Rabu, 21 Januari 2015

STRUKTURALISME DALAM PEMIKIRAN FERDINAND DE SAUSSURE PADA ILMU FILSAFAT

Munculnya paham baru kian terlihat yakni sekitar pada zaman kontemporer yakni diawal abad kedua puluh. Dimana pada abad tersebut orang berpikir lebih mengarah pada abad kedua puluh tersebut. Salah satu paham baru yang muncul tersebut yakni Strulturalisme yang dicetuskan oleh tokoh bernama Ferdinand de Saussure.
Akar dasar dari pemikiran ini sendiri dari Ferdianand de Saussure yakni meletakkan dasar linguistik dan tata bahasa. Meski De Saussure jarang mempublikasikan karyanya, namun dari karyanya mengenai ilmu linguistik itulah ia memberikan konstribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan juga filsafat di masa kehidupan manusia saat ini atas ilmu linguistiknya. Ia pun akhirnya terkenal menjadi bapak linguistik (Hasan, 2012:56).
            Latar belakang kehidupan Ferdinand de Saussure yakni ia adalah seorang yang berkebangsaan Swiss yang lahir di Jenewa pada tanggal 26 November 1857 dan meninggal pada umur 55 tahun bertepatan pada tanggal  yakni 22 Februari 1913. Ketika ia meninggal, ia memiliki dua orang murid yang pernah ia ajar di Jenewa yang nantinya dari kedua murid itulah karya tulisan dari de Saussure dapat tersebar dan dipelajari khalayak umum.
Structuralism adalah sebuah kata dari bahasa inggris yakni struere yakni berarti membangun dan Structura berarti bentuk bangunan. Ini berartikan bahwa sebuah sudut pandang, filsafat atau gerakan filosofis abad ini, ajaran pokoknya adalah semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan yang tetap.
Tujuan dari adanya paham Strukturalisme ini sendiri yakni pada bidang metodologis ilmiah menetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan struktur objek-objek. Strukturalisme dikembangkan oleh beberapa ahli humanoria yang mencakup beberapa bahasan yakni : linguistic, kritik sastra, psikologi dll.
Pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Sedangkan ciri khas strukturalisme yang begitu signifikan yakni adanya pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instriknya yang tidak terikat oleh wktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan.
Berawal dari seperangkat fakta yang diamati pada permulaannya, strukturalisme menyingkapi dan melukiskan struktur inti dari suatu objek (hierarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat), dan lebih lanjut menciptakan suatu model teoritis dari objek tersebut.
            Pengertian dari istilah Strukturalisme sendiri adalah cara filsafat yang mendasari semua pemikiran abad modern ini, sedangkan  linguistik itu sendiri  merupakan salah satu ilmu yang paling sistematis dalam bidang humaniora. Akar strukturalisme adalah filsafat bahasa Saussure yang pada umumnya karyanya diabaikan sampai tahun lima puluhan hingga enam puluhan, ia menangkap makna pengamatan terhadap struktur bahasa, dari pada logika jalan.
. Pada tahun 1960-an strukturalisme telah menjadi model dikota Paris. Secara sederhana strukturalisme adalah pandangan bahwa setiap wacana, baik wacana filsafat maupun lainnya adalah sekedar sebuah struktur didalam bahasa tidak lebih. Teks tidak memberikan sesuatu yang lain kecuali teks itu sendiri, tidak ada lainnya dibalik bahasa.
Ferdinand de Saussure (1857-1913) telah meletakkan dasar linguistik modern. Dia adalah orang Swiss yang untuk beberapa waktu mengajar di Paris dan akhirnya menjadi professor di Jenewa. Selama hidupnya ia mempublikasikan sedikit karangannya. Buku yang mengakibatkan namanya menjadi tersohor di bidang linguistik ditebitkan oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally and Albert Sechehaye. Penerbitan buku itu sendiri yakni tiga tahun setelah kematiannya. Buku karya de Saussure yang diterbitkan itu diberi judul  Cours de linguistique general  pada tahun 1916 dan berisikan mengenai kursus tentang linguistic umum.
Beberapa prinsip dasar yang digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme berasal dari teori linguistik yang diuraiakan dalam buku tersebut. Tentu itulah hal yang kian menjadikan pemikiran de Saussure sendiri semakin bernilai dan berguna. Struktur dalam bahasa, istilah struktur berkaitan dengan bahasa sebagai sistem. Pendekatan struktural tentang bahasa mengandung arti pendekatan yang menganggap bahasa sebagai sistem dengan ciri-ciri tertentu, pemakaian kata “struktur” dalam strukturalisme disertai oleh seluruh konteks yang telah diuraikan yaitu significant-signifie, parole-langue, sinkroni diakroni.
Pertama, secara singkatnya Signifiant merupakan penandaan yang ditandakan. Penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Significant adalah aspek material dari bahsa, yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.
Sedangkan signifie (yang ditandakan) adalah gambaran mental, fikiran atau konsep. Signifie adalah aspek mental dari bahasa. Tanda dan bahasa selalu mempunyai segi yaitu significant dan signifie. Itulah mengapa Significant dan Signifie harus disandingkan menjadi satu agar suatu hal dapat dikenali tanda. Karena suatu signifie itu sendiri tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari significant. Yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan demikian merupakan suatu faktor linguistic.
Kedua, yakni bahwasannya mengenai bahasa individual dan bahasa bersama. Tanda awal dari adanya gejala bahasa secara umum disebut dengan istilah yang bernama langage. Dalam langage itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua pembahasan yakni dibedakan antara parole dan langue. Parole dimaksudkan sebagai pemakaian bahasa yang individual yang artinya dipakai oleh perseorangan (satu orang saja).
Meski parole tidak dipelajari dalam ilmu linguistik, namun dalam Linguistik menyelidiki unsur lain dari langage yaitu langue. Langue dimaksudkan sebagai bahasa yang pemakaiannya milik bersama dari suatu golongan bahasa tertentu. Sehingga akibatnya yaitu, langue melebihi semua individu yang berbicara dengan bahasa itu.
Karya yang terkenal dari de Saussure yang berjudul Course in general Linguistic, sebenarnya tersusun dari catatan kuliah serta catatan murid-muridnya mungkin bisa dilihat sebagai bagian dari pemenuhan keyakinan de Saussure bahwa bahasa itu sendiri harus ditinjau ulang agar linguistik memiliki landasan yang mantap.
Seperti yang ditunjukkan dalam buku karya berjudul Course, dalam sejarah linguistik, pendekatan Saussure pada umumnya dianggap menentang dua pandangan kontemporer yang berpengaruh tentang bahasa. Yang pertama adalah yang diusulkan pada tahun 1660 oleh Lancelot dan Gramaire de port-royal, Kedua yakni karya dari Arnaud, dimana bahasa dilihat sebagai cerminan pikiran dan didasarkan atas logika universal saja.
Tepat menurut waktu dan menelusuri waktu, bahasa dapat dipelajari menurut dua sudut sinkron dan diskroni, sinkroni berarti “bertepatan menurut waktu” dan diakron “menelusuri waktu”. Diskroni adalah peninjauan historis, sedangkan singkroni menunjukkan pandangan yang lepas dari perspektif historis, sedangkan Sinkron adalah peninjauan ahistoris (keluar dari subjek historis).
Diantara faktor-faktor yang memajukan perkembangan strukturalisme di dalam beberapa ilmu ialah diciptakannya semiotic, ide-ide Ferdinand de Saussure dalam linguistic, ide-ide Levi Strauss dalam etnologi, dan L.S. Vygtsky dan piaget dalam psikologi, serta tampilnaya metalogika dan metamatika.
Bila diterapkan pada ilmu-ilmu individual, metode-metode struktural mengakibatkan akibat-akibat positif : misalnya dalam linguistic pendekatan ini membantu membuat suatu deskripsi tentang bahasa yang tidak tertulis, membuat sandi prasati dalam bahasa, dll. Gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam.

Penutup
Ferdinand de Saussure sebagai tokoh yang melahirkan Strukturalisme mampu memberikan konstribusinya dan pengaruhnya dalam kehidupan manusia maupun  bidang keilmuan di zaman modern ini. Meskipun karya dari de Saussure ini jarang untuk dipublikasikan, namun dari situlah satu konsep yang diciptakan mampu memberikan pengaruh yang sangat besar.

Referensi
Abidin, Zainal. 2012. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta : PT RajaGrafindo             Perguruan Tinggi.

Hasan, Erliana. 2011. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Ilmu             Pemerintahan. Bogor : Ghalia Indonesia.