A.
ASAL-USUL
KOTA MALANG
Awalnya seorang raja yang bijaksana dan amat sakti, Dewasimha
namanya. Ia menjaga istananya yang berkilauan serta dikuduskan oleh api suci
Sang Putikewara (Ciwa). Berbahagialah sang Raja Dewasimha karena dewa-dewa telah
menganugerahkan dalam hidupnya seorang putera sebagai pewaris mahkotanya. Putra
yang kemudian menjadi pelindung kerajaan itu bernama Liswa atau juga dikenal
sebagai Gajayana. Adalah Gajayana seorang raja yang begitu dicintai rakyatnya,
berbudi luhur dan berbuat baik untuk kaum pendeta serta penuh baktu
sesungguh-sungguhnya kepada Resi Agastya. Sebagai
tanda bakti yang tulus kepada Resi tersebut, sang Raja Gajayana telah membangun
sebuah candi yang permai untuk mahresi serta untuk menjadi penangkal segala
penyakit dan malapetaka kerajaan. Jikalau nenek moyangnya telah membuat arca
Agstya dari kayu cendana, maka Raja Gajayana sebagai pernyataan bakti dan
hormatnya telah memerintahkan kepada pemahat-pemahat ternama di seantero
kerajaan untuk membuat arca Agastya dari batu hitam nan indah, agar semua dapat
melihatnya. Arca Agastya yang diberi nama Kumbhayoni itu, atas perintah raja
yang berbudi luhur tersebut kemudian diresmikan oleh para Regveda, para
Brahmana, pendeta-pendeta terkemuka dan para penduduk negeri yang ahli, pada
tahun Saka, Nayana-Vava-Rase(682) bulan Magasyirsa tepat pada hari Jum’at
separo terang.
Ia
Raja Gajayana yang perkasa itu adalah seorang agamawan yang sangat menaruh
hormat kepada para pendeta. Dihadiahkannya kepada mereka tanah-tanah beserta
sapi yang gemuk, sejumlah kerbau, budak lelaki dan wanita, serta berbagai
keperluan hidup seperti sabun-sabun tempat mandi, bahan upacara sajian,
rumah-rumah besar penuh perlengkapan hidup seperti : penginapan para brahmana
dan tamu, lengkap dengan pakaian-pakaian, tempat tidur dan padi, jewawut.
Mereka yang menghalang-halangi kehendak raja untuk memberikan hadiah-hadiah
seperti itu, baik saudara-saudara, putera-putera raja, dan Menteri Pertama,
maka mereka akan menjadi celaka karena pikiran-pikiran buruk dan akan masuk ke
neraka dan tidak akan memperoleh keoksaan di dunia atau di alam lain. Ia,
sebaliknya selalu berdoa dan berharap semoga keturunannya bergirang hati dengan
hadiah-hadiah tersebut, memperhatikan dengan jiwa yang suci, menghormati kaum
Brahmana dan taat beribadat, berbuat baik, menjalankan korban, dan mempelajari
Weda. Semoga mereka menjaga kerajaan yang tidak ada bandingannya ini seperti
sang Raja telah menjaganya.
Raja
Gajayana mempunyai seorang puteri Uttejena yang kelak meneruskan Vamcakula
ayahandanya yang bijaksana itu.
Cerita
di atas diangkat sari satu prasasti yang bernama “Prasasti Dinaya atau
Kanjuruhan” menurut nama desa yang disebutkan dalam piagam tersebut. Seperti
tertulis di dalamnya, prasasti ini memuat unsur penanggalan dalam
candrasengkala yang berbunyi : “Nayana-vaya-rase” yang bernilai 682 tahun caka
atau tahun 760 setelah Masehi.
Apabila
prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Gajayana pada tahun 760 sesudah Masehi, maka
paling tidak prasasti itu merupakan sumber tertulis tertua tentang adanya
fasilitas politik yakni berdirinya kerajaan Kanjuruan di wilayah Malang. Tempat
itu sekarang dikenal dengan nama Dinoyo terletak 5 km sebelah barat Kota
Malang. Di tempat ini menurut penduduk disana, masih ditemukan patung Dewasimha
yang terletak di tengah pasar walaupun hampir hilang terbenam ke dalam tanah.
B.
SEJARAH
NAMA “MALANG” Wilayah
cekungan Malang telah ada sejak masa
purbakala
menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya
sungai
yang mengalir di sekitar tempat ini
membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas
diketahui merupakan kawasan pemukiman
prasejarah.
Selanjutnya, berbagai
prasasti
(misalnya
Prasasti Dinoyo), bangunan
percandian dan arca-arca,
bekas-bekas
fondasi
batu bata,
bekas salurandrainase,
serta berbagai
gerabah
ditemukan dari periode akhir
Kerajaan Kanjuruhan
(abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di
tempat yang berdekatan.
Nama
"Malang" sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli
sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh
jawaban yang tepat atas asal-usul nama "Malang". Sampai saat ini
telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut.
Malangkuçeçwara
(Malangkusheswara) yang tertulis di
dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah
bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti
Raja Balitung
dari
Jawa Tengah
yakni
prasasti Mantyasih
tahun
907, dan prasasti
908
yakni diketemukan di satu tempat
antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci
Malangkuçeçwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu
pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung
Buring, satu pegunungan yang
membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung
yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan
karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang
bernama Malang.
Pihak
yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di
daerah
Tumpang, satu
tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih
terdapat sebuah desa yang bernama
Malangsuka, yang oleh sebagian
ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik.
Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang
berserakan di daerah tersebut, seperti
Candi Jago
dan
Candi Kidal,
yang keduanya merupakan peninggalan zaman
Kerajaan Singasari.
Dari
kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah
kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama
bangunan suci
Malangkuçeçwara
itu. Apakah daerah di sekitar Malang
sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu.
Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun
1974
di perkebunan Bantaran,
Wlingi, sebelah
barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “…………
taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa
Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di
sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan
Dyah Limpa yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu
tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu.
Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada
paling tidak sejak abad
12 Masehi.
Nama
Malangkuçeçwara terdiri atas 3 kata, yakni
mala yang berarti kecurangan, kepalsuan,
dan kebatilan;
angkuça (baca: angkusha) yang berarti
menghancurkan atau membinasakan; dan
Içwara (baca: ishwara) yang berarti
"Tuhan". Sehingga, Malangkuçeçwara berarti "Tuhan telah
menghancurkan kebatilan".
Hipotesa-hipotesa
terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama
Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa
Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan
Mataram
yang ingin meluaskan pengaruhnya ke
Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu
melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap
bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud
Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang.
C.
SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA MALANG Timbulnya
Kerajaan Kanjuruhan
tersebut, oleh para ahli sejarah
dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat
ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang.
Setelah
kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan
Singasari
(1000 tahun setelah Masehi) di daerah
Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta
tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika
Islam
menaklukkan
Kerajaan Majapahit
sekitar tahun
1400, Patih Majapahit
melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu
yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju.
Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat
sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama
Kutobedah
di desa Kutobedah. Adalah Sultan
Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan daerah ini pada tahun
1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.
Seperti
halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern
tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial
Hindia
Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi
kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang,
misalnya
''Ijen Boullevard''
dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya
hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya,
sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota
dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi
monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga
Belanda yang pernah bermukim di sana.
Pada
masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah
Malang dijadikan wilayah "Gemente" (Kota). Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terdapat
tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor,
sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada
tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut berubah
menjadi : “Malangkuçeçwara”. Semboyan baru ini diusulkan oleh
almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, karena
kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada
masa Ken Arok kira-kira
7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi
yang bernama Malangkuçeçwara.
Kota
malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial
Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada
tahun 1879. Berbagai
kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan
berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang
terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami
perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan
industri.
·
Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
·
Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di
sekitar kali Brantas·
Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
·
Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan
Kota didirikan alun-alun di bangun.
·
1 April 1914 Malang di
tetapkan sebagai Kotapraja
·
8 Maret 1942 Malang diduduki
Jepang
·
21 September 1945 Malang masuk
Wilayah Republik Indonesia
·
22 Juli 1947 Malang diduduki
Belanda
·
2 Maret 1947 Pemerintah
Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
·
1 Januari 2001, menjadi Pemerintah
Kota Malang.
D.
TENTANG
KOTA MALANG
1. Lambang dan Motto Kota Malang
·
Motto "MALANG KUÇEÇWARA"
berarti Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar
·
Arti Warna :
·
Merah Putih, adalah lambang bendera
nasional Indonesia
·
Kuning, berarti keluhuran dan kebesaran
·
Hijau adalah kesuburan
·
Biru Muda berarti kesetiaan pada Tuhan,
negara dan bangsa
·
Segilima berbentuk perisai bermakna
semangat perjuangan kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat
membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Semboyan tersebut dipakai sejak hari
peringatan 50 tahun berdirinya KOTAPRAJA MALANG 1964, sebelum itu yang
digunakan adalah : "MALANG NAMAKU, MAJU TUJUANKU", yang
merupakan terjemahan dari "MALANG NOMINOR, SURSUM MOVEOR" Yang disahkan dengan
"Gouvernement besluit dd. 25 April 1938 N. 027". Semboyan baru itu
diusulkan oleh Prof.DR. R.Ng.Poerbatjaraka, dan erat hubungannya dengan asal
mula Kota Malang pada zaman Ken Arok.2. Demografi Jumlah
penduduk Kota Malang 820.243 (2010), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun.
Sebagian
besar adalah suku Jawa, serta
sejumlah suku-suku minoritas seperti Madura,Arab, dan Tionghoa.
Agama
mayoritas adalah Islam, diikuti
dengan Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Bangunan tempat ibadah banyak yang
telah berdiri semenjak zaman kolonial antara lain Masjid Jami (Masjid Agung), Gereja Hati Kudus Yesus, Gereja Kathedral Ijen (Santa
Perawan Maria dari Gunung Karmel), Klenteng di Kota Lama serta Candi Badut di
Kecamatan Sukun dan Pura di puncak Buring. Malang juga menjadi pusat pendidikan
keagamaan dengan banyaknya Pesantren, yang terkenal ialah Ponpes Al Hikampimpinan KH. Hasyim Muzadi, dan juga
adanya pusat pendidikan Kristen berupa Seminari Alkitab yang
sudah terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara.
Bahasa Jawa dengan
dialek Jawa Timuran adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Kalangan
minoritas Suku Madura menuturkan Bahasa Madura.
Malang dikenal memiliki dialek khas yang disebut Boso Walikan,
yaitu cara pengucapan kata secara terbalik, misalnya Malang menjadi Ngalam, bakso menjadi oskab' burungmenjadi ngurub,
dan contoh lain seperti saya bangga arema menang-ayas bangga arema nganem .
Gaya bahasa masyarakat Malang terkenal egaliter dan blak-blakan, yang
menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi.
3. Iklim dan
Geologi Kondisi iklim Kota
Malang selama tahun 2006 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara
22,2 °C - 24,5 °C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 32,3 °C dan
suhu minimum 17,8 °C . Rata kelembaban udara berkisar 74% - 82%. dengan
kelembaban maksimum 97% dan minimum mencapai 37%. Seperti umumnya daerah lain
di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan
musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso curah
hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April,
dan Desember. Sedangkan pada bulan Juni, Agustus, dan Nopember curah hujan
relatif rendah.
Keadaan tanah di
wilayah Kota Malang antara lain :·
Bagian selatan merupakan dataran tinggi
yang cukup luas, cocok untuk industri
·
Bagian utara merupakan dataran tinggi
yang subur, cocok untuk pertanian
·
Bagian timur merupakan dataran tinggi
dengan keadaan kurang kurang subur
·
Bagian barat merupakan dataran tinggi
yang amat luas menjadi daerah pendidikan
4.
Budaya Kekayaan etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang
berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang ada. Salah satunya yang terkenal
adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh
kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa
Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal
tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur
budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di
lereng gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng
gunung Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka
bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA)
serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang.
Di
kota Malang juga terdapat tempat yang merupakan sarana apresiasi budaya Jawa
Timur yaitu Taman Krida Budaya Jawa Timur, di tempat
ini sering ditampilkan aneka budaya khas Jawa Timur seperti Ludruk, Ketoprak, Wayang Orang, Wayang Kulit, Reog, Kuda Lumping, Sendra
tari, saat ini bertambah kesenian baru yang kian berkembang pesat di kota
Malang yaitu kesenian "Bantengan" kesenian ini merupakan hasil dari
kreatifitas masyarakat asli malang, sejak dahulu sebenarnya kesenian ini sudah
dikenal oleh masyarakat malang namun baru sekaranglah "Bantengan"
lebih dikenal oleh masyarakat tidak hanya masyarakat lokal namun juga luar
daerah bahkan mancanegara. Khusus di Malang sering diadakan pergelaran
bantengan hampir setiap perayaan hari besar baik keagamaan maupun peringatan
hari kemerdekaan.
Festival
tahunan yang menjadi event ikon kota juga sering diadakan setiap tahunnya.
Beberapa festival kota tahunan diantaranya adalah:·
Festival Malang Kembali: Diadakan untuk memperingati
HUT Kota Malang, biasa digelar pada tanggal 21 Mei. Festival ini mengusung
situasi kota pada masa lalu, mengubah jalan-jalan protokol kota menjadi museum
hidup selama kurang lebih 1 minggu festival ini diadakan.
·
Karnaval Bunga
·
Karnaval Lampion: Biasa diadakan untuk merayakan hari
raya imlek
E.
PENINGGALAN
DIKOTA MALANG
|
DISBUDPAR
newsroom : Candi Singosari ditemukan sekitar awal abad 19 tahun
(1800-1850), oleh orang Belanda yang bernama Nicolaus Engelhard, dengan
sebutan candi Menara karena bentuknya seperti menara, namun penduduk setempat
menamakannya candi Singosari karena letaknya di Singosari, ada pula
sebagian orang menyebutnya Candirenggo, karena letaknya di Desa Candirenggo.
Candi
Singosari terbuat dari batu endesit, dengan bentuk bangunan persegi empat,
terdiri dari batur candi atau teras, kaki candi, tubuh candi dan atap
candi atau puncak yang menjulang keatas semakin runcing, candi
Singosari merupakan gambaran gunung Himalaya di India, dan fungsi Candi
Singosari adalah sebagai tempat pemujaan di zaman Hindu, sedangkan lokasi
Candi di Jalan Kertanegara, Desa Candirenggo, Kel. Candirenggo, Kec.
Singosari, Kab. Malang.
Dihalaman
candi berjejer arca-arca, rapi tertata dengan baik , dari arah utara kearah
selatan, yang sebagiaan arcanya sudah tidak utuh, seperti, arca lembu nandi,
arca Mahakala, arca tokoh Dewi, arca Asta Dikpalaka ( 8 dewa penjuru), arca
Dewi Durgamahisasuramardini, dll.
Menurut juru pelihara candi (Abdul
Rochman) mengatakan pengunjung yang datang kesini pada bulan September
tahun 2010 mencapai 1.193 orang, yang berasal dari lokal dan diluar
kota malang yang ada diwilayah Jawa Timur.
Candi Jago
Candi Jago
terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang,
tepatnya 22 km ke arah timur dari Kota Malang. Karena letaknya di Desa
Tumpang, candi ini sering juga disebut Candi Tumpang. Penduduk setempat
menyebutnya Cungkup. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, nama candi
ini yang sebenarnya adalah Jajaghu. Dalam pupuh 41 gatra ke-4 Negarakertagama
dijelaskan bahwa Raja Wisnuwardhana yang memerintah Singasari menganut agama Syiwa Buddha, yaitu suatu
aliran keagamaan yang merupakan perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha.
Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari,
sebuah kerajaan yang letaknya sekitar 20 km dari Candi Jago. Jajaghu, yang
artinya adalah 'keagungan', merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut
tempat suci.
Masih menurut kitab
Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago berlangsung sejak tahun
1268 M sampai dengan tahun 1280 M, sebagai penghormatan bagi Raja Singasari
ke-4, yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan
Kerajaan Singasari, disebut dalam kedua kitab tersebut bahwa Candi Jago
selama tahun 1359 M merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja
Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan
Singasari terlihat juga dari pahatan padma (teratai), yang menjulur ke atas
dari bonggolnya, yang menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam
itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari.
Yang perlu dicermati dalam sejarah
candi adalah adanya kebiasaan raja-raja zaman dahulu untuk memugar
candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Diduga Candi Jago juga
telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman
dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.
Saat ini Candi Jago masih berupa reruntuhan yang belum dipugar. Keseluruhan
bangunan candi berbentuk segi empat dengan luas 23 x 14 m. Atap candi sudah
hilang, sehingga tinggi bangunan aslinya tidak dapat diketahui dengan pasti.
Diperkirakan bahwa tingginya mencapai 15 m.
Bangunan candi menghadap ke barat,
berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m dan kaki candi yang terdiri atas 3
teras bertingkat. Makin ke atas, teras kaki candi makin mengecil sehingga
pada lantai pertama dan kedua terdapat selasar yang dapat dilewati untuk
mengelilingi candi. Garba ghra (ruang utama) terletak bergeser agak ke
belakang.
Bentuk bangunan bersusun,
berselasar dan bergeser ke belakang merupakan bentuk yang umum ditemui pada
bangunan pada zaman megalitikum, yaitu yang disebut sebagai bangunan punden
berundak. Bentuk itu umumnya digunakan dalam membangun tempat pemujaan arwah
leluhur. Menilik bentuknya, diperkirakan bahwa tujuan pembangunan Candi Jago
adalah juga untuk tempat pemujaan arwah leluhur. Namun masih diperlukan
penelitian dan pengkajian lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya.
|
Untuk naik ke lantai yang lebih
atas, terdapat dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depan
(barat). Lantai yang terpenting peranannya dan tersuci adalah yang paling
atas, dengan bangunan yang letaknya sedikit bergeser ke belakang.
|
|
Candi Jago dipenuhi dengan
panel-panel relief yang terpahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding
ruangan teratas. Hampir tidak terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi
dengan aneka ragam hiasan dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur
pelepasan kepergian. Hal ini menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Jago
berkaitan erat dengan wafatnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama
yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana, yaitu Syiwa Buddha, maka relief pada
Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha.
Ajaran
Buddha tercermin dalam relief cerita Tantri Kamandaka dan cerita Kunjarakarna
yang terpahat pada teras paling bawah. Pada dinding teras kedua terpahat
lanjutan cerita Kunjarakarna dan petikan kisah Mahabarata yang memuat ajaran
agama Hindu, yaitu Parthayajna dan Arjuna Wiwaha. Teras ketiga dipenuhi
dengan relief lanjutan cerita Arjunawiwaha. Dinding tubuh candi juga dipenuhi
dengan pahatan relief cerita Hindu, yaitu peperangan Krisna dengan
Kalayawana.
Di tengah pelataran depan, sekitar
6 m dari kaki candi, terdapat batu besar yang dipahat menyerupai bentuk
tatakan arca raksasa, dengan diameter batu sekitar 1 m. Di puncaknya terdapat
pahatan bunga padma yang menjulur dari bonggolnya.
Di sisi barat halaman candi
terdapat arca Amoghapasa berlengan delapan dilatarbelakangi singgasana
berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi. Kepala arca tersebut telah
hilang dan lengan-lengannya telah patah. Sekitar 3 m di selatan arca ini
terdapat arca kepala rasaksa setinggi sekitar 1 m. Tidak didapat informasi
apakah benda-benda yang terdapat di pelataran candi tersebut memang aslinya
berada di tempatnya masing-masing.
Candi Kidal
Candi Kidal terletak di Desa
Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya sekitar 20 km ke
arah timur dari kota Malang. Candi ini dapat dikatakan merupakan candi
pemujaan yang paling tua di Jawa Timur, karena pemerintahan Airlangga
(11-12 M) dari Kerajaan Kahuripan dan raja-raja Kerajaan Kediri (12-13 M)
hanya meninggalkan Candi Belahan dan Jalatunda yang merupakan petirtaan
atau pemandian. Candi Kidal dibangun pada 1248 M, setelah upacara pemakaman
'Cradha' untuk Raja Anusapati dari Kerajaan Singasari. Tujuan pembangunan
candi ini adalah untuk mendarmakan Raja Anusapati, agar sang raja dapat
mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Dibangun pada masa transisi
dari zaman keemasan pemerintahan kerajaan-kerajaan Jawa Tengah ke
kerajaan-kerajaan Jawa Timur, pada Candi Kidal dapat ditemui perpaduan
corak candi Jawa Tengah dan candi Jawa Timur. Sebagian pakar bahkan
menyebut Candi Kidal sebagai prototipe candi Jawa Timuran.
Bangunan candi seluruhnya
terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Di sekeliling
halaman candi terdapat susunan batu yang berfungsi sebagai pagar. Tubuh
candi berdiri diatas batur (kaki candi) setinggi sekitar 2 m. Untuk
mencapai selasar di lantai kaki candi dibuat tangga batu tepat di depan
pintu. Yang menarik, anak tangga dibuat tipis-tipis, sehingga dari kejauhan
tampak seperti bukan tangga masuk yang sesungguhnya. Tangga batu ini tidak
dilengkapi pipi tangga berbentuk ukel, sebagaimana yang banyak dijumpai di
candi lainnya, namun di kiri-kanan anak tangga pertama terdapat badug
(tembok rendah) berbentuk siku yang menutup sisi samping dan sebagian sisi
depan kaki tangga. Badug semacam ini tidak terdapat di candi lain.
Pintu
candi menghadap ke barat, dilengkapi dengan bilik penampil dengan hiasan
kalamakara (kepala Kala) di atas ambangnya. Hiasan kepala kala yang nampak
menyeramkan dengan matanya melotot penuh, mulut terbuka serta 2 taring
besar dan bengkok, memberi kesan dominan. Adanya 2 taring tersebut juga
merupakan ciri khas candi Jawa Timur. Disudut kiri dan kanan terdapat jari
tangan dengan mudra (sikap) mengancam, sehingga sempurnalah kesan seram
yang patut dimiliki oleh makhkuk penjaga bangunan suci candi. Di kiri
dan kanan pintu terdapat relung kecil tempat meletakkan arca yang
dilengkapi dengan bentuk 'atap' di atasnya. Di atas ambang relung-relung
ini juga terdapat hiasan kalamakara.
Atap
Candi Kidal berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil.
Puncaknya tidak runcing, melainkan persegi dengan permukaan yang cukup
luas. Puncak atap tidak dihiasi dengan ratna atau stupa, melainkan hanya
datar saja. Sekeliling tepi masing-masing lapisan dihiasi dengan ukiran
bunga dan sulur-suluran. Konon dulu di setiap sudut lapisan atap candi
dipasang sebuah berlian kecil. Sekeliling kaki candi dihiasi dengan pahatan
bermotif medalion yang berjajar diselingi bingkai bermotif bunga dan
sulur-suluran. Di kiri dan kanan pangkal tangga serta di setiap sudut yang
menonjol ke luar terdapat patung binatang yang terlihat mirip singa dalam
posisi duduk seperti manusia dengan satu tangan terangkat ke atas.
Patung-patung ini terlihat seperti sedang menyangga pelipit atas kaki candi
yang menonjol keluar dari selasar.
Tubuh
candi dapat dikatakan ramping, sehingga selasar di kaki candi cukup lebar.
Dalam tubuh candi terdapat ruangan yang tidak terlalu luas. Saat ini
ruangan tersebut dalam keadaan kosong. Dinding candi juga dihiasi dengan
pahatan bermotif medalion. Pada dinding di sisi samping dan belakang
terdapat relung tempat meletakkan arca. Relung-relung tersebut juga
dilengkapi dengan bentuk 'atap' dan hiasan kalamakara di atas ambangnya.
Tidak satupun arca yang masih bisa didapati di Candi Kidal. Konon arca
Syiwa yang indah, yang saat ini tersimpan di museum Leiden, dahulu berasal
dari Candi Kidal.
Dalam kesusastraan Jawa
kuno, terdapat mitos yang terkenal di kalangan masrakyat, yaitu mitos
Garudheya, seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan
dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon relief mitos
Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken
Dedes, ibunda yang sangat dicintainya. Mitos Garudheya tertuang secara
lengkap dalam relief di seputar kaki candi. Untuk membacanya digunakan
teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), dimulai dari sisi
selatan.
Relief
pertama menggambarkan seekor garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief
kedua melukiskan seekor garuda dengan kendi diatas kepalanya, dan relief
ketiga garuda menggendong seorang wanita. Diantara ketiga relief tersebut,
relief kedua adalah yang paling indah dan utuh.
Mitos Garudheya
Mitos Garudheya hidup di
kalangan masyarakat Jawa kuno, khususnya yang mendapat pengaruh Hinduisme.
Mitos ini mengisahkan perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya dari
penderitaan. Alkisah di sebuah pertapaan, tinggal seorang resi bernama Resi
Kasyapa dengan dua orang istrinya, Dewi Winata dan Dewi Kadru. Walaupun
kedua istri sang resi tersebut bersaudara kandung, namun di antara keduanya
terjadi persaingan keras untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari
suaminya. Oleh karena itu, keduanya merasa gelisah ketika mereka tak juga
dikaruniai putra.
Pada suatu hari, Dewi
Winata kedatangan seorang dewa yang menghadiahkan sebuah telur kepadanya.
Dewa itu berpesan agar Dewi Winata menjaga telur itu baik-baik hingga
saatnya menetas nanti dan merawat makhluk yang keluar dari dalam telur
tersebut. Sang Dewi lalu menyimpan telur di tempat tersembunyi. Pada saat
yang bersamaan ternyata Dewi Kadru juga mengalami hal yang sama. Setelah
tiba waktunya, telur yang diberikan kepada Dewi Winata menetas dan dari
dalam telur tersebut keluar seekor anak burung. Sementara itu, telur milik
Dewi Kadru juga menetas dan dari dalamnya keluar beberapa ekor ular. Kedua
wanita itu merawat anak-anak angkat mereka dengan baik. Anak angkat Dewi
Winata tumbuh menjadi seekor garuda yang diberi nama Garudheya, sementara
anak-anak Dewi Kadru tumbuh menjadi naga.
Walaupun masing-masing
telah mempunyai anak angkat, persaingan di antara kedua wanita tersebut
tidak mereda. Pada suatu hari, Dewi Kadru menipu kakaknya dalam sebuah
taruhan, sehingga ia memenangkan taruhan tersebut. Dewi Winata yang kalah
harus menjadi budak Dewi Kadru dan anak-anaknya. Garudheya sangat sedih
melihat penderitaan ibunya. Setelah dewasa, Garudheya berusaha mencari cara
untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Akhirnya Garudheya berhasil
mendapatkan keterangan bahwa ibunya akan bebas dari ikatan perjanjian
dengan tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang tersimpan di kahyangan dan
dijaga oleh Dewa Wisnu. Setelah melalui berbagai perjuangan, Garudheya
berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk mengambil tirta amerta yang
diperlukan untuk meruwat (membebaskan dari penderitaan) ibunya dengan
syarat ia harus menjadi tunggangan Dewa Wisnu.
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar