Selasa, 10 Desember 2013

KEBENARAN, OBYEKTIFITAS DAN SUBYEKTIFITAS DALAM SEJARAH

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Subjektifnya sumber data sebenarnya tidak perlu menjadi persoalan yang terlalu di besar-besarkan untuk mengatakan bahwa ilmu sejarah ialah ilmu yang sangat subjektif, walaupun pada sebagian besar tulisan sejarah menunjukkan hal tersebut seperti penggambaran sejarah politik selama ini, sebab itu dikatakan bahwa ilmu sejarah paling besar muatan politiknya. Karena itu ilmu sejarah di katakan sebagai ilmu yang sangat subjektif pula. Namun jika kita mengkajinya secara akademis, tentu terdapat jalan keluar dari apa yang dikatakan sebagai subjektivitas dalam ilmu sejarah tersebut. Seperti yang akan kita diskusikan pada tulisan ini, ternyata subjektivitas dalam sejarah merupakan sesuatu yang tidak dapat di pisahkan juga, karena penulis sejarah tidak mungkin bisa lepas dari nilai yang  di yakini oleh seorang penulis sejarah tersebut, mereka tidak bisa lepas dari nilai politis dan etis dimana penulis sejarah tersebut berada. Karena dengan memahami makna dari objektivitas dan subjektivitas tersebut akan membuka wawasan kita bahwa ilmu sejarah dan termasuk juga ilmu sosial lain seperi ilmu Antropologi, ilm Politik, ilmu Sosiologi dan lain sebagainya terikat oleh objektivitas dan subjektivitas ini. Namun jelasnnya, sebagaimana akan kita diskusikan pada tulisan ini bahwa adanya subjektivitas dalam penulisan sejarah bukan merupakan suatu halangan untuk menunjukkan keilmiahan sejarah, sebab manusia tidak akan pernah lepas dari nilai pada ruang dan waktu dimana mereka berada. Karena itu memahami terlebih dahulu makna dan fungsi dari kedua istilah ini adalah sebuah keharusan untuk tidak mendapatkan kekeliruan dalam memahaminya.

B.     RUMUSAN MASALAH
berpijak dari masalah diatas, maka penulis menganggap perlu membahas dan mendalami objektifitas dan subjektifitas sejarah. Untuk meguraikan masalah tersebut maka, dapat penulis diskripsikan sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan obyektifitas dan subyektifitas sejarah?
2.      Apa saja yang perlu diperhatikan dalam objektifitas sejarah?
3.      Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi subjektivitas dalam pengkajian sejarah?

C.    TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Prasejarah Indonesia, ada beberapa tujuan diantaranya:
1.      Memahami tentang objektifitas dan subyektifitas sejarah
2.      Menambah pengetahuan dan pengalaman kami sebagai mahasisaw/i





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Subjektivitas dan Objektivitas
           
Sebuah pelukisan sejarah kita sebut subyektif, bila subyek yang tahu yakni sejarawan sendiri jelas hadir didalamnya. Pelukisan sejarah kita sebut obyektif, bila hanya obyek penulisan sejarah dapat kita amati. Salah satu cara penulisan sejarah dapat bersifat subyektif ialah bila sejarawan membiarkan keyakinan politik atau etisnya turut berperan.
Pada prinsipnya, permasalahan mengenai subyektifitas seorang sejarawan, tidak hanya menyangkut masalah sejauh mana ia dipengaruhi oleh nilai – nilai politis atau etis – etis tertentu tapi juga dapat dipengaruhi oleh kepentingan yang melandasinya.
Fakta yang diperoleh dari kesaksian narasumber (facts of meaning) pada dasarnya tidak dapat dilihat, dirasa, dikecap, didengar, atau dicium baunya, dan dapat dikatakan bahwa fakta tersebut merupakan lambang atau wakil dari sesuatu yang pernah ada dan hanya ada dalam pemikiran pengamat atau sejarawan dan karenanya dapat disebut subyektif. Untuk dapat dipelajari secara obyektif (yakni dengan maksud memperoleh pengetahuan yang tak memihak dan benar, bebas daripada reaksi pribadi seseorang, maka fakta / informasi tersebut harus menjadi suatu obyek dan memiliki eksistensi yang merdeka diluar pemikiran manusia.
            Perbedaan pendapat mengenai subyektifitas dan obyektifitas sejarah telah lama ada semenjak jaman Renaissance. Sejak jaman tersebut para sejarawan sadar bahwa bahwa penulisan sejarah diresapi oleh nilai – nilai yang bersifat subyektif. Akan tetapi sejak abad 19 timbul suatu pemikiran baru diantara para sejarawan yang menyatakan bahwa penulisan sejarah yang seobyektif mungkin harus dapat diusahakan, akan tetapi mereka juga sadar bahwa cita- cita tersebut akan sulit terlaksana. Kenyataan terakhir ini memunculkan konsekuensi penting bagi sifat diskusi – diskusi yang berkaitan dengan subyektivitas dan obyektivitas dalam penulisan sejarah.
            Ketika seorang sejarawan dihadapkan dalam pemilihan topik penulisan sejarah, mereka harus mengadakan seleksi. Seleksi – seleksi tersebut tidak didasarkan atas prasangka atau pemihakan mengenai informasi isi sumber, seleksi ini memiliki 2 pengertian :
1. Meskipun perhatian sejarawan sangat luas, namun mereka harus menseleksi topic tertentu daru masa lalu yang menarik perhatiannya untuk diteliti.
2. Tidak seorangpun sejarawan dapat menceritakan kejadian dari masa lalu dengan lengkap dalam ruang lingkup yang dipilihnya. Ia harus menseleksi fakta – fakta karena tekanan penting dan relevansinya dengan pokok atau masalah kajiannya dan oleh karena itu ia terpaksa mengabaikan fakta – fakta lain yang dianggap tidak penting.
Bagaimanapun juga para sejarawan yang baik sepakat untuk menulis karya – karya sejarah dengan tidak memihak dan tidak bersifat pribadi.
            Kesadaran akan merasuknya nilai-nilai dalam proses penulisan sejarah oleh para sejarawan ini setidaknya sudah muncul di abad ke-16 lewat tulisan Francesco Patrizi. Meski begitu, mereka sepakat bahwa penulisan sejarah yang objektif harus selalu diusahakan. Namun ideal ini tidak berlaku untuk mazhab Prusia di Jerman. Von Sybel dan H. Von Treitshke, dua orang penganut mazhab


ini, ingin menjadikan cita-cita politik sebagai pedoman dalam penulisan sejarah. Demikian juga bagi aliran presentisme di Amerika tahun 1920-an. Mereka ingin menulis sejarah yang terilhami oleh “present needs and interest”, yaitu kepentingan politik dewasa ini. Sejarawan harus mampu untuk ikut memecahkan problem-problem masa kini.
            Demikian juga bagi kalangan marxis. Objektivitas tidak usah diusahakan karena ia sudah merupakan nilai bagi sejarawan dalam penelitiannya.
            Tanggapan untuk mereka adalah, bahwa kita menjadi tidak akan mungkin untuk mengetahui kejadian yang “sebenarnya”. Bahkan alur besar cerita yang ada bisa menjadi hilang demi kepentingan sejarawan, yang belum tentu benar. Hal itu menunjukkan bahwa objektivitas memang tidak mudah dicapai. Bagi subjektivis, hal itu tidak mungkin. Sedangkan bagi objektivis, hal itu tetap mungkin.

2.2 Masalah Objektivitas
            Fakta yang dikaji dan dihasilkan dapat menjadi intersubjektif. Dengan adanya komunikasi secara luas dapat menjadikan fakta tersebut menjadi intersubjetif. Artinya fakta tersebut semakin banyak dimiliki oleh banyak subjek. Jika fakta secara intersubjektif telah diterima sebagai kebenaran. Maka fakta tersebut dapat diobjektivikasikan menjadi suatu objek.
            Untuk menghindari kesepihakan, maka diperlukan pendekatan multidimensional, yaitu melihat dari berbagai segi dan aspeknya. Pendekatan ini inheren pada gejala sejarah yang kompleks. Pendekatan ini juga selaras dengan konsep sistem. Keterkaitan aspek – aspek itu baru dapat diungkapkan apabila konsep sistem dipergunakan dalam pengkajianya.
Seorang sejarawan tidak bisa meninggalkan kepribadianya keluar dari cerita subjek yang tangani adalah masyarakat itu sendiri dan tugasnya adalah untuk memahami dan menghitung kembali peristiwa – peristiwa dari masyarakat dan bangsanya. Walaupun kuat kepribadianya, dia tidak bisa menghindarkan diri dari lingkungan masyarakatnya. 
Untuk meminialisir subyektivitas dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan kadar obyektivitas, akan tetapi hal ini menjadi sangat sulit dilakukan dikarenakan ada beberapa fakta yang merupakan tuntutan – tuntutan yang sulit atau mustahil untuk dipenuhi seperti :
1. Kebenaran mutlak
2. Sesuai dengan kenyataan, termasuk juga yang tersembunyi
3. Netralitas mutlak, tidak memihak dan tidak terikat
4. Kondisi – kondisi yang harus lengkap untuk semua peristiwa

2.3 Faktor-faktor Subjektivitas Pengkajian Sejarah
            Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap penulisan sejarah pastinya terkandung unsur subjektifitas. Hal ini dapat terjadi apabila sejarawan yang hadir dalam suatu peristiwa membiarkan perilaku politis atau etisnya turut berperan dalam menyampaikan peristiwa tersebut.Pada prinsipnya permasalahan mengenai subjektifitas seorang sejarawan tidak hanya menyangkut masalah sejauh mana ia dipengaruhi oleh nilai-nilai politis dan nilai-nilai etis dalam meyampaikan sejarah. Namu ada kalanya hal ini juga dipengaruhi oleh adaya kepentingan yang mel;andasinya.
            Terwujudnya suatu karya sejarah menuntut tidak hanya kesungguhan


sejarawan dalam mendapatkan sumber, kemudian dengan mengandalkan fakta-fakta yang disusun berdasarkan sumber tersebut, tetapi juga lebih dituntut kemampuan untuk menjalin dan memaparkan fakta-fakta itu secara sistematisdan logis, untuk kemudian ia harus menyusun cerita di atas fakta-fakta tersebut.
            Dalam mewujudkan cerita sejarah seringkali sejarawan dihadapkan dengan persoalan tidak lengkapnya sumber, oleh karenanya dalam memaparkan cerita sejarah ia harus mampu menerangkan dan manghubungkan masing-masing fakta dengan memberikan inspirasi-inspirasi berupa intepretasi terhadap fakta yang dibuat berdasarkan sumber yang didapat. Disamping itu seorang sejarawan harus mampu menemukan hubungan intristik dari setiap fakta yang telah disusun. Pada bagian tersebut sesungguhnya seorang sejarawan tidak lagi dipandu oleh sumber, tetapi dipengaruhi oleh factor dirinya sendiri.
            Keterlibatan factor-faktor diri pada dasarnya menjadikan suatu penulisan sejarah berhadapan dengan persoalan subjektifitas. Unsur lingkungan kebudayaan, situasi sosial, kepribadian, dan lain-lain seringkali ikut mempengaruhi sejarawan dalam menulis sejarah, terutama dalam penafsiran (interpretasi) terhadap sumber serta mamberikan analisa-analisa logis terhadap fakta dalam bentuk inferensi sebagaimana yang telah disebutkan. Karena itu suatu karya sejarah yang dihasilkan sejarawan dalam bentuk waktu, sekaligus merupakan gambaran budaya dimana sejarawan tersebut tinggal.

Dalam metodologi sejarah, terdapat 4 faktor utama yang dapat menjadikan suatu penulisan sejarah bersifat subyektif, yaitu :
1. Pemihakan Pribadi (personal bias)
Persoalan suka atau tidak suka pribadi terhadap individu – individu atau golongan dari seseorang dapat mempengaruhi subyektivitas dari penulisan sejarah.
2. Prasangka Kelompok (group prejudice)
Keanggotaan sejarawan dalam suatu kelompok (ras, golongan, bangsa, agama) dapat membuat mereka memiliki pandangan yang bersifat subyektif dalam mengamati suatu peristiwa sejarah.
3. Teori – Teori Bertentangan Tentang Penafsiran Sejarah (conflicting theories of historical interpretation)
Pandangan/ideology yang dianut sejarawan memegang peranan penting dalam menentukan subyektivitas penulisan sejarah.
4. Konflik – konflik Filsafat Yang Mendasar (underlying pgilosophical conflicts)
Secara teoritis seseorang yang menganut filsafat hidup tertentu akan menulis sejarah berdasarkan pandangannya tersebut.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa banyak sekali kesubjektivitasan sejarah yang ada didunia ini. Alasan mengapa sejarah selalu memiliki perbedaan disetiap negara adalah karena Sejarah sendiri adalah buatan manusia dan sejarah dibuat oleh pemikiran-pemikiran seorang manusia. Maka tidak mengherankan jika terjadi perbedaan Sejarah masing-masing tempat atau negara.
Itulah mengapa dalam sejarah sendiri tidak ada yang dianggap sebuah “kebenaran” dan “kenyataan” mutlak. Hal tersebut benar-benar diluar kemampuan seperti hilangnya petunjuk, rusaknya bekas peninggalan atau seperti ada tujuan tertentu.


Dalam penjabaran sebuah sejarah, seorang sejarawan memiliki hakikat yang valid tetapi relatif. Apabila hubungan kebenaran bertambah dalam hakikat sejarah tersebut, maka sejarah disini dalam arti yang benar dalam batas-batas kemampuannya. Secara garis besar, dalam penulisan sejarah tidak mempersoalkan tentang kebohongan atau dusta, tapi lebih mengacu kesanggupan sejarawan tersebut dalam menjelaskan sebuah kebenaran.

2.4 Pendapat beberapa tokoh yang diungkapkan secara tertulis
·         Ibnu Khaldun menunjukkan beberapa hal yang menyebabkan seseorang salah menginterpretasikan atau berbohong tentang peristiwa sejarah, yaitu sebagai berikut.
1.      Semangat terlibat pada pendapat-pendapat dan mazhab-mazhab. Apabila pikiran dalam keadaan netral dan normal menerima informasi, dan informasinya diselidiki dan dipertimbangkan, ia dapat menjelaskan kebenaran yang terkandung dalam berita tersebut. Akan tetapi, apabila pikiran dihinggapi semangat terlibat terhadap suatu pendapat atau kepercayaan, pikiran akan menerima informasi yang menguntungkan pendapat atau kepercayaannya. Oleh karena itu, semangat terlibat merupakan penutup terhadap pikiran, mencegahnya untuk melakukan kritik dan analisis, dan membuat pertimbangannya condong pada kebohongan. Akibatnya, kebohongan itu diterima dan dinukilkan.
2.      Terlalu percaya kepada orang-orang yang menukilkan. Pemeriksaan terhadap subjek ini bergantung pada keadilan atau kecacatan yang secara luas digunakan oleh para sarjana muslim untuk penelitian hadis. Dengan proses penelitian tersebut ditemukanlah hadis yang palsu.
3.      Tidak sanggup memahami maksud yang sebenarnya. Banyak sekali penukil tidak mengetahui maksud sebenarnya dari observasinya, atau segala sesuatu yang ia pelajari hanya menurut pikiran dan pendengarannya.
4.      Asumsi yang tidak beralasan terhadap kebenaran sesuatu. Hal ini sering terjadi. Pada umumnya asumsi itu muncul dalam bentuk terlalu percaya pada kebenaran para penukil.
5.      Ketidaktahuan tentang kondoso yang sesuai dengan realita disebabkan kondisi itu dimasuki ambisi dan distorsi artifisial. Sang informan puas menukilkannya seperti distorsi artifisial (kesenjangan maknawi) itu dia tidak mempunyai gambaran yang benar tentang kondisi-kondisi tersebut.
6.      Adanya fakta bahwa kebanyak orang cenderung untuk mengambil hati orang-orang yang berpredikat besar dan menyiarkan kemashyurannya, membujuk, menganggap baik segala perbuatan mereka dan memeberi tafsiran yang selalumenguntungkan terhadp semua tindakan mereka. Hasilnya, informasi yang dipublikasikan menjadi tidak jujur dan menyimpang dari yang sebenarnya.
7.      Ketidaktahuan tentang watak berbagai kondisi yang muncul dalam peradaban. Setiap peristiwa atau fenomena, baik yang berhubungan sengan esensi maupun yang dihasilkan oleh perbuatan, pasti mempunyai watak khas untuk efisiensi peristiwa tersebut, dan untuk kondisi-kondisi peristiwa yang melebur diri ke dalamnya. Oleh karena


itu, apabila pendengar mengetahui watak peristiwa, keadaan, dan syarat yang dibutuhkan disalam dunia eksistensi, pengetahuan itu akan membantunya untuk membedakan yang benar dari yang tidak benar dalam pemeriksaan informasi yang kritis dari aspek lain yang ada hubungannya dengan hal tersebut.

·         Nilai sejarah tertulis, menurut Dr. Hasan Usman, harus didefinisikan berdasar asas-asa yang esensial berikut.
1.      Jenis data yang informasinya dijadikan sumber oleh penelitian harus terus digali. Apakah berupa ukiran atau peninggalan kuno yang baru, yang validitasnya atau informasinya dapat dipercaya, atau merupakan sumber dokumen, surat-surat yang dikeluarkan dari arsip historis yang diyakini tidak palsu dan dapat dijadikan informasi yang valid, belum pernah diumumkan atau belum pernah digunakan secara sempurna, atau sekunder yang tidak memiliki nilai ilmiah.
2.      Nilai sejarah yang dituklis ditentukan berdasarkan kemampuan peneliti dalam mempelajari dan menelitinya, dan kemampuannya mengkritik manuskrip, sumber-sumber dan referensi yang ada, dan berdasarkan sisitem penyimpulan, para peneliti saling berbeda atau satu sama lain sejalan dengan perbedaannya dalam memahami, menginterpretasikan dan menyingkapkan.
Nilai sejarah yang ditulis ditentukan oleh upaya peneliti menjauhkan dirinya dari memihak dan hawa nafsu, dan penyesuaiannya dengan fakta sekadar kemampuannya. Terkadang, seorang peneliti terprngaruh oleh jiwa masa tertentu, seperti masa peperangan Salib atau masa Revolusi Industri atau pertumbuhan demokrasi atau lahirnya sosialisme sehingga ia menulis dengan berusaha menundukkan tema tertentu pada pendapat dan pemikirannya. Tulisan dari seorang penulis Masehi yang menyerang kaum muslim dalam Perang Salib atau sebaliknya secara umum tidak akurat. Jika demikian, tulisan yang sengaja oleh penulisnya, dengan mengambil arah tertentu terkadang dapat digolongkan dalam sejarah jenis pemikiran kecenderungan manusia yang perlu dipelajari, tetapi tidak bisa dimasukkan sebagai ungkapan hakikat sejarah sehubungan dengan tema-tema yang didapatkan.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Objektivitas dan subjektivitas merupakan dua kata yang seringkali salah difahami oleh sebagian orang terutama dalam penulisan sejarah.Padahal kata objektif dalam penulisan sejarah mengacu pada peristiwa yang sebenarnya terjadi dan tidak bisa terulang lagi. Sedangkan sejarah yang subjektif merupakan gambaran dari peristiwa sejarah yang di tulis oleh seorang sejarawan. Karena itu kedua-duanya merupakan bagian dari penulisan sejarah
B.     Saran
1.      Agar dapat menjadi seorang sejarawan baiknya kita memahami tentang Subjektifitas dan obyektifitas dalam penulisan sejarah.
2.      Ada pepatah mengatakan “yang lalu biarlaah berlalu”..Tapi pepatah itu tidak untuk kita di sini,karna “sejarah itu guru kehidupan”yang bisa menjelaskan kenapa kita bisa seperti ini sekarang.



DAFTAR RUJUKAN
Ankersmit, F.R., Refleksi Tentang Sejarah; Pendapat-Pendapat Moderen tentang Filsafat Sejarah, Jakarta: Gramedia, 1987, Bab XII: Subjektivitas dan Objektivitas:Nilai-Nilai dalam Pengkajian Sejarah, hal. 318-346.
Sudarminta, J., Epistemologi Dasar, Pengantar Filsafat Pengetahuan, Yogjakarta: 2002.
-------------, Hermeneutika Gadamer, makalah dalam mk. Filsafat Kontemporer, STF Driyarkara 2007.
Abdillah Aam, Pengantar Ilmu Sejarah; Objektivitas dan Subjektivitas Sejarah ha. 33-37
Syajarrah.blogspot.com, Kamis, 21 Januari 2010;Subyektivitas dan Obyektivitas Sejarah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar