Selasa, 06 Mei 2014

STRATIFIKASI SOSIAL DALAM PEMILIHAN PONDOK PESANTREN BAGI KALANGAN MAHASISWA DI MALANG

KAJIAN PUSTAKA

Dalam makalah penelitian ini dibahas mengenai terjadinya stratifikasi sosial dalam hal pemilihan pondok pesantren terutama bagi kalangan mahasiswa dikota Malang yang banyak terdapat lembaga pendidikan. Sebelumnya dibahas terlebih dahulu mengenai artian secara terperinci berhubungan dengan masalah kajian.
1. Stratifikasi Sosial
Secara garis besar, Stratifikasi Sosial dapat diartikan yakni sebagai pembagian kelompok sosial secara vertikal. Yang artinya ada perbedaan tertentu yang dijadikan dasar pembagian dari adanya kelas-kelas sosial yang ada dan berkembang bagi sekelompok manusia atau masyarakat tertentu. Dapat diartikan pula Stratifikasi Sosial sebagai kebalikan atau lawan dari Diferensiasi Sosial, yakni pembagian sosial secara horisontal.
Dalam penjabaran Diferensiasi Sosial maupun Stratifikasi Sosial tentu berbeda satu sama lain. Dalam Stratifikasi Sosial lebih spesifiknya yakni pembagian setiap kelasnya secara berstrata atau bertingkat. Setiap manusia maupun masyarakat dapat dikategorikan berada pada kelas bawah, kelas tengah maupun kelas atas dalam pembagian kelompok sosial ini. Inilah yang menjadi pembeda antara Stratifikasi Sosial dengan Diferensiasi Sosial. Karena dalam Diferensiasi Sosial terjadi kesama rataan dalam segala hal, yang berarti tidak ada pembagian kelompok tertentu yang berkelas.
Pada dasarnya, pembagian kelompok sosial seperti ini telah ada sejak dulu kala yakni karena adanya lapisan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Proses terjadinya Pelapisan Masyarakat dalam bentuk Kelompok Sosial berstrata ini pula dapat terjadi dengan sendiri yang artinya tanpa terencanapun dapat terbentuk adapun juga terbentuknya memerlukan perencanaan atau biasa disebut tidak secara langsung.
Proses Pelapisan Masyarakat yang terbentuk secara langsung erat kaitannya apabila dikembalikan lagi dengan kodrat manusia yang sebagai makhluk sosial yang pasti melakukan hubungan sosial maupun kontak sosial dalam hal komunikasi maupun bersosialisasi. Peran dari terbentuknya pembagian kelas sosial dalam Pelapisan Masyarakat ini ditujukan dalam pemenuhan dan melangsungkan kehidupan sehari-hari lebih mudah dan teratur.
Dengan adanya kelompok sosial yakni Stratifikasi Sosial, individu menjadi dimudahkan misal dalam pembagian status, peran dan tugas yang nantinya diberikan pada seorang individu dalam kelompok sosial tersebut. Tanpa adanya pembagian terperinci mengenai pembagian kelas tersebut, tentu kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari akan menjadi susah dan terhambat bahkan tidak akan berjalan.
Dilain sisi, pembagian sosial berkelas pada perkembangannya saat ini memiliki begitu banyak pola dan kriteria yang menjadikan adanya pembagian kelas tertentu dalam proses pelapisan masyarakat ini. Faktor dari terbentuknya pelapisan ini diantaranya seperti : kedudukan, ilmu pengetahuan, kekayaan dsb.
2. Pondok Pesantren
Yakni sejenis hunian bagi sekelompok individu dalam satu tempat dimana ditempat tersebut tidak hanya didapatkan tempat hunian, juga dengan pembekalan dan pemberian ilmu terutam ilmu keagamaan islam. Pondok Pesantren atau yang biasa disebut Ponpes adalah salah satu alternatif bagi sebagian besar kalangan yang ingin mendapatkan dan lebih mendalami mengenai ilmu agama islam.
Tentu dalam setiap Pondok Pesantren yang banyak tersebar disetiap wilayah memiliki kriteria maupun kelebihan dan kekurangan masyarakat. Adapaun seperti kriteria Pondok Pesantren yang terlihat bagus sehingga menarik perhatian calon penghuni Pondok Pesantren tersebut.
Dalam hal lain, Pondok pesantren tentu berbeda dengan tempat hunian lain yang juga mengajarkan ilmu keagamaan. Dapat diambil contoh yakni asrama. Pondok Pesantren berbeda dengan Asrama, ini karena dalam Pondok Pesantren memiliki lebih banyak waktu dalam pembelajaran keagama islaman daripada Asrama. Meskipun keduanya memiliki keunggulan dalam pemberian ilmu keagamaan, namun Pondok Pesantrenlah yang lebih menonjol dalam hal tersebut.
Lebih banyak waktu dalam pembelajaran keagama islaman ini adalah dari adanya kegiatan mengaji dan sebagainya yang sebagian besar dua atau tiga kali sehari dengan relatif waktu antara satu hingga dua jam disetiap kegiatan mengaji tersebut.
3. Mahasiswa
Biasa disebut dengan pelajar tingkat tinggi karena telah memiliki kemandirian daripada pelajar SMP maupun SMA. Mahasiswa sebagian besar adalah seorang perantauan yakni seorang individu yang jauh-jauh datang dari kampung halamannya menuju tempat individu itu menuntut ilmu di perguruan tinggi.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Adanya suatu proses pelapisan masyarakat yang menyebabkan terjadinya suatu pembagian kelompok sosial dalam benturk strata atau berkelas, bukanlah suatu hal bari dalam kehidupan bersosialisasi manusia. Inilah akibat dari adanya hubungan sosialisasi manusia setiap harinya, yang dapat menimbulkan dan melahirkan suatu kelompok sosial baik berupa Stratifikasi Sosial maupun sebagainya.
Terbentuknya dan munculnya Kelompok Sosial itupun juga dapat terjadi dari adanya faktor ketidaksengajaan atau terjadi begitu saja tanpa ada arahan atau perencanaan. Masyarakat modern kini condong kearah pengklasifikasian segala macam atau sesuatu yang ada disekitar mereka. Mereka akan dengan segera mengelompokkan kedalam tiga kelas yang biasa diketahui yakni diantaranya kelas atas, tengah hingga bawah.
Pengelompokkan macam ini lantas memiliki kriteria dan pandangan tersendiri, baik dari segi finansial hingga fisik. Yang selanjutnya masyarakat sendiripun yang menentukan manakah yang dimasukkan dalam ketiga kelas tersebut.
Dalam kasus mengenai Stratifikasi Sosial yang berkenaan tentang tempat hunian Pondok Pesantren yang nantinya muncullah suatu permasalahan baru yang menyebabkan suatu pengklasifikasian dan berujung pada pelapisan masyarakat. Objek yang menentukan Stratifikasinya yakni mengenai faktor prestis yang mendasari. Ini karena, dalam kajian ini yaitu bagi kalangan mahasiswa yang menempati Pondok Pesantren memiliki pandangan bahwa suatu Pondok Pesantren itu berada dikelas atau strata paling tinggi yakni karena ukuran prestis.
Dasar prestis inilah yang dapat mendorong mahasiswa bersedia bahkan rela berbondong-bondong untuk mendapatkan tempat agar bisa bergabung dalam kelompok sosial baru mereka (ponpes) yang memiliki nilai prestis yang tinggi.
Nilai prestis yang diukur tentu tidak semerta-merta semudah itu, karena kriteria prestis yang didapat bermcam-macam diantaranya yakni mengenai fasilitas dan tempat atau lingkungan disekitarnya. Jika suatu tempat itu berada dilingkungan yang elite, tentu secara langsung tempat tersebut dapat dikatakan sebagai tempat dengan kedudukan yang memiliki nilai prestis tinggi sehingga jika bergabung dalam kelompok sosial yang didalamnya dapat menjadikan seseorang mendapat nilai prestis yang tinggi.
Selain itu, dinamika dari masyarakat modern saat ini terutama bagi mahasiswa yang telah dianggap sebagai individu yang telah mencapai masa kedewasaan yakni cenderung memilih gaya hidup yang serba mewah dan menginginkan dianggap memiliki nilai ke-elite an yang tinggi dibandingkan dengan yang lain. Inilah salah satu faktor pendorong semakin selektifnya mahasiswa dalam memilih-memilih pondok pesantren yang nantinya dihuninya.
Pondok pesantren dengan fasilitas, keadaan lingkungan dan ukuran materiil sebagai dasar ditentukannya suatu tingkat keprestisan pondok pesantren tersebut dimata para mahasiswa.
Tak mengherankan bila setiap Pondok Pesantren yang menawarkan berbagai macam perlengkapan dan fasilitas lengkap yang begitu memadai yang ditujukan untuk mendapat banyak calon penghuni baru dalam Pondok pesantren tersebut. Selanjutnya setelah seorang telah masuk dan bergabung dalam kelompok sosial diruang lingkup pondok pesantren yang memiliki nilai prestis, tentu secara langsung maupun tidak langsung merasa mendapatkan nilai tambah dari pandangan orang lain karena telah tinggal atau menghuni dan menjadi bagian dari kelompok sosial yang elite tersebut.


1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari kasus ini yakni antara lain :
1.2.1. Bagaimana kriteria pemilihan Pondok Pesantren?
1.2.2. Bagaimana bentuk Stratifikasi Sosial dari Pondok Pesantren yang memiliki nilai prestis yang tinggi?
1.2.3. Bagaimana pengaruh pemilihan Pondok Pesantren terhadap Stratifikasi Sosial?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari kasus ini yakni antara lain :
1.3.1. Untuk mendiskripsikan bagaimana kriteria pemilihan Pondok Pesantren.
1.3.2. Untuk mendiskripsikan bagaimana bentuk Stratifikasi Sosial dari       Pondok Pesantren yang memiliki nilai prestis yang tinggi.
1.3.3. Untuk mendiskripsikan bagaimana pengaruh pemilihan Pondok Pesantren terhadap Stratifikasi Sosial.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kriteria pemilihan Pondok Pesantren.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang dibuat oleh penulis yakni dengan metode angket dapat diketahui beberapa kriteria yang menjadikan dasar apa saja alasan yang menjadikan pemilihan Pondok Pesantren bagi mahasiswa.
Dari beberapa kriteria yang diajukan, para narasumber atau individu yang menulis angket tersebut 75 % memilih Pondok Pesantren dengan fasilitas yang memadai. Salah satu kriterianya yakni fasilitas dengan sambungan internet yang dapat digunakan kapan saja, namun kecuali pada saat jam mengaji memang sambungan internet itu dimatikan. Hal termasuk dilakukan agar pada saat jam mengaji berlangsung tidak ada santri dipondok peasntren tersebut yang membolos dan justru membuka link di internet dengan leluasa.
Meski demikian, fasilitas internet sungguh menjadi hal yang paling dicari karena para mahasiswa di Pondok Pesantren tidak harus repot-repot pergi ke Warnet (Warung Internet) untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan mereka sehari-hari.
Sambungan internet juga menjadikan seorang yang memasuki Pondok Pesantren lebih betah berlama-lama berada di Pondok Pesantren terutama diwaktu senggang. Selain pada saat untuk mencari bahan dalam tugas perkuliahan, santri dipondok pesantren tersebut dapat leluasa membuka link di internet tanpa ada batasannya.
Lalu selanjutnya kriteria yang kedua yakni mengenai lokasi atau tempat Pondok Pesantren tersebut berada. Semakin Pondok Pesantren tersebut bertempat ditempat yang layak bahkan elite, maka semakin banyak pula yang berkeinginan untuk menjadi salah satu santri di Pondok Pesantren tersebut. Dapat dijadikan dari hasil observasi, penulis menemukan yakni 80 % mahasiswa memilih Pondok Pesantrennya karena alasan lokasi tempat yang nyaman dan menyenangkan dan dipandang bagus. Berdasarkan lokasi juga dapat ditentukan kemudahan jarak yang ditempuh dari tempat kuliah mahasiswa yang akan menghuni di Pondok Pesantren tersebut. Karena semakin mudah jangkauan tempat Pondok Pesantren dengan Kampus maka mahasiswa juga mendapat kemudahan dalam perjalanan menuju kampus.
Bahkan ada pula suatu Pondok Pesantren yang bertempat disuatu Lingkungan Perumahan yang Elite yang secara langsung lantas membuat Pondok pesantren yang berada disana pula dianggap sebagai suatu yang elite pula. Juga dengan ketersediaannya tempat-tempat penting dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti pasar, tempat bermain, warung makan dll.
Ditambah lagi dengan ukuran maeriil dari fasilitas yang ada pada suatu Pondok Pesantren. Semakin banyak nilai materiil yang dikeluarkan untuk Pondok Pesantren tersebut, berpengaruh terhadap seberapa layak dan nyaman Pondok Pesantren tersebut untuk dipilih dan dihuni.

2.2 Bentuk Stratifikasi Sosial dari Pondok Pesantren yang memiliki nilai prestis yang tinggi.
Tidak berbeda jauh dari penelitian di subbab sebelumnya, bahwa mahasiswa dalam hal ini sebagai pelaku utama adanya pembagian kelas dari adanya Pondok Pesantren dengan berbagai jenisnya yang banyak tersebar di Malang. Berbagai dasar yang menjadikan pembagian ini pula telah disebutkan sebelumnya, sehingga dapat diketahui bahwa apa yang dinilai oleh mahasiswa mengenai Pondok Pesantren yang nantinya menjadikannya mengelompok kekelas tertentu adalah tahap awal Pondok Pesantren yang dapat dimasukkan dalam proses terjadinya proses Stratifikasi Sosial.
Strata atau tingkatan kelas pada Pondok Pesantren dapat diketahui jelasnya melalui hasil angket, dimana ada tiga kriteria dari Pondok Pesantren yang dimasukkan yakni kelas atas, tengah dan bawah.
Kelas paling atas adalah Pondok Pesantren yang memiliki kriteria antara lain adanya kemapanan fasilitas seperti sambungan internet dengan terjaminnya tempat tinggal, listrik dan makan yang dapat diketahui dari biaya pembayaran SPP santri setiap tahunnya.
Dalam angket tertera bahwa bagi mahasiswa di Pondok pesantren (santri) mengkategorikan berkelas atas dengan biaya materiil sekitar  Rp. 3.500.000,- hingga Rp. 4.500.000,- per tahunnya yang juga diimbangi dengan kestrategian lokasi dengan kampus, tempat pemenuhan sehari-hari bahkan keadaan lingkungan sekitar.
Kemudian dibawahnya yaitu kelas menengah, yakni dalam kategori ini Pondok memiliki fasilitas maupun nilai materiil yang biasa saja. Karena hal itu pula tentu menjadikan keterjaminan kebutuhan hidup juga biasa-biasa saja, yang artinya tidak buruk juga tidak baik pula.
Dalam kelas ini fasilitas internet jarang teradi, jikapun aja itu hanya beberapa Pondok pesantren yang dapat ditemukan. Lalu dengan hasil angket, kategori kelas menengah ini mencakup nilai materiil antara Rp. 2.500.000,- hingga Rp. 3.500.000,- dengan kesediaan tempat penunjang kebutuhan sehari-hari yang biasa pula. Lokasi dari kelas menengah ini adalah berada disekitar lingkungan perumahan dengan kalangan ekonomi menengah atau biasa saja.
Lalu selanjutnya yang terakhir yakni kategori kelas yang bawah. Dari hasil penelitian didapat informasi bahwa fasilitas dari kelas ini sangat minimalis, yang artinya fasilitas yang disediakan tidak sepadan atau terjamin dibanding dengan kelas-kelas diatasnya. Layanan internet pun tentu tidak ada. Pada kelas bawah ini jumlah materiil yang didapat dalam biaya SPP setahun yakni Rp.1.500.000,- hingga Rp. 2.500.000,-.
Ditambah pula lokasi dari Pondok Pesantren tersebut susah dijangkaunya, baik dari jarak menuju kampus atau tempat untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Karena adanya faktor jauhnya jarak dari tempat penting dalam pemenuhan hidup, kategori kelas bawah ini berlokasikan ditempat daerah pedesaan yang jaraknya lebih jauh dibanding didaerah perumahan.
Dari penjabaran diatas jelaslah jika sesuatu yang memiliki nilai prestis yang tinggi akan dapat dengan segera dimasukkan kedalam suatu kelompok sosial yang berstrata atau berkelas dengan tiga tingkatan. Begitu juga disetiap tingkatan itu pula tentu ada kategori masing-masing sebagai pembeda kelas yang satu dengan kelas yang lain.
2.3 Pengaruh pemilihan Pondok Pesantren terhadap Stratifikasi Sosial.
Pengklasifikasian atau pengelompokkan beberapa jenis Pndok Pesantren dengan beberapa kriterianya dapat disimpulkan telah memuncullah suatu kelompok sosial baru dalam struktur Stratifikasi Sosial.
Ini terjadi karena semakin kompleksnya hubungan sosialisasi individu disetiap hari-harinya. Sesuatu yang dianggap oleh individu itu merasa biasa saja atau malah bahkan menjadi seorang yang elite, bukanlah sesuatu atau hal yang baru saja terjadi.
Adanya klasifikasi baru dari segi Pondok Pesantren ini pula adalah sebagai wujud adanya faktor prestis sebagai nilai tambah yang membuat orang yang mengamati terutama kalangan mahasiswa memiliki argumentasi maupun pola pikir berbeda pula.
Suatu tempat telah memiliki karakteristik dan ciri khas tersendiri, tapi bagaimana seorang yang mengamati dalam hal ini mahasiswa menadikan pandangan baru dari karakterisktik yang berbeda-beda tersebut sehingga terciptalah suatu kelompok sosial baru dengan cara Stratifikasi Sosial.
Pemasukan suatu Pondok Pesantren kedalam ketiga kelas yakni atas, tengah dan bawah, lantas bersumber dari apa yang telah diamati dan dicerna pleh otak pikir individu yang berperan sebagai pengamat.
Ditambah pada masa modern kini, banyak orang menginginkan sesuatu dengan nilai prestis yang tinggi, dimana nolai prestis tersebut dapat membuat derajat mereka terangkat dan membuat masyarakat tersebut merasa bangga. Apalagi faktor prestis tersebut memiliki kelebihan tersendiri yakni terjaminnya dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Telah banyak orang memahami bahwa dalam hidup tidak bisa dile[as dengan nilai ekonomis yang sifatnya berupa finansial. Inilah faktor pendoronh pula alasan mengapa banyak orang begitu memperhitungkan segala sesuatu yang emmiliki nilai prestis yang lebih tinggi.
Bagi kalangan anak mahasiswa, Pondok Pesantren memang begitu dibutuhkan bagi sebagian diantaranya yang ingin mendalami ilmu agama islam. Oleh karena itu pemilihan Pondok Pesantren yang dihuni nantinya begitu selektif, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial. Bagi mahasiswa yang tinggal di Pondok Pesantren berlingkungankan perumahan elite, tentu akan merasa layaknya orang elite pula. Karena pada dasarnya, Pondok Pesantren adalah salah satu tempat agen sosial terjadi.
Di Pondok Pesantren banyak mahasiswa lain bermkumpul dan bercengkerama satu sama lain setiap harinya, yang dalam hal sosialisasi inilah Kelompok sosial terjadi. Dan juga pula pengklasifikasian dengan beberapa kriteria menjadikan anggaoan tersendiri bagi mahasiswa yang menghuni suatu Pondok Pesantren.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adanya Pondok Pesantren yang tersebar dan ada banyak telah melahirkan suatu pengkelasan dari struktur kelompok sosial. Dasar pengklasifikasian ini pula yakni dari hasil prestis yang terlihat dan ada dari suatu Pondok Pesantren tertentu. Faktor prestis ini pulalah yang menjadikan mahasiswa menginginkan ikut serta dalam kelompok sosial tersebut.
Pelapisan masyarakat ini juga diakibatkah faktor geografis, yakni kondisi lingkungan dan lokasi tempat Pondok tersebut. Yakni jauh atau dekatnya daya jangkau dengan tempat yang dibutuhkan sebagai pemenuhan kehidupan sehari-hari. Karena jika dari segi letaknya yang jauh dari tempat-tempat penting, tentu akan menghambat dan mengalami kesulitan dalam hal memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Masyarakat yang kini berkembang kian modern menjadikan prestis sebagai suatu anggapan untuk mendapat nilai tambah dalam kehidupan sehari-harinya. Pondok Pesanren dikategorikan dalam kelompok sosial dengan kelas tertentu erta hubungannya pula dengan seperangkat individu yang berada didalam ruang lingkupnya. Secara garis besar, Pondok Pesantren adalah sebagai agen pembentukan proses sosialisasi individu.
Pondok Pesantren yang dinilai memiliki prestis tinggi mempengaruhi gaya hidup dan pandangan bagi seorang individu dalam hal ini yakni mahasiswa , untuk ikut serta dan terpengaruh dengan lingkungan Pondok Pesantren yang ditinggalinya.
Pengkategorian kelas yang lain juga dapat berdasarkan dari nilai finansial yang ada dalam Pondok Pesantren tersebut, ini karena harga juga mempengaruhi bagaimana ketersediaan layanan yang sesuai dan layak.
Seperti yang diketahui bahwa di kota Malang sendiri yang terdapat begitu banyak lembaga pendidikan terutama Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta. Banyaknya mahasiswa yang berminat berada di Pondok Pesantren sehingga menjadikan semakin banyak pula kriteria dan kategori yang mereka inginkan dalam pemilihan Pondpk Pesantren nantinya.
Itulah yang menjadikan tidak sedikit Pondok Pesantren yang terdapat dan tersebar di sekitar kota Malang sebagai kota pendidikan.
3.2 Saran
Dari keseluruhan penulisan makalah yang dibuat penulis ini, tentunya memiliki banyak kekurangan maupun kesalahan yang dibuat penulis sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung. Itulah mengapa penulis mengharapkan kepada semua pembaca untuk memberi kritik maupun saran yang membangunnya agar nantinya lebih baik untuk makalah berikutnya.


DAFTAR RUJUKAN

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers