1. PENDAHULUAN
1.1
L 1.1 Latar Belakang
Agama
Islam adalah agama yang baru saja berkembang di Nusantara dibandingkan agama
sebelum-sebelumnya seperti Hindu-Buddha. Dalam perkembangannya, ajaran pada
Agama Islam memiliki pengaruh dan peran penting pada agama lain sebelumnya dan
berdampak pada perubahan baik dari segi fisik maupun yang non-fisik yakni pada
kerajaan yang memegang aliran Hindu-Buddha, seperti pada sebuah buku berjudul Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya
Negara-negara Islam di Nusantara karangan Slamet Muljana ada kata menarik
yang ditulis disana yakni yang berbunyi “Kisah
Kehancuran Majapahit, yang diiringi oleh tumbuhnya negara-negara Islam di Bumi
Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang menarik untuk diungkit
kembali.”
Dari
segi fisik saja, dapat dilihat dari beberapa dampak yang ditimbulkan akibat
penyebaran Islam terhadap ke eksistensian kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang
telah sekian lama berdiri dan berkembang. Agama Islam tersebar bahkan diseluruh
Nusantara, terutama di Pulau Jawa yang pada saat itu mayoritas Kerajaan aliran
agama Hindu-Buddha ada disana. Hal ini berpengaruh penting terhadap kepercayaan
yang nantinya dianut oleh sebuah masyarakat disuatu kerajaan itu, belum lagi
masih adanya perebutan wilayah kekuasaan antara kedua belah pihak agar daerah
yang berhasil dikuasai dapat dengan mudah dalam menyebarkan agama
masing-masing.
Penyebaran
agama Islam di Nusantara yang berdampak pada perkembangan Kerajaan Hindu-Buddha
ini penting adanya, yakni untuk mengkaji apa saja yang menjadi penyebab dan
alasan bagaimana proses penyebaran agama Islam itu sendiri sehingga bisa
berdampak pada suatu Kerajaan beraliran agama Hindu-Buddha. Bahkan dampak dari
penyebaran agama Islam ini sendiri menjadikan kerajaan Hindu-Buddha sebelumnya
mengalami masa keruntuhan dan penyempitan daerah kekuasaan akibat meluasnya
ajaran Agama Islam terutama di Pulau Jawa. Dapat diambil contoh dari Kerajaan
Hindu-Buddha di Pulau Jawa yang paling akhir, yaitu Kerajaan Majapahit.
Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan salah satu sebabnya selain perebutan
kekuasaan oleh pihak keluarga, juga karena adanya serangan dari luar yang
berasal dari orang Kerajaan Demak. Kerajaan Demak sendiri adalah Kerajaan Islam
pertama yang berdiri ditanah Jawa. Untuk bisa menyebarkan kekuasaan, maka harus
adanya perluasan kekuasaan maupun ajaran yang nantinya akan diajarkan.
Disini
bisa didapatkan informasi kepada pembaca, tidak hanya penulis bahwa Agama Islam
memiliki pengaruh kuat, terbukti dari adanya pengaruh yang ditimbulkan pada
Kerajaan Hindu-Buddha. Dapat juga dikaji bahwa dalam proses penyebaran Islam
ini lebih mudah diterima dan diterapkan oleh masyarakat sehingga semakin
memudahkan agama Islam dalam mempengaruhi perkembangan ajaran agama
Hindu-Buddha. Di pulau Jawa sendiri dapat kita ambil contoh penyebaran agama
Islam, tokoh yang paling berpengaruh yakni Wali Songo. Karena pada saat Wali
Songo menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, mereka juga melakukan akulturasi
budaya antara ajaran Islam dengan Hindu-Buddha maupun kepercayaan lain
sebelumnya. Dapat dilihat dari banyaknya peninggalan pada zaman penyebaran
agama Islam yang medapat pengaruh dari kedua aliran agama tersebut. Penyebaran
agama Islam tidak hanya memiliki peran sendiri dalam penyebarannya, namun juga
berperan terhadap akibat dari keruntuhan Kerajaan Hindu-Buddha.
Dalam
penulisan karya ilmiah ini, tentu didapatkan referensi yang menjadi sumber
penunjang dan bukti utama dari dimuatkannya informasi mengenai subbab ini,
diantaranya yaitu dari buku Sejarah
Nasional Indonesia jilid II & Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh
R.P. Soejono dan Runtuhnya kerajaan
Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara oleh Slamet
Muljana.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dijabarkan sebagai berikut.
Adapun rumusan masalah dijabarkan sebagai berikut.
1.
Bagaimana Awal Penyebaran Agama Islam di
Nusantara?
2. Bagaimana
Pengaruh Agama Islam terhadap Kerajaan Hindu- Buddha
terutama di Jawa?
3. Bagaimana
dampak pada Kerajaan Hindu-Buddha setelah adanya pengaruh Agama Islam?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan diuraikan sebagai berikut.
Adapun tujuan diuraikan sebagai berikut.
1. Untuk mendeskripsikan
Awal Penyebaran Agama Islam di Nusantara.
2.
Untuk mendeskripsikan Pengaruh Agama Islam
terhadap Kerajaan Hindu Buddha terutama di Jawa.
3.
Untuk mendeskripsikan dampak pada
Kerajaan Hindu-Buddha setelah adanya pengaruh Agama Islam
2. PPEMBAHASAN
2.1
Awal Penyebaran Agama Islam di Nusantara
Agama Islam datang dan disebarkan diwilayah Nusantara tentulah tidak dalam waktu yang bersamaan. Alasan logisnya yakni letak Indonesia yang sebegitu luas mulai dari Sabang hingga Merauke. Namun Agama Islam sendiri pertama hadir dan mulai menyebar yaitu di Pulau Sumatera, ini karena Sumatera berada pada letak strategis yaitu jalur perdagangan Internasional.
Sumatera adalah tempat singgah sebagian besar pedaganng dari Cina, India dan Arab. Kedatangan orang Arab yang mayoritas beragama Islam inilah menjadi alasan utama mulai berkembangnya agama Islam di Pulau itu.
Sebelum Islam dapat berkembang luas ditanah Sumatera, tentunya harus dengan perjuangan. Dikala itu, Sumatera diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya yang sebagian besar beragamakan Buddha sebagai pedoman bahkan dikerajaan itu sendiri banyak orang yang berpegang teguh pada agama Buddha. Ini terbukti karena banyaknya pendeta Buddha yang belajar agama Buddha seperti halnya yang diajarkan di India, seperti yang diketahui bahwa agama Buddha adalah agama yang berasal dari daratan India. Bila di Kerajaan Sriwijaya sendiri para pendeta Buddha sudah belajar layaknya di India, dapat dipastikan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan aliran Budhisme yang teguh dan mendapat julukan sebagai pusat pengajaran agama Buddha Internasional.
Namun disamping Kerajaan Sriwijaya terkenal akan adanya pengaruh Buddha yang kuat, ternyata masih ada pengaruh campur tangan dari ajaran Hidu sendiri. Diperkirakan bahwa agama Hindu menunjukkan perkembang pada kira-kira abad VIII-IX M yakni dari temuan arca Ganesa batu berukuran besar yang ditemukan di Kota Palembang. Perkembangan agama Hindu inipun terus berlanjut sampai kira-kira abad XI-XII M tampak pada situs Bumiayu, Kabupaten Muara Enim berupa reruntuhan kompleks percandian.
Di pulau Sumatera sendiri, kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan paling besar dan paling berkuasa di tanah sumatera. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono menerangkan bahwasanya Kerajaan Sriwijiya juga telah berhasil menaklukkan Malayu sekitar tahun 685, dan dalam jangka waktu yang tidak lama sudah tidak dijumpai nama Malayu disebutkan dalam beberapa sumber-sumber sejarah. Ini berarti Kerajaan Sriwijaya berniat untuk menyingkirkan semua kerajaan yang berada disekitar Sumatera agar bisa menguasai sumatera seorang diri tanpa adanya pesaing. Tentunya dengan alasan bahwa Malayu sendiri berlokasikan dipantai timur Sumatera dekat Selat Malaka, sehingga memegang peran penting dalam hal pelayaran dan perdagangan antara lain yaitu India dan Cina dengan daerah-daerah di Indonesia bagian timur.
Selang dari tahun tersebut, sudah tidak ditemukan lagi keterangan lebih lanjut. Barulah pada tahun 1328-1350 didapat beberapa kabar tentang daerah Malayu. Rupa-rupanya ini Malayu muncul kembali sebagai daerah yang menguasai Sumatera sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanagara sudah tidak terdengar lagi beritanya.
Secara singkat Kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan letak strategisnya yang membuatnya makmur dengan ditunjang ajaran Budhisme yang teguh nyatanya memiliki kemunduran kekuasaan hingga wilayah. Dalam hal ini bnayak faktor yang mempengaruhi, diantara penjelasan yaitu ada pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III, Bab I yeng menjelaskan secara singkat tentang situasi dan Kondisi politik pada masa kedatangan Islam disana. Secara garis besarnya mulai munculnya orang muslim yaitu ketika terjadinya pemberontakan petani-petani Cina Selatan terhadap kekuasaan T’Ang masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889) dimana banyak orang muslim yang terlibat dan dibunuh. Sedangkan pada kenyataan, orang-orang muslim pendatang itu tinggal dan membentuk perkampungan di Kedah, salah satu daerah kekuasaan Sriwijaya harusnya mendapat perlindungan dari Sriwijaya. Maka inilah titik dimana mulai berkobarnya orang muslim dalam keikiut campurnya dibidang politik.
Jika pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Sriwijaya menunjukkan kemajuannya pada ekonomi dan politik, ternyata lain halnya pada abad ke-13 dimana Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Tanda-tanda kemunduran Sriwijaya ditunjukkan pertama kali dibidang perdagangan, bahwasanya persediaan barang-barang dari Sriwijaya yang mahal karena negeri itu tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam, selain itu Cina mendapatkan berita bahwa Jawa lebih kaya daripada Sriwijaya dan yang terakhir adalah munculnya kekhalifahan Ta-shih. Dilanjut pada kemunduran Sriwijaya dibidang perdagangan serta politik semakin dipercepat dari adanya kerajaan Singhasari di Jawa yang mengadakan ekspedisi Pamalayu.
Sejalan dari semua kelemahan yang dialami oleh Sriwijaya, pedagang-pedagang muslim bersama para mubaligh (orang yang telah cukup umur) adalah yang paling berkesempatan mendapat untung dagang dan politik dan mereka juga yang menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul di sumatera hingga muncullah pernyataan sebagai kerajaan yang bercorak islam pertama di sumatera yaitu Samudera Pasai yang letaknya dipesisir timur laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara saat ini. Diperkirakan munculnya daerah ini pada abad ke-13.
Seiring waktu, Kerajaan Samudera Pasai berkembang baik dibidang perdagangan, pelayaran maupun politik. Hubungan dengan Malaka yang sempat terputus dimasa Sriwijaya pun mulai terbuka dan ramai sehingga pada abad ke-14 muncul masyarakat muslim disana. Perkembangan yang drastis itu terus berjalan, hingga sekitar pada abad ke-15 telah muncul suatu pusat kerajaan Islam. Pengaruh penting dari hal tersebut karena keruntuhan Sriwijaya.
Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515) yang terdapat dibuku Sejarah Nasional Indonesia jilid III, yang intinya bahwa didareah pesisir Sumatera Utara dan timur sampai Palembang sudah banyak masyarakat bahakan kerajaan-kerajaan Islam. Namun masih juga ada kerajaan-kerajaan yang masih belum Islam, sehingga dilakukanlah Islamisasi kedaerah tersebut termasuk kedaerah pedalaman Aceh dan Sumatera Barat, terutama mulai terjadi ekspansi politik oleh Aceh pada abad-abad XVI-XVII
Agama Islam datang dan disebarkan diwilayah Nusantara tentulah tidak dalam waktu yang bersamaan. Alasan logisnya yakni letak Indonesia yang sebegitu luas mulai dari Sabang hingga Merauke. Namun Agama Islam sendiri pertama hadir dan mulai menyebar yaitu di Pulau Sumatera, ini karena Sumatera berada pada letak strategis yaitu jalur perdagangan Internasional.
Sumatera adalah tempat singgah sebagian besar pedaganng dari Cina, India dan Arab. Kedatangan orang Arab yang mayoritas beragama Islam inilah menjadi alasan utama mulai berkembangnya agama Islam di Pulau itu.
Sebelum Islam dapat berkembang luas ditanah Sumatera, tentunya harus dengan perjuangan. Dikala itu, Sumatera diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya yang sebagian besar beragamakan Buddha sebagai pedoman bahkan dikerajaan itu sendiri banyak orang yang berpegang teguh pada agama Buddha. Ini terbukti karena banyaknya pendeta Buddha yang belajar agama Buddha seperti halnya yang diajarkan di India, seperti yang diketahui bahwa agama Buddha adalah agama yang berasal dari daratan India. Bila di Kerajaan Sriwijaya sendiri para pendeta Buddha sudah belajar layaknya di India, dapat dipastikan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan aliran Budhisme yang teguh dan mendapat julukan sebagai pusat pengajaran agama Buddha Internasional.
Namun disamping Kerajaan Sriwijaya terkenal akan adanya pengaruh Buddha yang kuat, ternyata masih ada pengaruh campur tangan dari ajaran Hidu sendiri. Diperkirakan bahwa agama Hindu menunjukkan perkembang pada kira-kira abad VIII-IX M yakni dari temuan arca Ganesa batu berukuran besar yang ditemukan di Kota Palembang. Perkembangan agama Hindu inipun terus berlanjut sampai kira-kira abad XI-XII M tampak pada situs Bumiayu, Kabupaten Muara Enim berupa reruntuhan kompleks percandian.
Di pulau Sumatera sendiri, kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan paling besar dan paling berkuasa di tanah sumatera. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono menerangkan bahwasanya Kerajaan Sriwijiya juga telah berhasil menaklukkan Malayu sekitar tahun 685, dan dalam jangka waktu yang tidak lama sudah tidak dijumpai nama Malayu disebutkan dalam beberapa sumber-sumber sejarah. Ini berarti Kerajaan Sriwijaya berniat untuk menyingkirkan semua kerajaan yang berada disekitar Sumatera agar bisa menguasai sumatera seorang diri tanpa adanya pesaing. Tentunya dengan alasan bahwa Malayu sendiri berlokasikan dipantai timur Sumatera dekat Selat Malaka, sehingga memegang peran penting dalam hal pelayaran dan perdagangan antara lain yaitu India dan Cina dengan daerah-daerah di Indonesia bagian timur.
Selang dari tahun tersebut, sudah tidak ditemukan lagi keterangan lebih lanjut. Barulah pada tahun 1328-1350 didapat beberapa kabar tentang daerah Malayu. Rupa-rupanya ini Malayu muncul kembali sebagai daerah yang menguasai Sumatera sedangkan Sriwijaya setelah adanya ekspedisi Pamalayu dari raja Kertanagara sudah tidak terdengar lagi beritanya.
Secara singkat Kerajaan Sriwijaya yang terkenal akan letak strategisnya yang membuatnya makmur dengan ditunjang ajaran Budhisme yang teguh nyatanya memiliki kemunduran kekuasaan hingga wilayah. Dalam hal ini bnayak faktor yang mempengaruhi, diantara penjelasan yaitu ada pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III, Bab I yeng menjelaskan secara singkat tentang situasi dan Kondisi politik pada masa kedatangan Islam disana. Secara garis besarnya mulai munculnya orang muslim yaitu ketika terjadinya pemberontakan petani-petani Cina Selatan terhadap kekuasaan T’Ang masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889) dimana banyak orang muslim yang terlibat dan dibunuh. Sedangkan pada kenyataan, orang-orang muslim pendatang itu tinggal dan membentuk perkampungan di Kedah, salah satu daerah kekuasaan Sriwijaya harusnya mendapat perlindungan dari Sriwijaya. Maka inilah titik dimana mulai berkobarnya orang muslim dalam keikiut campurnya dibidang politik.
Jika pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Sriwijaya menunjukkan kemajuannya pada ekonomi dan politik, ternyata lain halnya pada abad ke-13 dimana Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Tanda-tanda kemunduran Sriwijaya ditunjukkan pertama kali dibidang perdagangan, bahwasanya persediaan barang-barang dari Sriwijaya yang mahal karena negeri itu tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam, selain itu Cina mendapatkan berita bahwa Jawa lebih kaya daripada Sriwijaya dan yang terakhir adalah munculnya kekhalifahan Ta-shih. Dilanjut pada kemunduran Sriwijaya dibidang perdagangan serta politik semakin dipercepat dari adanya kerajaan Singhasari di Jawa yang mengadakan ekspedisi Pamalayu.
Sejalan dari semua kelemahan yang dialami oleh Sriwijaya, pedagang-pedagang muslim bersama para mubaligh (orang yang telah cukup umur) adalah yang paling berkesempatan mendapat untung dagang dan politik dan mereka juga yang menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul di sumatera hingga muncullah pernyataan sebagai kerajaan yang bercorak islam pertama di sumatera yaitu Samudera Pasai yang letaknya dipesisir timur laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara saat ini. Diperkirakan munculnya daerah ini pada abad ke-13.
Seiring waktu, Kerajaan Samudera Pasai berkembang baik dibidang perdagangan, pelayaran maupun politik. Hubungan dengan Malaka yang sempat terputus dimasa Sriwijaya pun mulai terbuka dan ramai sehingga pada abad ke-14 muncul masyarakat muslim disana. Perkembangan yang drastis itu terus berjalan, hingga sekitar pada abad ke-15 telah muncul suatu pusat kerajaan Islam. Pengaruh penting dari hal tersebut karena keruntuhan Sriwijaya.
Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515) yang terdapat dibuku Sejarah Nasional Indonesia jilid III, yang intinya bahwa didareah pesisir Sumatera Utara dan timur sampai Palembang sudah banyak masyarakat bahakan kerajaan-kerajaan Islam. Namun masih juga ada kerajaan-kerajaan yang masih belum Islam, sehingga dilakukanlah Islamisasi kedaerah tersebut termasuk kedaerah pedalaman Aceh dan Sumatera Barat, terutama mulai terjadi ekspansi politik oleh Aceh pada abad-abad XVI-XVII
2.2 Pengaruh
Agama Islam terhadap Kerajaan Hindu Buddha terutama di Jawa.
Kerajaan dengan beraliran agama Hindu-Buddha yang terakhir yang berada di Jawa yakni Kerajaan Majapahit. Pada awalnya Kerajaan Majapahit ini memang mengalami keemasan, alasan utama yaitu Majapahit kala itu dikuasai oleh dua orang yang berpengaruh. Tak lain yaitu Rajanya yang bijaksana dan cakap dalam bidang politik bernama Hayam Wuruk dengan dibantu oleh Patihnya yang bernama Patih Gajah Mada. Dari keduanya, didapat keadaan Majapahit yang mengalami masa kemakmuran dan kesejahteraan.
Namun keadaan yang sedemikian makmurnya yang terjadi di Kerajaan Majapahit yaitu ketika kedua pemimpin yang begitu pengaruh itu wafat. Patih Gajah Mada yang awalnya meninggal karena sakit keras, akhirnya meninggal pada tahun 1364 lalu disusul oleh sang Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kematian kedua pemimpin ini mungkin menjadikan Majapahit belum bisa mengimbangi kejayaan Majapahit pada saat kepemimpinan Raja dengan Patihnya itu.
Setelahnya sang raja Hayam Wuruk meninggalpun, masalah kekuasaan masih bergola di Majapahit sendiri. Ini disebabkan karena adanya perebutan kekuasaan. Pengganti Hayam Wuruk yang menduduki takhta yaitu menantunya bernama Wikramawarddhana yang menikah dengan putri mahkotanya Kusumawarddhani. Inilah yang menjadi terjadi persaingan sengit dengan putra mahkota Hayam Wuruk Bhre Wirabumi.
Pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono dijelaskan bahwa meski pemulihan keadaan kerajaan telah terjadi namun perang saudara memperebutkan kekuasaan masih saja terjadi. Bahkan pada pemerintahan Kertajaya, beliau telah memberi daerah kadiri kepada Bhre Daha III dan Kahuripan kepada suaminya pada saat Kertajaya wafat pada tahun 1451 kekacauan terutama dibidang politik masih saja terjadi dan timbul lagi.
Awal agama Islam berkembang ditanah Jawa sebenarnya yaitu sejak Jayanegara yang menggantikan Kertarajasa telah terjadi begitu banyak pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang disebutkan pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III yaitu diantaranya Pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295, kemudian Sadeng dan Keta yang baru berhasil dihentikan dan diatasi pada tahun 1331, itu juga berkat usaha dari Gajah Mada yang memberikan peluang bagi proses kedatangan Islam dan perkembangan masyarakat muslim di Pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Majapahit.
Didapatkan juga informasi mengenai kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Jawa akibat pengaruh agama Islam yaitu dari seorang tokoh bernama Tome Pires yang menceritakan bahwa dari hasil perjalanannya, ia menemukan tentang masih adanya kerajaan-kerajaan Indonesia-Hindu didaerah Jawa Timur maupun Jawa Barat, meskipun pada saat itu sudah adanya kerajaan bercorak Islam yaitu Demak. Ini dimungkinkan pada saat islam pertama dibawa ke Jawa melalui berdirinya kerajaan pertama bercorak islam di Jawa yaitu Demak, Jawa masih belum sepenuhnya menerima dan mengamalkan ajaran islam. Dimungkinkan disini proses Islamisasi ditanah Jawa masih belum merata dalam penyebarannya. Terbukti yaitu bahwa dibeberapa daerah pedalam khususnya wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur masyarakatnya masih mempertahankan dan menjaga tradisi agama Hindu-Buddha nya.
Tidak hanya pengaruh secara agama, pengaruh politik atas datangnya ajaran agama Islam di Jawa dapat dilihat pada kerajaan-kerajaan kecil Hindu-Buddha yang masih ada di Jawa meskipun kerajaan Indonesi-Hindu pada tahun 1526 sudah banyak yang runtuh. Diantara kerajaan-kerajaan kecil yang belum terislamkan itu antara lain yaitu Kerajaan Pasuruan, Panarukan yang memiliki pusat kota di Balambangan. Akibat kian banyak ancaman yang didapat oleh pengaruh Kerajaan Islam, maka Balambangan mulai meminta bantuan kepada Portugis dalam menghadapi sernagan yang akan dilancarkan oleh Demak dalam memperluas daerah kekuasaannya.
Peristiwa ini tentunya menjadi timbal balik antara Kerajaan Indonesia-Hindu yang masih ada di Jawa dengan pihak Portugis. Karena memang hal itu dilakukan untuk menangani kericuhan yang terjadi antara lain Pasuruan yang sudah tunduk dibawah kekuasaan kerajaan Islam pada tahun 1546 yang pada waktu penyerangan tersebut dipimpin oleh Trenggono.
Kerja sama yang dilakukan Balambangan dengan Portugis ini terjadi ketika Portugis sedang menguasai Malaka pada tahun 1511. Apalagi pada saat itu memang Portugis memerlukan bahan-bahan yang dibutuhkan dari Balambangan. Sehingga antara Balambangan dan Portugis terjadi kesinambungan kesepakatan antara kedua belah pihak. Kerja sama ini pun juga berbuah, karena diketahui bahwa Balambangan mampu bertahan hingga abad ke-17 yaitu pada saat serangan-serangan Sultan Agung dan Amangkurat.
Dapat diketahui dari menyebarnya agama islam yang begitu cepat yaitu karena pada proses penyebarannya,Islam melakukannya dengan cara damai yaitu melalui perdangan dan dakwah oleh para mubalig (orang alim). Lalu apabila suatu kerajaan mengalami perebutan kekuasaan dibidang politik yang menjadikan kerajaan Hindu-Buddha itu melemah maka agama islamlah yang dijadikan alat politik para bangsawan maupun raja-raja yang menghendaki suatu kekuasaan tertentu dalam kerajaan itu. Dapat dijadikan contoh yaitu pada Kerajaan Majapahit sendiri yang semakin mengalami kemunduran, yang akhirnya disebutkan dalam berita tradisi mengalami keruntuhan atas serangan dari Kerajaan Islam Demak. Dijelaskan pula disana pemimpin dari serangan itu adalah Adipati Unus, anak dari raden Patah. Alasan serangan tersebut tak lain adalah pembalasan dendam oleh leluhur Adipati Unus yang dibunuh oleh leluhur Raja Majapahit pada saat itu yang bernama Kertajaya.
Kerajaan dengan beraliran agama Hindu-Buddha yang terakhir yang berada di Jawa yakni Kerajaan Majapahit. Pada awalnya Kerajaan Majapahit ini memang mengalami keemasan, alasan utama yaitu Majapahit kala itu dikuasai oleh dua orang yang berpengaruh. Tak lain yaitu Rajanya yang bijaksana dan cakap dalam bidang politik bernama Hayam Wuruk dengan dibantu oleh Patihnya yang bernama Patih Gajah Mada. Dari keduanya, didapat keadaan Majapahit yang mengalami masa kemakmuran dan kesejahteraan.
Namun keadaan yang sedemikian makmurnya yang terjadi di Kerajaan Majapahit yaitu ketika kedua pemimpin yang begitu pengaruh itu wafat. Patih Gajah Mada yang awalnya meninggal karena sakit keras, akhirnya meninggal pada tahun 1364 lalu disusul oleh sang Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389. Kematian kedua pemimpin ini mungkin menjadikan Majapahit belum bisa mengimbangi kejayaan Majapahit pada saat kepemimpinan Raja dengan Patihnya itu.
Setelahnya sang raja Hayam Wuruk meninggalpun, masalah kekuasaan masih bergola di Majapahit sendiri. Ini disebabkan karena adanya perebutan kekuasaan. Pengganti Hayam Wuruk yang menduduki takhta yaitu menantunya bernama Wikramawarddhana yang menikah dengan putri mahkotanya Kusumawarddhani. Inilah yang menjadi terjadi persaingan sengit dengan putra mahkota Hayam Wuruk Bhre Wirabumi.
Pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III oleh R.P. Soejono dijelaskan bahwa meski pemulihan keadaan kerajaan telah terjadi namun perang saudara memperebutkan kekuasaan masih saja terjadi. Bahkan pada pemerintahan Kertajaya, beliau telah memberi daerah kadiri kepada Bhre Daha III dan Kahuripan kepada suaminya pada saat Kertajaya wafat pada tahun 1451 kekacauan terutama dibidang politik masih saja terjadi dan timbul lagi.
Awal agama Islam berkembang ditanah Jawa sebenarnya yaitu sejak Jayanegara yang menggantikan Kertarajasa telah terjadi begitu banyak pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang disebutkan pada buku Sejarah Nasional Indonesia jilid III yaitu diantaranya Pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295, kemudian Sadeng dan Keta yang baru berhasil dihentikan dan diatasi pada tahun 1331, itu juga berkat usaha dari Gajah Mada yang memberikan peluang bagi proses kedatangan Islam dan perkembangan masyarakat muslim di Pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Majapahit.
Didapatkan juga informasi mengenai kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Jawa akibat pengaruh agama Islam yaitu dari seorang tokoh bernama Tome Pires yang menceritakan bahwa dari hasil perjalanannya, ia menemukan tentang masih adanya kerajaan-kerajaan Indonesia-Hindu didaerah Jawa Timur maupun Jawa Barat, meskipun pada saat itu sudah adanya kerajaan bercorak Islam yaitu Demak. Ini dimungkinkan pada saat islam pertama dibawa ke Jawa melalui berdirinya kerajaan pertama bercorak islam di Jawa yaitu Demak, Jawa masih belum sepenuhnya menerima dan mengamalkan ajaran islam. Dimungkinkan disini proses Islamisasi ditanah Jawa masih belum merata dalam penyebarannya. Terbukti yaitu bahwa dibeberapa daerah pedalam khususnya wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur masyarakatnya masih mempertahankan dan menjaga tradisi agama Hindu-Buddha nya.
Tidak hanya pengaruh secara agama, pengaruh politik atas datangnya ajaran agama Islam di Jawa dapat dilihat pada kerajaan-kerajaan kecil Hindu-Buddha yang masih ada di Jawa meskipun kerajaan Indonesi-Hindu pada tahun 1526 sudah banyak yang runtuh. Diantara kerajaan-kerajaan kecil yang belum terislamkan itu antara lain yaitu Kerajaan Pasuruan, Panarukan yang memiliki pusat kota di Balambangan. Akibat kian banyak ancaman yang didapat oleh pengaruh Kerajaan Islam, maka Balambangan mulai meminta bantuan kepada Portugis dalam menghadapi sernagan yang akan dilancarkan oleh Demak dalam memperluas daerah kekuasaannya.
Peristiwa ini tentunya menjadi timbal balik antara Kerajaan Indonesia-Hindu yang masih ada di Jawa dengan pihak Portugis. Karena memang hal itu dilakukan untuk menangani kericuhan yang terjadi antara lain Pasuruan yang sudah tunduk dibawah kekuasaan kerajaan Islam pada tahun 1546 yang pada waktu penyerangan tersebut dipimpin oleh Trenggono.
Kerja sama yang dilakukan Balambangan dengan Portugis ini terjadi ketika Portugis sedang menguasai Malaka pada tahun 1511. Apalagi pada saat itu memang Portugis memerlukan bahan-bahan yang dibutuhkan dari Balambangan. Sehingga antara Balambangan dan Portugis terjadi kesinambungan kesepakatan antara kedua belah pihak. Kerja sama ini pun juga berbuah, karena diketahui bahwa Balambangan mampu bertahan hingga abad ke-17 yaitu pada saat serangan-serangan Sultan Agung dan Amangkurat.
Dapat diketahui dari menyebarnya agama islam yang begitu cepat yaitu karena pada proses penyebarannya,Islam melakukannya dengan cara damai yaitu melalui perdangan dan dakwah oleh para mubalig (orang alim). Lalu apabila suatu kerajaan mengalami perebutan kekuasaan dibidang politik yang menjadikan kerajaan Hindu-Buddha itu melemah maka agama islamlah yang dijadikan alat politik para bangsawan maupun raja-raja yang menghendaki suatu kekuasaan tertentu dalam kerajaan itu. Dapat dijadikan contoh yaitu pada Kerajaan Majapahit sendiri yang semakin mengalami kemunduran, yang akhirnya disebutkan dalam berita tradisi mengalami keruntuhan atas serangan dari Kerajaan Islam Demak. Dijelaskan pula disana pemimpin dari serangan itu adalah Adipati Unus, anak dari raden Patah. Alasan serangan tersebut tak lain adalah pembalasan dendam oleh leluhur Adipati Unus yang dibunuh oleh leluhur Raja Majapahit pada saat itu yang bernama Kertajaya.
2.3 Dampak pada Kerajaan Hindu-Buddha
setelah adanya pengaruh Agama Islam
Masuknya ajaran
agama di Pulau Jawa yang awalnya telah tersebar mengenai ajaran Hindu-Buddha,
tentu mengalami bentuk pencampuran budaya dalam bentuk akulturasi budaya dengan
agama.
Pada buku Sejarah Indonesia Kuno jilid III telah disebutkan mengenai kerajaan yang tersebar di Nusantara diakhir dan menjelang datangnya islam yaitu di Sumatera terdapat Kerajaan bercorak Indonesia-Hindu yaitu Sriwijaya dan Melayu, di Jawa Majapahit dan Suda-Pajajaran, di Kalimantan terdapat Kerajaan Negara-Daha dan Kutai. Sedangkan di Bali kerajaan yang bercorak Hindu masih terus berlangsung hingga abad ke-20. Penyebaran agama islam di nusantara paling banyak didapat dari adanya proses perdagangan, semakin ramai wilayah tersebut dijadikan tempat perdagangan Internasional, maka semakin banyak pula ajaran atau agama yang diterima termasuk Islam. Di Bali dimungkinkan tidak begitu banyak mendapat pengaruh dari agama islam yaitu karena letak Bali sendiri bukan dijalur perdagangan. Sehingga diperkirakan persebaran agama hanya pada Hindu saja, bahkan hingga saat ini. Berbeda dengan daerah yang menjadi strategis sebagai jalur perdagangan seperti Sumatera dan Jawa.
Inilah salah satu alasan kenapa Jawa dan Sumatera mendapat paling banyak akulturasi budaya maupun agama yang awalnya dari pengaruh Hindu-Buddha yang ditambah dengan pengaruh agama Islam.
Di Sumatera sendiri berkembang kerajaan Islam yaitu Samudera Pasai, yang awalnya daerah kekuasaan kerajaan tersebut adalah dari kerajaan Indonesia-Hindu yaitu Sriwijaya. Semenjak berkembanganya kerajaan corak islam tersebut, terjadi perkembangan disana dalam bentuk pelayaran maupun perdagangan karena memang pada dasarnya letak kerajaan itu sudah begitu strategis sebagai jalur pelayaran dan pusat perdagangan. Tidak hanya dikedua bidang tersebut, juga diberitakan bahwa pada masa Samudra Pasai tersebut mata uang seperti uang kecil yang disebut ceitis yang dijelaskan pada buku Sejarah Nasional Indoneisa jilid III yaitu uang ini terbuat dari emas dan perak.
Dibidang perdagangan, Samudra Pasai telah menghasilkan komoditas utamanya ekspor selain lada, sutra, kapur barus, namun masih banyak lagi yang dijadikan ekspor utamanya. Ini dikarenakan Samudra Pasai adalah daerah pusat tempat pengumpulan seluruh barang-barang ekspor dalam perdagangan. Untuk menunjang kegiatan itupun juga dilakukan kebijakan tentang pemungutan pajak untuk mengurangi masalah pendapatan-pendapatan negara. Dibidang agama, telah banyak ulama yang datang yaitu dari Persia, Syria dan Isfahan.
Di Jawa yaitu Majapahit tidak begitu jauh berbeda dengan Sriwijaya oleh Samudra Pasai. Islam mengalami perkembangan di jawa terutama karena latar belakang mulai runtuhnya kerajaan Majapahit juga karena banyaknya raja-raja maupun bangsawan dari Majaphit yang banyak menggunakan sistem aturan mengenai bidang politik maupun perdagangan. Sehingga perkembangan islam disana mengalami kemajuan. Tidak hanya itu juga proses penyebaran agama islam di Nusantara ini juga terkenal dengan cara damai, sehingga masyarakat sekitar yang menerima ajaran baru ini mudah menerimanya.
Di Jawa terkenal penyebaran agama islam yaitu melalui tokoh yang bernama Wali Songo yang tersebar di seluruh wilayah Jawa. Dalam proses dakwah penyebaran agama islam ini juga tentu pari Wali Songo menggunakan cara akulturasi yang paling dikenal yaitu Wayang. Jika pada sebelumnya seni wayang menceritakan tentang tokoh Mahabaratha dari cerita agama Hindu, maka Wayang ini juga digunakan dalam proses penyebaran dan ajaran islam.
Kedatangan dan penyebaran agama islam di pesisir utara pulau jawa dapat diteliti dan dibuktikan melalui beberapa temuan dari data arkeologis maupun dari sumber-sumber babad, hikayat, legenda serta berita-berita asing. Penemuan pertama yaitu ditemukannya nisan kubur di sebuah daerah sebagai pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Yang kedua yaitu makam Maulana Malik di Gresik, dan yang terakhir yaitu di Troloyo dan di trowulan yang diperkirakan daerah tersebuta dalah tempat pusat dari kerajaan Majapahit yaitu terdapat sejumlah nisan kubur muslim yang dimungkinkan pada tahun sekitar abad XIII sampai XV M.
Sedangkan dalam pembahasan terakhir ini adalah mengenai dampak akulturasi akibat runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dengan Islam di Jawa yang dijelaskan pada buku Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara yaitu dengan dibangunan sebagai pusat negara islam. Ini dilakukan untuk menyempurnakan pembentukan negara islam Demak. Maka dibangunlah sebuah Masjid Semarang pada 1478 yang menadakan dari keberhasilan Jin Bun yang telah menaklukkan kerajaan Hidu-Jawa. Pembangunan masjid ini juga ditujukan atas rasa hormat dan syukur kepada Tuhan-nya.
Pada buku Sejarah Indonesia Kuno jilid III telah disebutkan mengenai kerajaan yang tersebar di Nusantara diakhir dan menjelang datangnya islam yaitu di Sumatera terdapat Kerajaan bercorak Indonesia-Hindu yaitu Sriwijaya dan Melayu, di Jawa Majapahit dan Suda-Pajajaran, di Kalimantan terdapat Kerajaan Negara-Daha dan Kutai. Sedangkan di Bali kerajaan yang bercorak Hindu masih terus berlangsung hingga abad ke-20. Penyebaran agama islam di nusantara paling banyak didapat dari adanya proses perdagangan, semakin ramai wilayah tersebut dijadikan tempat perdagangan Internasional, maka semakin banyak pula ajaran atau agama yang diterima termasuk Islam. Di Bali dimungkinkan tidak begitu banyak mendapat pengaruh dari agama islam yaitu karena letak Bali sendiri bukan dijalur perdagangan. Sehingga diperkirakan persebaran agama hanya pada Hindu saja, bahkan hingga saat ini. Berbeda dengan daerah yang menjadi strategis sebagai jalur perdagangan seperti Sumatera dan Jawa.
Inilah salah satu alasan kenapa Jawa dan Sumatera mendapat paling banyak akulturasi budaya maupun agama yang awalnya dari pengaruh Hindu-Buddha yang ditambah dengan pengaruh agama Islam.
Di Sumatera sendiri berkembang kerajaan Islam yaitu Samudera Pasai, yang awalnya daerah kekuasaan kerajaan tersebut adalah dari kerajaan Indonesia-Hindu yaitu Sriwijaya. Semenjak berkembanganya kerajaan corak islam tersebut, terjadi perkembangan disana dalam bentuk pelayaran maupun perdagangan karena memang pada dasarnya letak kerajaan itu sudah begitu strategis sebagai jalur pelayaran dan pusat perdagangan. Tidak hanya dikedua bidang tersebut, juga diberitakan bahwa pada masa Samudra Pasai tersebut mata uang seperti uang kecil yang disebut ceitis yang dijelaskan pada buku Sejarah Nasional Indoneisa jilid III yaitu uang ini terbuat dari emas dan perak.
Dibidang perdagangan, Samudra Pasai telah menghasilkan komoditas utamanya ekspor selain lada, sutra, kapur barus, namun masih banyak lagi yang dijadikan ekspor utamanya. Ini dikarenakan Samudra Pasai adalah daerah pusat tempat pengumpulan seluruh barang-barang ekspor dalam perdagangan. Untuk menunjang kegiatan itupun juga dilakukan kebijakan tentang pemungutan pajak untuk mengurangi masalah pendapatan-pendapatan negara. Dibidang agama, telah banyak ulama yang datang yaitu dari Persia, Syria dan Isfahan.
Di Jawa yaitu Majapahit tidak begitu jauh berbeda dengan Sriwijaya oleh Samudra Pasai. Islam mengalami perkembangan di jawa terutama karena latar belakang mulai runtuhnya kerajaan Majapahit juga karena banyaknya raja-raja maupun bangsawan dari Majaphit yang banyak menggunakan sistem aturan mengenai bidang politik maupun perdagangan. Sehingga perkembangan islam disana mengalami kemajuan. Tidak hanya itu juga proses penyebaran agama islam di Nusantara ini juga terkenal dengan cara damai, sehingga masyarakat sekitar yang menerima ajaran baru ini mudah menerimanya.
Di Jawa terkenal penyebaran agama islam yaitu melalui tokoh yang bernama Wali Songo yang tersebar di seluruh wilayah Jawa. Dalam proses dakwah penyebaran agama islam ini juga tentu pari Wali Songo menggunakan cara akulturasi yang paling dikenal yaitu Wayang. Jika pada sebelumnya seni wayang menceritakan tentang tokoh Mahabaratha dari cerita agama Hindu, maka Wayang ini juga digunakan dalam proses penyebaran dan ajaran islam.
Kedatangan dan penyebaran agama islam di pesisir utara pulau jawa dapat diteliti dan dibuktikan melalui beberapa temuan dari data arkeologis maupun dari sumber-sumber babad, hikayat, legenda serta berita-berita asing. Penemuan pertama yaitu ditemukannya nisan kubur di sebuah daerah sebagai pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Yang kedua yaitu makam Maulana Malik di Gresik, dan yang terakhir yaitu di Troloyo dan di trowulan yang diperkirakan daerah tersebuta dalah tempat pusat dari kerajaan Majapahit yaitu terdapat sejumlah nisan kubur muslim yang dimungkinkan pada tahun sekitar abad XIII sampai XV M.
Sedangkan dalam pembahasan terakhir ini adalah mengenai dampak akulturasi akibat runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dengan Islam di Jawa yang dijelaskan pada buku Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara yaitu dengan dibangunan sebagai pusat negara islam. Ini dilakukan untuk menyempurnakan pembentukan negara islam Demak. Maka dibangunlah sebuah Masjid Semarang pada 1478 yang menadakan dari keberhasilan Jin Bun yang telah menaklukkan kerajaan Hidu-Jawa. Pembangunan masjid ini juga ditujukan atas rasa hormat dan syukur kepada Tuhan-nya.
3. PENUTUP
3.1 Simpulan
Agama Hindu-Buddha telah berkembang di Indonesia telah sekian lama hingga melahirkan banyaknya Kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Namun disamping berkembangnya Kerajaan Hindu-Buddha itu tentunya juga terjadi kemunduran atau keruntuhan. Alasan keruntuhan sebuah kerajaan bercorakkan Hindu-buddha salah satunya yaitu perebutan kekuasaan yang menyebabkan perubahan politik dan kelemahan dalam sistem pemerintahan. Dalam mengatasi maslaah itupun juga para raja-raja maupun bangsawan yang terlibat dalam perebutan itu mengikut sertakan dan menggunakan sistem dalam islam, tidak hanya dibidang politik namun juga dibidang ekonomi, pelayaran dan perdagangan. Inilah yang menjadikan islam masuk dan berkembang dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama.
Meskipun pada awal masuknya agama islam di nusantara mengalami ketidak merataan di beberapa daerah pedalaman, namun proses Islamisasi oleh beberapa kerajaan bercorak Islam terus dilakukan. Dan dalam proses tersebut, bnyak kerajaan-kerajaan kecil yang masih bercorakkan Indonesia-Hindu telah berhasil ditundukkan kekuasaan serta wilayahnya.
Selain itu alasan lain yang menjadikan mudahnya Islam mudah berkembang dan menyebar di nusantara yaitu karena Islam melakukan nya dengan proses dmaai yang artinya dalam masuknya hal baru tersebut tanpa ada pertentangan atau paksaan. Karena pada awalnya memang islam masuk melalui interaksi dan timbal balik masyarakat Indonesia dengan orang Islam dalam bidang perdagangan dan pelayaran.
3.2 Saran
Dari keseluruhan penulisan karya ilmiah yang dibuat penulis ini, tentunya memiliki banyak kekurangan maupun kesalahan yang dibuat penulis sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung. Itulah mengapa penulis mengharapkan kepada semua pembaca untuk memberi kritik maupun saran yang membangun agar nantinya lebih baik untuk karya ilmiah berikutnya.
3.1 Simpulan
Agama Hindu-Buddha telah berkembang di Indonesia telah sekian lama hingga melahirkan banyaknya Kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Namun disamping berkembangnya Kerajaan Hindu-Buddha itu tentunya juga terjadi kemunduran atau keruntuhan. Alasan keruntuhan sebuah kerajaan bercorakkan Hindu-buddha salah satunya yaitu perebutan kekuasaan yang menyebabkan perubahan politik dan kelemahan dalam sistem pemerintahan. Dalam mengatasi maslaah itupun juga para raja-raja maupun bangsawan yang terlibat dalam perebutan itu mengikut sertakan dan menggunakan sistem dalam islam, tidak hanya dibidang politik namun juga dibidang ekonomi, pelayaran dan perdagangan. Inilah yang menjadikan islam masuk dan berkembang dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama.
Meskipun pada awal masuknya agama islam di nusantara mengalami ketidak merataan di beberapa daerah pedalaman, namun proses Islamisasi oleh beberapa kerajaan bercorak Islam terus dilakukan. Dan dalam proses tersebut, bnyak kerajaan-kerajaan kecil yang masih bercorakkan Indonesia-Hindu telah berhasil ditundukkan kekuasaan serta wilayahnya.
Selain itu alasan lain yang menjadikan mudahnya Islam mudah berkembang dan menyebar di nusantara yaitu karena Islam melakukan nya dengan proses dmaai yang artinya dalam masuknya hal baru tersebut tanpa ada pertentangan atau paksaan. Karena pada awalnya memang islam masuk melalui interaksi dan timbal balik masyarakat Indonesia dengan orang Islam dalam bidang perdagangan dan pelayaran.
3.2 Saran
Dari keseluruhan penulisan karya ilmiah yang dibuat penulis ini, tentunya memiliki banyak kekurangan maupun kesalahan yang dibuat penulis sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung. Itulah mengapa penulis mengharapkan kepada semua pembaca untuk memberi kritik maupun saran yang membangun agar nantinya lebih baik untuk karya ilmiah berikutnya.
DAFTAR RUJUKAN
Soedjono.2008.Sejarah Nasional Indonesia II (Zaman Kuno).Jakarta:Balai
Pustaka.
Soedjono.2008.Sejarah Nasional Indonesia III (Zaman
Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesi).Jakarta:Balai
Pustaka.
Muljana Slamet .2005.
Runtuhnya Kerajaan Hindu – Jawa Dan Timbulnya Negara-negara Islam Di Nusantara.
Yogyakarta:LkiS Pelangi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar