suatu pemikiran baru diantara para sejarawan yang menyatakan bahwa penulisan sejarah yang seobyektif mungkin harus dapat diusahakan, akan tetapi mereka juga sadar bahwa cita- cita tersebut akan sulit terlaksana. Kenyataan terakhir ini memunculkan konsekuensi penting bagi sifat diskusi – diskusi yang berkaitan dengan subyektivitas dan obyektivitas dalam penulisan sejarah.
            Ketika seorang sejarawan dihadapkan dalam pemilihan topik penulisan sejarah, mereka harus mengadakan seleksi. Seleksi – seleksi tersebut tidak didasarkan atas prasangka atau pemihakan mengenai informasi isi sumber, seleksi ini memiliki 2 pengertian :
1. Meskipun perhatian sejarawan sangat luas, namun mereka harus menseleksi topic tertentu daru masa lalu yang menarik perhatiannya untuk diteliti.
2. Tidak seorangpun sejarawan dapat menceritakan kejadian dari masa lalu dengan lengkap dalam ruang lingkup yang dipilihnya. Ia harus menseleksi fakta – fakta karena tekanan penting dan relevansinya dengan pokok atau masalah kajiannya dan oleh karena itu ia terpaksa mengabaikan fakta – fakta lain yang dianggap tidak penting.
Bagaimanapun juga para sejarawan yang baik sepakat untuk menulis karya – karya sejarah dengan tidak memihak dan tidak bersifat pribadi.
            Kesadaran akan merasuknya nilai-nilai dalam proses penulisan sejarah oleh para sejarawan ini setidaknya sudah muncul di abad ke-16 lewat tulisan Francesco Patrizi. Meski begitu, mereka sepakat bahwa penulisan sejarah yang objektif harus selalu diusahakan. Namun ideal ini tidak berlaku untuk mazhab Prusia di Jerman. Von Sybel dan H. Von Treitshke, dua orang penganut mazhab


ini, ingin menjadikan cita-cita politik sebagai pedoman dalam penulisan sejarah. Demikian juga bagi aliran presentisme di Amerika tahun 1920-an. Mereka ingin menulis sejarah yang terilhami oleh “present needs and interest”, yaitu kepentingan politik dewasa ini. Sejarawan harus mampu untuk ikut memecahkan problem-problem masa kini.
            Demikian juga bagi kalangan marxis. Objektivitas tidak usah diusahakan karena ia sudah merupakan nilai bagi sejarawan dalam penelitiannya.
            Tanggapan untuk mereka adalah, bahwa kita menjadi tidak akan mungkin untuk mengetahui kejadian yang “sebenarnya”. Bahkan alur besar cerita yang ada bisa menjadi hilang demi kepentingan sejarawan, yang belum tentu benar. Hal itu menunjukkan bahwa objektivitas memang tidak mudah dicapai. Bagi subjektivis, hal itu tidak mungkin. Sedangkan bagi objektivis, hal itu tetap mungkin.

2.2 Masalah Objektivitas
            Fakta yang dikaji dan dihasilkan dapat menjadi intersubjektif. Dengan adanya komunikasi secara luas dapat menjadikan fakta tersebut menjadi intersubjetif. Artinya fakta tersebut semakin banyak dimiliki oleh banyak subjek. Jika fakta secara intersubjektif telah diterima sebagai kebenaran. Maka fakta tersebut dapat diobjektivikasikan menjadi suatu objek.
            Untuk menghindari kesepihakan, maka diperlukan pendekatan multidimensional, yaitu melihat dari berbagai segi dan aspeknya. Pendekatan ini inheren pada gejala sejarah yang kompleks. Pendekatan ini juga selaras dengan konsep sistem. Keterkaitan aspek – aspek itu baru dapat diungkapkan apabila konsep sistem dipergunakan dalam pengkajianya.
Seorang sejarawan tidak bisa meninggalkan kepribadianya keluar dari cerita subjek yang tangani adalah masyarakat itu sendiri dan tugasnya adalah untuk memahami dan menghitung kembali peristiwa – peristiwa dari masyarakat dan bangsanya. Walaupun kuat kepribadianya, dia tidak bisa menghindarkan diri dari lingkungan masyarakatnya. 
Untuk meminialisir subyektivitas dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan kadar obyektivitas, akan tetapi hal ini menjadi sangat sulit dilakukan dikarenakan ada beberapa fakta yang merupakan tuntutan – tuntutan yang sulit atau mustahil untuk dipenuhi seperti :
1. Kebenaran mutlak
2. Sesuai dengan kenyataan, termasuk juga yang tersembunyi
3. Netralitas mutlak, tidak memihak dan tidak terikat
4. Kondisi – kondisi yang harus lengkap untuk semua peristiwa

2.3 Faktor-faktor Subjektivitas Pengkajian Sejarah
            Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap penulisan sejarah pastinya terkandung unsur subjektifitas. Hal ini dapat terjadi apabila sejarawan yang hadir dalam suatu peristiwa membiarkan perilaku politis atau etisnya turut berperan dalam menyampaikan peristiwa tersebut.Pada prinsipnya permasalahan mengenai subjektifitas seorang sejarawan tidak hanya menyangkut masalah sejauh mana ia dipengaruhi oleh nilai-nilai politis dan nilai-nilai etis dalam meyampaikan sejarah. Namu ada kalanya hal ini juga dipengaruhi oleh adaya kepentingan yang mel;andasinya.
            Terwujudnya suatu karya sejarah menuntut tidak hanya kesungguhan


sejarawan dalam mendapatkan sumber, kemudian dengan mengandalkan fakta-fakta yang disusun berdasarkan sumber tersebut, tetapi juga lebih dituntut kemampuan untuk menjalin dan memaparkan fakta-fakta itu secara sistematisdan logis, untuk kemudian ia harus menyusun cerita di atas fakta-fakta tersebut.
            Dalam mewujudkan cerita sejarah seringkali sejarawan dihadapkan dengan persoalan tidak lengkapnya sumber, oleh karenanya dalam memaparkan cerita sejarah ia harus mampu menerangkan dan manghubungkan masing-masing fakta dengan memberikan inspirasi-inspirasi berupa intepretasi terhadap fakta yang dibuat berdasarkan sumber yang didapat. Disamping itu seorang sejarawan harus mampu menemukan hubungan intristik dari setiap fakta yang telah disusun. Pada bagian tersebut sesungguhnya seorang sejarawan tidak lagi dipandu oleh sumber, tetapi dipengaruhi oleh factor dirinya sendiri.
            Keterlibatan factor-faktor diri pada dasarnya menjadikan suatu penulisan sejarah berhadapan dengan persoalan subjektifitas. Unsur lingkungan kebudayaan, situasi sosial, kepribadian, dan lain-lain seringkali ikut mempengaruhi sejarawan dalam menulis sejarah, terutama dalam penafsiran (interpretasi) terhadap sumber serta mamberikan analisa-analisa logis terhadap fakta dalam bentuk inferensi sebagaimana yang telah disebutkan. Karena itu suatu karya sejarah yang dihasilkan sejarawan dalam bentuk waktu, sekaligus merupakan gambaran budaya dimana sejarawan tersebut tinggal.

Dalam metodologi sejarah, terdapat 4 faktor utama yang dapat menjadikan suatu penulisan sejarah bersifat subyektif, yaitu :
1. Pemihakan Pribadi (personal bias)
Persoalan suka atau tidak suka pribadi terhadap individu – individu atau golongan dari seseorang dapat mempengaruhi subyektivitas dari penulisan sejarah.
2. Prasangka Kelompok (group prejudice)
Keanggotaan sejarawan dalam suatu kelompok (ras, golongan, bangsa, agama) dapat membuat mereka memiliki pandangan yang bersifat subyektif dalam mengamati suatu peristiwa sejarah.
3. Teori – Teori Bertentangan Tentang Penafsiran Sejarah (conflicting theories of historical interpretation)
Pandangan/ideology yang dianut sejarawan memegang peranan penting dalam menentukan subyektivitas penulisan sejarah.
4. Konflik – konflik Filsafat Yang Mendasar (underlying pgilosophical conflicts)
Secara teoritis seseorang yang menganut filsafat hidup tertentu akan menulis sejarah berdasarkan pandangannya tersebut.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa banyak sekali kesubjektivitasan sejarah yang ada didunia ini. Alasan mengapa sejarah selalu memiliki perbedaan disetiap negara adalah karena Sejarah sendiri adalah buatan manusia dan sejarah dibuat oleh pemikiran-pemikiran seorang manusia. Maka tidak mengherankan jika terjadi perbedaan Sejarah masing-masing tempat atau negara.
Itulah mengapa dalam sejarah sendiri tidak ada yang dianggap sebuah “kebenaran” dan “kenyataan” mutlak. Hal tersebut benar-benar diluar kemampuan seperti hilangnya petunjuk, rusaknya bekas peninggalan atau seperti ada tujuan tertentu.


Dalam penjabaran sebuah sejarah, seorang sejarawan memiliki hakikat yang valid tetapi relatif. Apabila hubungan kebenaran bertambah dalam hakikat sejarah tersebut, maka sejarah disini dalam arti yang benar dalam batas-batas kemampuannya. Secara garis besar, dalam penulisan sejarah tidak mempersoalkan tentang kebohongan atau dusta, tapi lebih mengacu kesanggupan sejarawan tersebut dalam menjelaskan sebuah kebenaran.

2.4 Pendapat beberapa tokoh yang diungkapkan secara tertulis
·         Ibnu Khaldun menunjukkan beberapa hal yang menyebabkan seseorang salah menginterpretasikan atau berbohong tentang peristiwa sejarah, yaitu sebagai berikut.
1.      Semangat terlibat pada pendapat-pendapat dan mazhab-mazhab. Apabila pikiran dalam keadaan netral dan normal menerima informasi, dan informasinya diselidiki dan dipertimbangkan, ia dapat menjelaskan kebenaran yang terkandung dalam berita tersebut. Akan tetapi, apabila pikiran dihinggapi semangat terlibat terhadap suatu pendapat atau kepercayaan, pikiran akan menerima informasi yang menguntungkan pendapat atau kepercayaannya. Oleh karena itu, semangat terlibat merupakan penutup terhadap pikiran, mencegahnya untuk melakukan kritik dan analisis, dan membuat pertimbangannya condong pada kebohongan. Akibatnya, kebohongan itu diterima dan dinukilkan.
2.      Terlalu percaya kepada orang-orang yang menukilkan. Pemeriksaan terhadap subjek ini bergantung pada keadilan atau kecacatan yang secara luas digunakan oleh para sarjana muslim untuk penelitian hadis. Dengan proses penelitian tersebut ditemukanlah hadis yang palsu.
3.      Tidak sanggup memahami maksud yang sebenarnya. Banyak sekali penukil tidak mengetahui maksud sebenarnya dari observasinya, atau segala sesuatu yang ia pelajari hanya menurut pikiran dan pendengarannya.
4.      Asumsi yang tidak beralasan terhadap kebenaran sesuatu. Hal ini sering terjadi. Pada umumnya asumsi itu muncul dalam bentuk terlalu percaya pada kebenaran para penukil.
5.      Ketidaktahuan tentang kondoso yang sesuai dengan realita disebabkan kondisi itu dimasuki ambisi dan distorsi artifisial. Sang informan puas menukilkannya seperti distorsi artifisial (kesenjangan maknawi) itu dia tidak mempunyai gambaran yang benar tentang kondisi-kondisi tersebut.
6.      Adanya fakta bahwa kebanyak orang cenderung untuk mengambil hati orang-orang yang berpredikat besar dan menyiarkan kemashyurannya, membujuk, menganggap baik segala perbuatan mereka dan memeberi tafsiran yang selalumenguntungkan terhadp semua tindakan mereka. Hasilnya, informasi yang dipublikasikan menjadi tidak jujur dan menyimpang dari yang sebenarnya.
7.      Ketidaktahuan tentang watak berbagai kondisi yang muncul dalam peradaban. Setiap peristiwa atau fenomena, baik yang berhubungan sengan esensi maupun yang dihasilkan oleh perbuatan, pasti mempunyai watak khas untuk efisiensi peristiwa tersebut, dan untuk kondisi-kondisi peristiwa yang melebur diri ke dalamnya. Oleh karena


itu, apabila pendengar mengetahui watak peristiwa, keadaan, dan syarat yang dibutuhkan disalam dunia eksistensi, pengetahuan itu akan membantunya untuk membedakan yang benar dari yang tidak benar dalam pemeriksaan informasi yang kritis dari aspek lain yang ada hubungannya dengan hal tersebut.

·         Nilai sejarah tertulis, menurut Dr. Hasan Usman, harus didefinisikan berdasar asas-asa yang esensial berikut.
1.      Jenis data yang informasinya dijadikan sumber oleh penelitian harus terus digali. Apakah berupa ukiran atau peninggalan kuno yang baru, yang validitasnya atau informasinya dapat dipercaya, atau merupakan sumber dokumen, surat-surat yang dikeluarkan dari arsip historis yang diyakini tidak palsu dan dapat dijadikan informasi yang valid, belum pernah diumumkan atau belum pernah digunakan secara sempurna, atau sekunder yang tidak memiliki nilai ilmiah.
2.      Nilai sejarah yang dituklis ditentukan berdasarkan kemampuan peneliti dalam mempelajari dan menelitinya, dan kemampuannya mengkritik manuskrip, sumber-sumber dan referensi yang ada, dan berdasarkan sisitem penyimpulan, para peneliti saling berbeda atau satu sama lain sejalan dengan perbedaannya dalam memahami, menginterpretasikan dan menyingkapkan.
Nilai sejarah yang ditulis ditentukan oleh upaya peneliti menjauhkan dirinya dari memihak dan hawa nafsu, dan penyesuaiannya dengan fakta sekadar kemampuannya. Terkadang, seorang peneliti terprngaruh oleh jiwa masa tertentu, seperti masa peperangan Salib atau masa Revolusi Industri atau pertumbuhan demokrasi atau lahirnya sosialisme sehingga ia menulis dengan berusaha menundukkan tema tertentu pada pendapat dan pemikirannya. Tulisan dari seorang penulis Masehi yang menyerang kaum muslim dalam Perang Salib atau sebaliknya secara umum tidak akurat. Jika demikian, tulisan yang sengaja oleh penulisnya, dengan mengambil arah tertentu terkadang dapat digolongkan dalam sejarah jenis pemikiran kecenderungan manusia yang perlu dipelajari, tetapi tidak bisa dimasukkan sebagai ungkapan hakikat sejarah sehubungan dengan tema-tema yang didapatkan.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Objektivitas dan subjektivitas merupakan dua kata yang seringkali salah difahami oleh sebagian orang terutama dalam penulisan sejarah.Padahal kata objektif dalam penulisan sejarah mengacu pada peristiwa yang sebenarnya terjadi dan tidak bisa terulang lagi. Sedangkan sejarah yang subjektif merupakan gambaran dari peristiwa sejarah yang di tulis oleh seorang sejarawan. Karena itu kedua-duanya merupakan bagian dari penulisan sejarah
B.     Saran
1.      Agar dapat menjadi seorang sejarawan baiknya kita memahami tentang Subjektifitas dan obyektifitas dalam penulisan sejarah.
2.      Ada pepatah mengatakan “yang lalu biarlaah berlalu”..Tapi pepatah itu tidak untuk kita di sini,karna “sejarah itu guru kehidupan”yang bisa menjelaskan kenapa kita bisa seperti ini sekarang.



DAFTAR RUJUKAN
Ankersmit, F.R., Refleksi Tentang Sejarah; Pendapat-Pendapat Moderen tentang Filsafat Sejarah, Jakarta: Gramedia, 1987, Bab XII: Subjektivitas dan Objektivitas:Nilai-Nilai dalam Pengkajian Sejarah, hal. 318-346.
Sudarminta, J., Epistemologi Dasar, Pengantar Filsafat Pengetahuan, Yogjakarta: 2002.
-------------, Hermeneutika Gadamer, makalah dalam mk. Filsafat Kontemporer, STF Driyarkara 2007.
Abdillah Aam, Pengantar Ilmu Sejarah; Objektivitas dan Subjektivitas Sejarah ha. 33-37
Syajarrah.blogspot.com, Kamis, 21 Januari 2010;Subyektivitas dan Obyektivitas Sejarah


Rabu, 04 Desember 2013

Sejarah Singkat Kota Malang

A.                ASAL-USUL KOTA MALANG           Awalnya seorang raja yang bijaksana dan amat sakti, Dewasimha namanya. Ia menjaga istananya yang berkilauan serta dikuduskan oleh api suci Sang Putikewara (Ciwa). Berbahagialah sang Raja Dewasimha karena dewa-dewa telah menganugerahkan dalam hidupnya seorang putera sebagai pewaris mahkotanya. Putra yang kemudian menjadi pelindung kerajaan itu bernama Liswa atau juga dikenal sebagai Gajayana. Adalah Gajayana seorang raja yang begitu dicintai rakyatnya, berbudi luhur dan berbuat baik untuk kaum pendeta serta penuh baktu sesungguh-sungguhnya kepada Resi Agastya.            Sebagai tanda bakti yang tulus kepada Resi tersebut, sang Raja Gajayana telah membangun sebuah candi yang permai untuk mahresi serta untuk menjadi penangkal segala penyakit dan malapetaka kerajaan. Jikalau nenek moyangnya telah membuat arca Agstya dari kayu cendana, maka Raja Gajayana sebagai pernyataan bakti dan hormatnya telah memerintahkan kepada pemahat-pemahat ternama di seantero kerajaan untuk membuat arca Agastya dari batu hitam nan indah, agar semua dapat melihatnya. Arca Agastya yang diberi nama Kumbhayoni itu, atas perintah raja yang berbudi luhur tersebut kemudian diresmikan oleh para Regveda, para Brahmana, pendeta-pendeta terkemuka dan para penduduk negeri yang ahli, pada tahun Saka, Nayana-Vava-Rase(682) bulan Magasyirsa tepat pada hari Jum’at separo terang.
            Ia Raja Gajayana yang perkasa itu adalah seorang agamawan yang sangat menaruh hormat kepada para pendeta. Dihadiahkannya kepada mereka tanah-tanah beserta sapi yang gemuk, sejumlah kerbau, budak lelaki dan wanita, serta berbagai keperluan hidup seperti sabun-sabun tempat mandi, bahan upacara sajian, rumah-rumah besar penuh perlengkapan hidup seperti : penginapan para brahmana dan tamu, lengkap dengan pakaian-pakaian, tempat tidur dan padi, jewawut. Mereka yang menghalang-halangi kehendak raja untuk memberikan hadiah-hadiah seperti itu, baik saudara-saudara, putera-putera raja, dan Menteri Pertama, maka mereka akan menjadi celaka karena pikiran-pikiran buruk dan akan masuk ke neraka dan tidak akan memperoleh keoksaan di dunia atau di alam lain. Ia, sebaliknya selalu berdoa dan berharap semoga keturunannya bergirang hati dengan hadiah-hadiah tersebut, memperhatikan dengan jiwa yang suci, menghormati kaum Brahmana dan taat beribadat, berbuat baik, menjalankan korban, dan mempelajari Weda. Semoga mereka menjaga kerajaan yang tidak ada bandingannya ini seperti sang Raja telah menjaganya.
            Raja Gajayana mempunyai seorang puteri Uttejena yang kelak meneruskan Vamcakula ayahandanya yang bijaksana itu.
            Cerita di atas diangkat sari satu prasasti yang bernama “Prasasti Dinaya atau Kanjuruhan” menurut nama desa yang disebutkan dalam piagam tersebut. Seperti tertulis di dalamnya, prasasti ini memuat unsur penanggalan dalam candrasengkala yang berbunyi : “Nayana-vaya-rase” yang bernilai 682 tahun caka atau tahun 760 setelah Masehi.
            Apabila prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Gajayana pada tahun 760 sesudah Masehi, maka paling tidak prasasti itu merupakan sumber tertulis tertua tentang adanya fasilitas politik yakni berdirinya kerajaan Kanjuruan di wilayah Malang. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Dinoyo terletak 5 km sebelah barat Kota Malang. Di tempat ini menurut penduduk disana, masih ditemukan patung Dewasimha yang terletak di tengah pasar walaupun hampir hilang terbenam ke dalam tanah.

B.                    SEJARAH NAMA “MALANG”            Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah. Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas fondasi batu bata, bekas salurandrainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.
            Nama "Malang" sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama "Malang". Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut.
            Malangkuçeçwara (Malangkusheswara) yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkuçeçwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang.
            Pihak yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuka, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari.
            Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkuçeçwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi.
            Nama Malangkuçeçwara terdiri atas 3 kata, yakni mala yang berarti kecurangan, kepalsuan, dan kebatilan; angkuça (baca: angkusha) yang berarti menghancurkan atau membinasakan; dan Içwara (baca: ishwara) yang berarti "Tuhan". Sehingga, Malangkuçeçwara berarti "Tuhan telah menghancurkan kebatilan".
            Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang.
          
C.               SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA MALANG            Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang.
            Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur.             Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.
            Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya ''Ijen Boullevard'' dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.
            Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah "Gemente" (Kota). Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terdapat tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi : “Malangkuçeçwara”. Semboyan baru ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, karena kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkuçeçwara.
            Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
·         Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
·         Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas·         Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
·         Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
·         1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
·         8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
·         21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
·         22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
·         2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
·         1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.

D.                TENTANG KOTA MALANG             1. Lambang dan Motto Kota Malang
·       Motto "MALANG KUÇEÇWARA" berarti Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar
·       Arti Warna :
·         Merah Putih, adalah lambang bendera nasional Indonesia
·         Kuning, berarti keluhuran dan kebesaran
·         Hijau adalah kesuburan
·         Biru Muda berarti kesetiaan pada Tuhan, negara dan bangsa
·         Segilima berbentuk perisai bermakna semangat perjuangan kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
            Semboyan tersebut dipakai sejak hari peringatan 50 tahun berdirinya KOTAPRAJA MALANG 1964, sebelum itu yang digunakan adalah : "MALANG NAMAKU, MAJU TUJUANKU", yang merupakan terjemahan dari "MALANG NOMINOR, SURSUM MOVEOR"            Yang disahkan dengan "Gouvernement besluit dd. 25 April 1938 N. 027". Semboyan baru itu diusulkan oleh Prof.DR. R.Ng.Poerbatjaraka, dan erat hubungannya dengan asal mula Kota Malang pada zaman Ken Arok.2. Demografi                Jumlah penduduk Kota Malang 820.243 (2010), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun.
            Sebagian besar adalah suku Jawa, serta sejumlah suku-suku minoritas seperti Madura,Arab, dan Tionghoa.
            Agama mayoritas adalah Islam, diikuti dengan Kristen ProtestanKatolikHinduBuddha, dan Kong Hu Chu. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri semenjak zaman kolonial antara lain Masjid Jami (Masjid Agung), Gereja Hati Kudus YesusGereja Kathedral Ijen (Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel), Klenteng di Kota Lama serta Candi Badut di Kecamatan Sukun dan Pura di puncak Buring. Malang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan dengan banyaknya Pesantren, yang terkenal ialah Ponpes Al Hikampimpinan KH. Hasyim Muzadi, dan juga adanya pusat pendidikan Kristen berupa Seminari Alkitab yang sudah terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara.
            Bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Kalangan minoritas Suku Madura menuturkan Bahasa Madura.
            Malang dikenal memiliki dialek khas yang disebut Boso Walikan, yaitu cara pengucapan kata secara terbalik, misalnya Malang menjadi Ngalam, bakso menjadi oskab' burungmenjadi ngurub, dan contoh lain seperti saya bangga arema menang-ayas bangga arema nganem . Gaya bahasa masyarakat Malang terkenal egaliter dan blak-blakan, yang menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi.
3. Iklim dan Geologi            Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2006 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 22,2 °C - 24,5 °C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 32,3 °C dan suhu minimum 17,8 °C . Rata kelembaban udara berkisar 74% - 82%. dengan kelembaban maksimum 97% dan minimum mencapai 37%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, dan Desember. Sedangkan pada bulan Juni, Agustus, dan Nopember curah hujan relatif rendah.
Keadaan tanah di wilayah Kota Malang antara lain :·         Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang cukup luas, cocok untuk industri
·         Bagian utara merupakan dataran tinggi yang subur, cocok untuk pertanian
·         Bagian timur merupakan dataran tinggi dengan keadaan kurang kurang subur
·         Bagian barat merupakan dataran tinggi yang amat luas menjadi daerah pendidikan
4. Budaya            Kekayaan etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng gunung Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang.
            Di kota Malang juga terdapat tempat yang merupakan sarana apresiasi budaya Jawa Timur yaitu Taman Krida Budaya Jawa Timur, di tempat ini sering ditampilkan aneka budaya khas Jawa Timur seperti LudrukKetoprakWayang Orang, Wayang Kulit, ReogKuda Lumping, Sendra tari, saat ini bertambah kesenian baru yang kian berkembang pesat di kota Malang yaitu kesenian "Bantengan" kesenian ini merupakan hasil dari kreatifitas masyarakat asli malang, sejak dahulu sebenarnya kesenian ini sudah dikenal oleh masyarakat malang namun baru sekaranglah "Bantengan" lebih dikenal oleh masyarakat tidak hanya masyarakat lokal namun juga luar daerah bahkan mancanegara. Khusus di Malang sering diadakan pergelaran bantengan hampir setiap perayaan hari besar baik keagamaan maupun peringatan hari kemerdekaan.
            Festival tahunan yang menjadi event ikon kota juga sering diadakan setiap tahunnya. Beberapa festival kota tahunan diantaranya adalah:·         Festival Malang Kembali: Diadakan untuk memperingati HUT Kota Malang, biasa digelar pada tanggal 21 Mei. Festival ini mengusung situasi kota pada masa lalu, mengubah jalan-jalan protokol kota menjadi museum hidup selama kurang lebih 1 minggu festival ini diadakan.
·         Karnaval Bunga
·         Karnaval Lampion: Biasa diadakan untuk merayakan hari raya imlek


E.               PENINGGALAN DIKOTA MALANG
CANDI SINGOSARI


DISBUDPAR newsroom : Candi Singosari ditemukan sekitar awal abad 19 tahun (1800-1850), oleh orang Belanda yang bernama Nicolaus Engelhard, dengan sebutan candi Menara karena bentuknya seperti menara, namun penduduk setempat menamakannya candi Singosari karena letaknya di Singosari,  ada pula sebagian orang menyebutnya Candirenggo, karena letaknya di Desa Candirenggo.
Candi Singosari terbuat dari batu endesit, dengan bentuk bangunan persegi empat, terdiri dari batur candi atau teras, kaki  candi, tubuh candi dan atap candi atau puncak yang menjulang keatas semakin runcing, candi  Singosari merupakan gambaran gunung Himalaya di India, dan fungsi Candi Singosari adalah sebagai tempat pemujaan di zaman Hindu, sedangkan lokasi Candi di Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kel. Candirenggo, Kec. Singosari, Kab. Malang.
            Dihalaman candi berjejer arca-arca, rapi tertata dengan baik , dari arah utara kearah selatan, yang sebagiaan arcanya sudah tidak utuh, seperti, arca lembu nandi, arca Mahakala, arca tokoh Dewi, arca Asta Dikpalaka ( 8 dewa penjuru), arca Dewi Durgamahisasuramardini, dll.
            Menurut juru pelihara candi (Abdul Rochman) mengatakan pengunjung yang datang kesini  pada bulan September tahun 2010 mencapai 1.193 orang, yang berasal dari  lokal dan diluar kota malang yang ada diwilayah Jawa Timur.

Candi Jago
Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya 22 km ke arah timur dari Kota Malang. Karena letaknya di Desa Tumpang, candi ini sering juga disebut Candi Tumpang. Penduduk setempat menyebutnya Cungkup. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, nama candi ini yang sebenarnya adalah Jajaghu. Dalam pupuh 41 gatra ke-4 Negarakertagama dijelaskan bahwa Raja Wisnuwardhana yang memerintah            Singasari menganut agama Syiwa Buddha, yaitu suatu aliran keagamaan yang merupakan perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha. Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari, sebuah kerajaan yang letaknya sekitar 20 km dari Candi Jago. Jajaghu, yang artinya adalah 'keagungan', merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci.
            Masih menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago berlangsung sejak tahun 1268 M sampai dengan tahun 1280 M, sebagai penghormatan bagi Raja Singasari ke-4, yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, disebut dalam kedua kitab tersebut bahwa Candi Jago selama tahun 1359 M merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan Singasari terlihat juga dari pahatan padma (teratai), yang menjulur ke atas dari bonggolnya, yang menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari. 
            Yang perlu dicermati dalam sejarah candi adalah adanya kebiasaan raja-raja zaman dahulu untuk memugar candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Diduga Candi Jago juga telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.
Saat ini Candi Jago masih berupa reruntuhan yang belum dipugar. Keseluruhan bangunan candi berbentuk segi empat dengan luas 23 x 14 m. Atap candi sudah hilang, sehingga tinggi bangunan aslinya tidak dapat diketahui dengan pasti. Diperkirakan bahwa tingginya mencapai 15 m.


        

            Bangunan candi menghadap ke barat, berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m dan kaki candi yang terdiri atas 3 teras bertingkat. Makin ke atas, teras kaki candi makin mengecil sehingga pada lantai pertama dan kedua terdapat selasar yang dapat dilewati untuk mengelilingi candi. Garba ghra (ruang utama) terletak bergeser agak ke belakang.
            Bentuk bangunan bersusun, berselasar dan bergeser ke belakang merupakan bentuk yang umum ditemui pada bangunan pada zaman megalitikum, yaitu yang disebut sebagai bangunan punden berundak. Bentuk itu umumnya digunakan dalam membangun tempat pemujaan arwah leluhur. Menilik bentuknya, diperkirakan bahwa tujuan pembangunan Candi Jago adalah juga untuk tempat pemujaan arwah leluhur. Namun masih diperlukan penelitian dan pengkajian lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya.

Untuk naik ke lantai yang lebih atas, terdapat dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depan (barat). Lantai yang terpenting peranannya dan tersuci adalah yang paling atas, dengan bangunan yang letaknya sedikit bergeser ke belakang.
            Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang terpahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur pelepasan kepergian. Hal ini menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Jago berkaitan erat dengan wafatnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana, yaitu Syiwa Buddha, maka relief pada Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha.
Ajaran Buddha tercermin dalam relief cerita Tantri Kamandaka dan cerita Kunjarakarna yang terpahat pada teras paling bawah. Pada dinding teras kedua terpahat lanjutan cerita Kunjarakarna dan petikan kisah Mahabarata yang memuat ajaran agama Hindu, yaitu Parthayajna dan Arjuna Wiwaha. Teras ketiga dipenuhi dengan relief lanjutan cerita Arjunawiwaha. Dinding tubuh candi juga dipenuhi dengan pahatan relief cerita Hindu, yaitu peperangan Krisna dengan Kalayawana.

            Di tengah pelataran depan, sekitar 6 m dari kaki candi, terdapat batu besar yang dipahat menyerupai bentuk tatakan arca raksasa, dengan diameter batu sekitar 1 m. Di puncaknya terdapat pahatan bunga padma yang menjulur dari bonggolnya.
            Di sisi barat halaman candi terdapat arca Amoghapasa berlengan delapan dilatarbelakangi singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi. Kepala arca tersebut telah hilang dan lengan-lengannya telah patah. Sekitar 3 m di selatan arca ini terdapat arca kepala rasaksa setinggi sekitar 1 m. Tidak didapat informasi apakah benda-benda yang terdapat di pelataran candi tersebut memang aslinya berada di tempatnya masing-masing.
 
Candi Kidal

Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya sekitar 20 km ke arah timur dari kota Malang. Candi ini dapat dikatakan merupakan candi pemujaan yang paling tua di Jawa Timur, karena pemerintahan Airlangga (11-12 M) dari Kerajaan Kahuripan dan raja-raja Kerajaan Kediri (12-13 M) hanya meninggalkan Candi Belahan dan Jalatunda yang merupakan petirtaan atau pemandian. Candi Kidal dibangun pada 1248 M, setelah upacara pemakaman 'Cradha' untuk Raja Anusapati dari Kerajaan Singasari. Tujuan pembangunan candi ini adalah untuk mendarmakan Raja Anusapati, agar sang raja dapat mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Dibangun pada masa transisi dari zaman keemasan pemerintahan kerajaan-kerajaan Jawa Tengah ke kerajaan-kerajaan Jawa Timur, pada Candi Kidal dapat ditemui perpaduan corak candi Jawa Tengah dan candi Jawa Timur. Sebagian pakar bahkan menyebut Candi Kidal sebagai prototipe candi Jawa Timuran.
            Bangunan candi seluruhnya terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Di sekeliling halaman candi terdapat susunan batu yang berfungsi sebagai pagar. Tubuh candi berdiri diatas batur (kaki candi) setinggi sekitar 2 m. Untuk mencapai selasar di lantai kaki candi dibuat tangga batu tepat di depan pintu. Yang menarik, anak tangga dibuat tipis-tipis, sehingga dari kejauhan tampak seperti bukan tangga masuk yang sesungguhnya. Tangga batu ini tidak dilengkapi pipi tangga berbentuk ukel, sebagaimana yang banyak dijumpai di candi lainnya, namun di kiri-kanan anak tangga pertama terdapat badug (tembok rendah) berbentuk siku yang menutup sisi samping dan sebagian sisi depan kaki tangga. Badug semacam ini tidak terdapat di candi lain.
            Pintu candi menghadap ke barat, dilengkapi dengan bilik penampil dengan hiasan kalamakara (kepala Kala) di atas ambangnya. Hiasan kepala kala yang nampak menyeramkan dengan matanya melotot penuh, mulut terbuka serta 2 taring besar dan bengkok, memberi kesan dominan. Adanya 2 taring tersebut juga merupakan ciri khas candi Jawa Timur. Disudut kiri dan kanan terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam, sehingga sempurnalah kesan seram yang patut dimiliki oleh makhkuk penjaga bangunan suci candi. Di kiri dan kanan pintu terdapat relung kecil tempat meletakkan arca yang dilengkapi dengan bentuk 'atap' di atasnya. Di atas ambang relung-relung ini juga terdapat hiasan kalamakara.
            Atap Candi Kidal berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil. Puncaknya tidak runcing, melainkan persegi dengan permukaan yang cukup luas. Puncak atap tidak dihiasi dengan ratna atau stupa, melainkan hanya datar saja. Sekeliling tepi masing-masing lapisan dihiasi dengan ukiran bunga dan sulur-suluran. Konon dulu di setiap sudut lapisan atap candi dipasang sebuah berlian kecil. Sekeliling kaki candi dihiasi dengan pahatan bermotif medalion yang berjajar diselingi bingkai bermotif bunga dan sulur-suluran. Di kiri dan kanan pangkal tangga serta di setiap sudut yang menonjol ke luar terdapat patung binatang yang terlihat mirip singa dalam posisi duduk seperti manusia dengan satu tangan terangkat ke atas. Patung-patung ini terlihat seperti sedang menyangga pelipit atas kaki candi yang menonjol keluar dari selasar.
            Tubuh candi dapat dikatakan ramping, sehingga selasar di kaki candi cukup lebar. Dalam tubuh candi terdapat ruangan yang tidak terlalu luas. Saat ini ruangan tersebut dalam keadaan kosong. Dinding candi juga dihiasi dengan pahatan bermotif medalion. Pada dinding di sisi samping dan belakang terdapat relung tempat meletakkan arca. Relung-relung tersebut juga dilengkapi dengan bentuk 'atap' dan hiasan kalamakara di atas ambangnya. Tidak satupun arca yang masih bisa didapati di Candi Kidal. Konon arca Syiwa yang indah, yang saat ini tersimpan di museum Leiden, dahulu berasal dari Candi Kidal.
            Dalam kesusastraan Jawa kuno, terdapat mitos yang terkenal di kalangan masrakyat, yaitu mitos Garudheya, seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon relief mitos Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya. Mitos Garudheya tertuang secara lengkap dalam relief di seputar kaki candi. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), dimulai dari sisi selatan.
            Relief pertama menggambarkan seekor garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief kedua melukiskan seekor garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga garuda menggendong seorang wanita. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah yang paling indah dan utuh.

Mitos Garudheya
            Mitos Garudheya hidup di kalangan masyarakat Jawa kuno, khususnya yang mendapat pengaruh Hinduisme. Mitos ini mengisahkan perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya dari penderitaan. Alkisah di sebuah pertapaan, tinggal seorang resi bernama Resi Kasyapa dengan dua orang istrinya, Dewi Winata dan Dewi Kadru. Walaupun kedua istri sang resi tersebut bersaudara kandung, namun di antara keduanya terjadi persaingan keras untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari suaminya. Oleh karena itu, keduanya merasa gelisah ketika mereka tak juga dikaruniai putra.
            Pada suatu hari, Dewi Winata kedatangan seorang dewa yang menghadiahkan sebuah telur kepadanya. Dewa itu berpesan agar Dewi Winata menjaga telur itu baik-baik hingga saatnya menetas nanti dan merawat makhluk yang keluar dari dalam telur tersebut. Sang Dewi lalu menyimpan telur di tempat tersembunyi. Pada saat yang bersamaan ternyata Dewi Kadru juga mengalami hal yang sama. Setelah tiba waktunya, telur yang diberikan kepada Dewi Winata menetas dan dari dalam telur tersebut keluar seekor anak burung. Sementara itu, telur milik Dewi Kadru juga menetas dan dari dalamnya keluar beberapa ekor ular. Kedua wanita itu merawat anak-anak angkat mereka dengan baik. Anak angkat Dewi Winata tumbuh menjadi seekor garuda yang diberi nama Garudheya, sementara anak-anak Dewi Kadru tumbuh menjadi naga.
            Walaupun masing-masing telah mempunyai anak angkat, persaingan di antara kedua wanita tersebut tidak mereda. Pada suatu hari, Dewi Kadru menipu kakaknya dalam sebuah taruhan, sehingga ia memenangkan taruhan tersebut. Dewi Winata yang kalah harus menjadi budak Dewi Kadru dan anak-anaknya. Garudheya sangat sedih melihat penderitaan ibunya. Setelah dewasa, Garudheya berusaha mencari cara untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Akhirnya Garudheya berhasil mendapatkan keterangan bahwa ibunya akan bebas dari ikatan perjanjian dengan tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang tersimpan di kahyangan dan dijaga oleh Dewa Wisnu. Setelah melalui berbagai perjuangan, Garudheya berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk mengambil tirta amerta yang diperlukan untuk meruwat (membebaskan dari penderitaan) ibunya dengan syarat ia harus menjadi tunggangan Dewa Wisnu.