Munculnya paham baru
kian terlihat yakni sekitar pada zaman kontemporer yakni diawal abad kedua
puluh. Dimana pada abad tersebut orang berpikir lebih mengarah pada abad kedua
puluh tersebut. Salah satu paham baru yang muncul tersebut yakni Strulturalisme
yang dicetuskan oleh tokoh bernama Ferdinand de Saussure.
Akar
dasar dari pemikiran ini sendiri dari Ferdianand de Saussure yakni meletakkan
dasar linguistik dan tata bahasa. Meski De Saussure jarang mempublikasikan
karyanya, namun dari karyanya mengenai ilmu linguistik itulah ia memberikan
konstribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan juga filsafat di masa
kehidupan manusia saat ini atas ilmu linguistiknya. Ia pun akhirnya terkenal menjadi bapak
linguistik (Hasan, 2012:56).
Latar
belakang kehidupan Ferdinand de Saussure yakni ia adalah seorang yang berkebangsaan
Swiss yang lahir di Jenewa pada tanggal 26
November 1857 dan meninggal pada umur 55 tahun
bertepatan pada tanggal yakni 22 Februari 1913. Ketika ia meninggal, ia memiliki dua orang murid yang
pernah ia ajar di Jenewa yang nantinya dari kedua murid itulah karya tulisan
dari de Saussure dapat tersebar dan dipelajari khalayak umum.
Structuralism adalah sebuah kata dari bahasa inggris
yakni struere yakni berarti membangun
dan Structura berarti bentuk
bangunan. Ini berartikan bahwa sebuah sudut pandang, filsafat atau gerakan
filosofis abad ini, ajaran pokoknya adalah semua masyarakat dan kebudayaan
memiliki suatu struktur yang sama dan yang tetap.
Tujuan dari adanya paham Strukturalisme ini sendiri
yakni pada bidang metodologis ilmiah menetapkan riset sebagai tugas
menyingkapkan struktur objek-objek. Strukturalisme dikembangkan oleh beberapa
ahli humanoria yang mencakup beberapa bahasan yakni : linguistic, kritik
sastra, psikologi dll.
Pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap
evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang
dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Sedangkan ciri
khas strukturalisme yang begitu signifikan yakni adanya pemusatan pada
deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat
instriknya yang tidak terikat oleh wktu dan penetapan hubungan antara fakta
atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan.
Berawal dari seperangkat fakta yang diamati pada
permulaannya, strukturalisme menyingkapi dan melukiskan struktur inti dari
suatu objek (hierarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap
tingkat), dan lebih lanjut menciptakan suatu model teoritis dari objek
tersebut.
Pengertian dari istilah Strukturalisme sendiri adalah cara
filsafat yang mendasari semua pemikiran abad modern ini, sedangkan linguistik itu sendiri merupakan salah satu ilmu yang paling sistematis
dalam bidang humaniora. Akar strukturalisme adalah filsafat bahasa Saussure
yang pada umumnya karyanya diabaikan sampai tahun lima puluhan hingga enam
puluhan, ia menangkap makna pengamatan terhadap struktur bahasa, dari pada
logika jalan.
. Pada tahun 1960-an strukturalisme
telah menjadi model dikota Paris. Secara sederhana strukturalisme adalah
pandangan bahwa setiap wacana, baik wacana filsafat maupun lainnya adalah
sekedar sebuah struktur didalam bahasa tidak lebih. Teks tidak memberikan
sesuatu yang lain kecuali teks itu sendiri, tidak ada lainnya dibalik bahasa.
Ferdinand de Saussure
(1857-1913) telah meletakkan dasar linguistik modern. Dia adalah orang Swiss
yang untuk beberapa waktu mengajar di Paris dan akhirnya menjadi professor di Jenewa. Selama hidupnya ia
mempublikasikan sedikit karangannya. Buku yang mengakibatkan namanya menjadi
tersohor di bidang linguistik ditebitkan oleh dua orang muridnya yang bernama
Charles Bally and Albert Sechehaye. Penerbitan buku itu sendiri yakni tiga
tahun setelah kematiannya. Buku karya de Saussure yang diterbitkan itu diberi
judul Cours de linguistique general pada tahun 1916 dan berisikan mengenai kursus
tentang linguistic umum.
Beberapa prinsip dasar yang
digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme berasal dari teori linguistik yang
diuraiakan dalam buku tersebut. Tentu itulah hal yang kian menjadikan pemikiran
de Saussure sendiri semakin bernilai dan berguna. Struktur dalam bahasa, istilah struktur berkaitan
dengan bahasa sebagai sistem. Pendekatan struktural tentang bahasa mengandung
arti pendekatan yang menganggap bahasa sebagai sistem dengan ciri-ciri
tertentu, pemakaian kata “struktur” dalam strukturalisme disertai oleh seluruh
konteks yang telah diuraikan yaitu significant-signifie, parole-langue,
sinkroni diakroni.
Pertama, secara singkatnya Signifiant merupakan penandaan yang
ditandakan. Penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna.
Significant adalah aspek material dari bahsa, yaitu apa yang dikatakan atau
didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.
Sedangkan signifie (yang ditandakan) adalah gambaran
mental, fikiran atau konsep. Signifie adalah aspek mental dari bahasa. Tanda
dan bahasa selalu mempunyai segi yaitu significant dan signifie. Itulah mengapa
Significant dan Signifie harus disandingkan menjadi satu agar suatu hal dapat
dikenali tanda. Karena suatu signifie itu sendiri tidak mungkin disampaikan
atau ditangkap lepas dari significant. Yang ditandakan itu termasuk tanda
sendiri dan demikian merupakan suatu faktor linguistic.
Kedua, yakni bahwasannya mengenai bahasa individual dan bahasa
bersama. Tanda awal dari adanya gejala bahasa secara umum disebut dengan
istilah yang bernama langage. Dalam
langage itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua pembahasan yakni dibedakan
antara parole dan langue. Parole dimaksudkan sebagai
pemakaian bahasa yang individual yang artinya dipakai oleh perseorangan (satu
orang saja).
Meski parole tidak dipelajari dalam ilmu linguistik,
namun dalam Linguistik menyelidiki unsur lain dari langage yaitu langue. Langue
dimaksudkan sebagai bahasa yang pemakaiannya milik bersama dari suatu golongan
bahasa tertentu. Sehingga akibatnya yaitu, langue melebihi semua individu yang
berbicara dengan bahasa itu.
Karya yang terkenal dari de
Saussure yang berjudul Course in general
Linguistic, sebenarnya tersusun dari catatan kuliah serta catatan
murid-muridnya mungkin bisa dilihat sebagai bagian dari pemenuhan keyakinan de
Saussure bahwa bahasa itu sendiri harus ditinjau ulang agar linguistik memiliki
landasan yang mantap.
Seperti yang ditunjukkan dalam
buku karya berjudul Course, dalam sejarah linguistik, pendekatan Saussure pada
umumnya dianggap menentang dua pandangan kontemporer yang berpengaruh tentang
bahasa. Yang pertama adalah yang diusulkan pada tahun 1660 oleh Lancelot dan Gramaire
de port-royal, Kedua yakni karya dari Arnaud,
dimana bahasa dilihat sebagai cerminan pikiran dan didasarkan atas logika
universal saja.
Tepat menurut waktu dan menelusuri waktu, bahasa dapat
dipelajari menurut dua sudut sinkron dan diskroni, sinkroni berarti “bertepatan menurut waktu” dan diakron “menelusuri waktu”. Diskroni
adalah peninjauan historis, sedangkan singkroni menunjukkan pandangan yang
lepas dari perspektif historis, sedangkan Sinkron adalah peninjauan ahistoris
(keluar dari subjek historis).
Diantara faktor-faktor yang memajukan perkembangan
strukturalisme di dalam beberapa ilmu ialah diciptakannya semiotic, ide-ide
Ferdinand de Saussure dalam linguistic, ide-ide Levi Strauss dalam etnologi,
dan L.S. Vygtsky dan piaget dalam psikologi, serta tampilnaya metalogika dan
metamatika.
Bila diterapkan pada ilmu-ilmu individual,
metode-metode struktural mengakibatkan akibat-akibat positif : misalnya dalam
linguistic pendekatan ini membantu membuat suatu deskripsi tentang bahasa yang
tidak tertulis, membuat sandi prasati dalam bahasa, dll. Gagasan strukturalisme
juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner
tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan
dengan ilmu-ilmu alam.
Penutup
Ferdinand de Saussure sebagai tokoh yang melahirkan
Strukturalisme mampu memberikan konstribusinya dan pengaruhnya dalam kehidupan
manusia maupun bidang keilmuan di zaman
modern ini. Meskipun karya dari de Saussure ini jarang untuk dipublikasikan,
namun dari situlah satu konsep yang diciptakan mampu memberikan pengaruh yang
sangat besar.
Referensi
Abidin, Zainal. 2012. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta : PT RajaGrafindo Perguruan Tinggi.
Hasan, Erliana. 2011. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Ilmu Pemerintahan. Bogor : Ghalia Indonesia.