1. Kehidupan SosialMasa Bercocok Tanam
Masa berburu dan menumpulkan makanan pada prasejarah berangsur-angsur ditinggalkan. Masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda menetap di suatu tempat (nomaden) dengan nengembangkan kegiatan baru seperti bercocok tanam dan penjinakan hewan.
Dengan beberapa penemuan bahwa mereka memiliki kecenderungan untuk mendiami suatu tempat terbuka yang mana dekat dengan air misalnya tepi sungai dan laut. Adakalanya tempat yang didiami adalah tempat-tempat yang tinggi dan bukit-bukit kecil tujannya untuk melindungi diri dari serangan-serangan musuh atau gangguan binatang buas. Ada kemungkinan bangunan tempat tinggal mereka dibuat dari bamboo/kayu.
Perubahan tata kehidupan yang ditandai oleh perubahan cara memenuhi kebutuhan hidup berlangsung secara perlahan-lahan demikian pula bentuk tempat tinggalnya ,ada kemungkinan pada masa itu terbentuk semacam pedukuhan dengan tempat tinggal yang dibangun tidak beraturan bentukrumah yang tingkat permukaan agak kecil dan berbentuk kebulat-bulatan dengan daun-daunan yang dimanfaatkan untuk atapnya. Rumah semacam ini masih dapat kita jumpai di daerah Timur Indonesia.
Kemudian berkembanglah bentuk-bentuk rumah dengan atap yang lebih tinggi dan bertiang yang memungkinkan adanya perkembangan pengaruh baru yang dibawa oleh para pendukung tradisi beliung persegi atau factor pendorong karena jumlah penduduk semakin meningkat. rumah-rumah itu biasanya dibangun dekat ladang atau jauh dari ladang akibat situasi ladang berpindah.
Beberapa segi kehidupan masyrakat bercocok tanam di Indonesia:
Manusia bercocok tanam telah hidup menetap di suatu perkampungan dan membentuk masyarakat yang teratur. mereka mulai meninggalkan cara hidup yang menggantungkan diri pada alam. sumber-sumber alam mereka memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pada umumnya dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong. Menurut H.R Van Heekeren tanah pertanian diciptakan di hutan dengan cara penebangan dan pembakaran pohon-pohon dan semak-semak belukar. Abu dari pohon-pohon dan semak-semak belukar tersebut kemudian dijadikan pupuk (H.R. Van Heekeren 1957, halaman 154). Cara pertanianyang mereka lakukan masih menggunakan system ladang yang berpindah-pindah sehingga proses seperti tersebut di atas akan diulang kembali apabila membuka ladang baru.
Selain kegiatan bercocok tanam manusia masa kini melakukan usaha menjinakkan binatang. Jenis binatang yang dipelihara antara lain babi, anjing, dan jenis unggasseperti ayam dan itik (H.R. Van Heekeren 1995,halaman 40) Tujuan pokok menjinakkan binatang bukan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani melainkan untuk tujuan religious. Hal ini disebabkan karena dalam kehidupan masyarakat telah muncul untuk kepercayaan. Salah satu segi yang menonjol dari kepercayaan itu adalah sikap hidup terhadap alam kehidupan sesudah mati. Menurut kepercayaan mereka, roh seorang tidak lenyap pada saat orang meninggal sehingga roh-roh tersebut dianggapmasih dalam keadaan sesudah mati
Pandangan masyarakat pada masa ini berpangkal pada keyakinan bahwa arwah nenek moyang dapat mendatangkan berkah serta menjamin kesejahteraan kehidupan keluarga.
Atas dasar kepercayaan tersebut maka dalam kehidupan mayarakat becocok tanam muncul kebiasaan megadakan upacara-upacara yang dianggap sebagai sarana untuk meminta berkah dari nenek moyangnya. Upacara tersebut pda umumnya dertai dengan penyembelihan binatang korban. Sesudah binatang korban disembelih kemudian isi perut (misalnya hati dan limpa) dikeluarkan. Mereka percaya bahwa isi perut tersebut dapat memberi petunjuk berhasil atau tidaknya suatu usaha atau tindakan yang dijalankan (H.R. Van Heekeren 1957, halaman 156). Penyembelihan binatang korban dilakuan antara lain pada waktu upacara penguburan, upacara membuka ladang baru, dan upacara-upacara lainnya.
Di samping upacara-upacara tersebut di atas masyarakat bercocok tanam mendirikan pula bangunan-bangunan batu besar, misalnya menhir, tempat pertemuan dan pelinggih. Pendirian bangunan- bangunan ini dapat memberi keuntungan pada kedua belah pihak yaitu yang mati dan yang masih hidup. Bagi yang mati pendirian bangunan batu besar berarti mendapat jalan untuk memperoleh kehidupan yang tenteram dan abadi, sedang bagi yang ditinggalkan mendirikan bangunan tersebut merupakan sarana untuk memperoleh berkah dari nenek moyangnya.
Pada masa ini jumlah anak-anak dan para perempuan mulai mendapat tempat dalam kegiatan tertentu. Jumlah penduduk masa bercocok tanamdi Indonesia belum dapat diperkirakan tetapi dapat diduga bahwa jumlahnya lebih banyak dari masa sebelumnya. Tentang golongan ras yang menghuni kepulauan ini pada masa bercocok tanam telah diterngkan bahwa Mongoloid lebih dominan dari pada Austramelanesid.
Di beberapa tempat kehidupan berburu masih diteruskan sebagai pekerjaan sambilan setelah pekerjaan di ladang selesai.
Sesuai dengan gelombang persebaran tradisi neolitik di Indonesia pada tingkat permulaan kegiatan becocok tanam telah dapat menghasilkan keladi,ubi,sukun, seperti buah-buahan durian,manggis,rambutan,duku,salak dan buah kelapa.
Ada kemungkinan bahwa system irigasi tingkat permulaan diadakan untuk tanaman-tanaman keladi yang menjadi makanan pokok. Misalnya sukun, sukun yang dikeringkan akan tahan lama dan sangat berguna untuk santapan dalam perjalanan laut yang memakan waktu berbulan-bulan.
Jenis tanaman itu pada umumnya tumbuh liar da nada juga yang segaja di tanam untuk memenuhi kebutuhannhya. Ada kemungkinan bahwa pengetahuan bagaimana menanam dan nengembangbiakkan tumbuhan itu mulai dikenal secara perlahan-lahan ketika para pendukung tradisi beliung persegi berpengaruh di kepulauan ini.
Jenis hewan pun semakin banyak dikenal misalnya ayam dan kerbau yang pada umumnya dipergunakan sebagai binatang kurban. Anjing dipelihara untuk berburu sedangakn babi selain dimakan dagingnya juga sangat penting sebagai binatan kurban dalam upacara keagamaan.
Dengan mulai dikenalnya cara-cara bercocok tanam ada dua hal yang penting yang erat hubungannay dengan tumbunhya suatu masyarakat dan berkembangya peradaban yaitu telah ada masyarakat yang bertempat tiggal menetap minimal satu kali atau semusim, kedua menetap dalam waktoyang agak lama memungkinkan lahirnya suatu ikatan dengan alam dan tempat tinggalnya.
Di sisi lain bahawa alam tak selamanya menyediakan tanah yang subur dengan berbagai hasil panen yang baik. Pada suatu waktu semua itu akan berkurang dan tanah makin habis kesuburannya akibatnya lahan lama ditinggalkan dan lahan baru dibuka. Proses seperti itu berulang-ulang di banyak tempat dalam waktu yang lama sehingga dapat digambarkan semacam perpindahan yang silang menyilang atau parallel.
2. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan itu dapat disebabkan karena ada interaksi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam, karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan. Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.
Manusia harus mengolah alam. Pada masa ini kehidupan manusia berkembang dengan mulai mengolah makanan dengan cara bercocok tanam. Karena manusia sudah beralih pada tingkat kehidupan bercocok tanam, maka pola hidupnya tidak lagi nomaden atau berpindah-pindah. Manusia sudah mulai menetap di suatu tempat, yang dekat dengan alam yang diolahnya. Binatang buruan pun sudah ada yang mulai dipelihara. Dengan demikian, bercocok tanam dan beternak sudah berkembang pada masa ini. Alam yang dipakai untuk bercocok tanam adalah hutan-hutan. Hutan itu ditebang, dibersihkan, kemudian ditanami dengan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, atau pepohonan lainnya yang dibutuhkan oleh manusia atau masyarakat. Cara yang mereka lakukan masih sangat sederhana. Berhuma merupakan cara bercocok tanam yang sangat sederhana. Karena berhuma memerlukan tempat yang subur, maka ketika tanah itu sudah tidak subur, mereka akan mencari daerah baru. Dengan demikian hidup mereka berpindah ke tempat baru untuk waktu tertentu, dan begitu seterusnya.
Kehidupan Ekonomi
Pada masa kehidupan bercocok tanam, kebutuhan hidup masyarakat semakin bertambah, namun tidak ada satu anggota masyarakatpun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Dengan kenyataan seperti ini, dalam rangka memenuhi kebutuhannya masing-masing diadakan pertukaran barang dengan barang (sistem barter). Pertukaran barter ini menjadi awal munculnya sistem perekonomian dalam masyarakat.
Pada masa kehidupan bercocok tanam, kebutuhan hidup masyarakat semakin bertambah, namun tidak ada satu anggota masyarakatpun yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Dengan kenyataan seperti ini, dalam rangka memenuhi kebutuhannya masing-masing diadakan pertukaran barang dengan barang (sistem barter). Pertukaran barter ini menjadi awal munculnya sistem perekonomian dalam masyarakat.
Sistem barter
Sistem barter merupakan sejenis bentuk perniagaan yang tidak menggunakan sembarang bentuk perantara pertukaran, di manabarangan atau perkhidmatan ditukar dengan barangan dan/atau perkhidmatan lain. Ia boleh jadi dibuat antara dua atau beberapa pihak.
Melalui sistem ini mereka terpaksa membuat pilihan sesama mereka untuk mendapatkan barang perantaraan yang dapat membawa manfaat bersama antara mereka. Oleh sebab itu, barang-barang yang digunakan sebagai alat perantaraan itu berbeda mengikut suasana dan zaman. maka jelaslah di sini bahawa pertukaran adalah tidak mustahil tanpa wang dan tidak hairanlah manusia boleh menjalankan kegiatan perdagangan dengan sistem pertukaran barter.
3. Kehidupan Kebudayaan
1. Kebudayaan semakin berkembang pesat, manusia telah dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik
2. Peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam semakin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun tulang
3. Hasil kebudayaan pada masa bercocok tanam:
Beliung Persegi, Kapak Lonjong, Mata panah, Gerabah, Perhiasan, Bangunan Megalitikum seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, waruga, arca
Perkembangan kebudayaan pada masa bercocok tanam makin bertambah pesat. Hal ini dikarenakan manusia mulai dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik. Peninggalan-peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam makin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun logam.
Hasil-hasil kebudayaan manusia masyarakat zaman bercocok tanam adalah sebagai berikut
1. Beliung persegi
Diantara peralatan batu yang paling menonjol dari masa bercocok tanam di Indonesia adalah beliung persegi. Beliung persegi bentuknya mirip cangkul, amun tidak sebesar dan selebar cangkul zaman sekarang. Beliung persegi digunakan untuk mengolah kayu, misalnya untuk membuat rumah dan perahu. Beliung persegi ditemukan hampir di seluruh wilayah kepulauan Indonesia., yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Adapun penemuannya diluar wilayah Indonesia yaitu di Semenanjung Melayu dan Asia Tenggara. Beliung persegi terbuat dari batu api.
2. Kapak lonjong
Bentuk keseluruhan kapak lonjong adalah bulat telur dengan penampang lintang lonjong. Ujung yang agak lancip dikaitkan di tangkai, sedang diujung yang bulat diasah sampai tajam. Bahan yang digunakan untuk membuat kapak lonjong adalah batu kali yang warnanya kehitaman seperti kapak batu yang sampai sekarang masih digunakan sebagian suku di Papua. Kapak lonjong juga dapat dibuat dari jenis batu nefrit yang berwarna hijau tua yang diperoleh dari segumpal batu yang diserpih atau dari kerakal yang sudah sesuai bentuknya. Setelah permukaan batu itu diratakan, selanjutnya diasah samapi halus.
Kapak lonjong mempunyai ukuran yang berbeda-beda dan mempunyai fungsi yang bermacam-macam. Kapak lonjong kecil digunakan sebagai benda wasiat. Adapun kapak lonjong besar digunakan sebagai cangkul untuk menggarap lading/sawah dan sebagai kapak biasa. Diantara kapak-kapak lonjong itu ada juga yang hanya digunakan untuk keperluan upacara saja. Bahan batu kapak lonjong untuk keperluan upacara lebih bagus daripada bahan untuk kapak biasa. Cara pembuatannya juga jauh lebih halus. Daerah penemuan kapak lonjong di Indonesia hanya terbatas di kawasan Indonesia timur saja, seperti di Maluku, Irian, dan Sulawesi Utara. Adapun di daerah lain sampai sekarang tidak ditemukan.
3. Mata panah
Mata panah merupakan salah satu dari perlengkapan berburu maupun menangkap ikan. Mata panah untuk menangkap ikan dibuat bergerigi seperti mata gergaji dan umumnya dibuat dari tulang. Sisi-sisi mata panah dari zaman kehidupan bercocok tanam berhasil ditemukan didalam gua-gua yang ada di pinggir sungai. Kemungkinan juga ada mata panah yang dibuat dari kayu seperti yang masih digunakan oleh penduduk asli Papua. Daerah yang banyak ditemukan mata panah ini adalah jawa timur dan Sulawesi selatan.
4. Gerabah (Tembikar)
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa alat-alat dari gerabah sudah mulai dibuat oleh manusia prasejarah sejak masa berladang. Namun pembuatannya masih sangat sederhana. Pada tahap kehidupan bercocok tanam di persawahan atau masa bercocok tanam tingkta lanjut, pembuatan gerabah mengalami kemajuan dan ragamnya pun bertambah banyak. Gerabah terbuat dari tanah liat yang dibakar. Pada umumnya gerabah dibuat untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, misalnya sebagai tempat air, alat untuk masak, tempat menyimpan makanan dan lain-lain. disamping itu gerabah juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan perhiasan dan sebagai aksesoris untuk upacara keamanan dan ritual, misalnya untuk tempayan dan sebagai bekal kubur. Gerabah dihias dengan beragam hiasan. Menghias gerabah lebih muda dibandingkan dengan menghias benda-benda lainnya. Oleh karena itu, gerabah selalu menjadi alat untuk mencurahkan rasa seni, baik melalui hiasan atau melalui pemberian bentuk. Gerabah hampir ditemukan pada setiap rumah tangga diseluruh wilayah Indonesia. Para ahli sejarah sangat memperhatikan temuan-temuan gerabah, karena berbagai bentuk hiasan dapat memberi petunjuk tentang keadaan dan kehidupan dari masyarakat yang menghasilkannya.
5. Perhiasan
Pada masa kehidupan bercocok tanam telah dikenal berbagai bentuk perhiasan. Bahan dasar pembuatan perhiasan diambil dari bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar dimana mereka tinggal. Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membuat perhiasan seperti tanah liat, batu kalsedon, batu agat, batu yaspur, yang berwarna kuning; putih; cokelat; merah; serta kulit kerang.
4.Sistem Teknologi
TEKNOLOGI MASA BERCOCOK TANAM
Pada umumnya, alat peninggalan masa bercocok tanam adalah alat batu yang diupam (diasah) dan tradisi pembuatan gerabah. Umumnya alat batu yang ditemukan adalah beliung dan kapak batu, dibeberapa tempat ditemukan juga mata tombak dan mata panah yang diasah. Peninggalan lain yaitu pemukul kulit kayu dan alat obsidian.
1. Beliung Persegi
Beliung persegi adalah alat batu paling menonjol dari masa bercocok tanam yang ada di Indonesia. Pada umumnya berberntuk memanjang dengan penampang persegi. Seluruh bagiannya diupam hingga halus kecuali tangkainya. Atas dasar penelitian yang dilakukan oleh A.A. Cense dan Stein Callenfels di Sulawesi tepatnya di pinggir Sungai Karama ditemukan beliung persegi di situs Sikendeng, Minanga Sipakka, dan Kalumpang.
Macam beliung masa bercocok tanam yang ditemukan di Indonesia:
Beliung bahu sederhana. Ditemukan di Kalumpang tangkainya kasar dan tidak serapi beliung bahu umumnya yang ditemukan di daratan Asia.
Beliung tangga. Hanya ditemukan beberapa buah di Sulawesi bentuknya menyerupai tangga turun setingkat.
Beliung atap. Tersebar di Jawa Timur, Bali dan Maluku.
Beliung biola. Ditemukan bersama dengan beliung bahu sederhana di Kalumpang, kedua sisi cekung sehingga bentuknya menyerupai biola.
Beliung penarah. Bentuknya panjang dengan penampang lintangnya persegi empat yang sisinya cembung atau penampang lintangnya hampir bundar.
Dan diperkirakan terdapat bengkel beliung persegi di Bungamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya), Pasir Kuda (Bogor), Karangbolong (Karanganyar, Jateng) dan Punung (Pacitan,Jatim).
2. Kapak Lonjong (Kapak Batu)
Secara morfologis, tradisi kapak lonjong dapat diduga lebih tua dari beliung persegi. Daerah penemuan kapak lonjong terbatas di wilayah Sulawesi ke timur. Kapak ini berbentuk lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajaman. Bagian tajaman diasah dari 2 arah dan menghasilkan bentuk tajaman yang simetris. Perbedaan kapak lonjong dan beliung persegi terdapat di daerah tajaman beliung persegi tidak memiliki tajaman simetris.
Suatu hal yang menyulitkan tentang penelitian kapak lonjong adalah alat ini masih dibuat dipedalaman Papua.
3. Alat – Alat Obsidian
Alat – alat yang khusus dibuat dari batu kecubung ( Obsidian ) berkembang sangat terbatas di beberapa daerah saja. Misalnya di Jambi dan Bandung. Karena perbedaan penemuan alat-alat obsidian, memunculkan 2 paham yaitu:
a. Alat obsidian merupakan peninggalan masa berburu dan meramu hal ini didukung oleh H.G. Bandi, Rothpletz.
b. Alat obsidian merupakan peninggalan masa bercocok tanam hal ini didukung oleh Stein Callenfel, Koenigswald, dan Hoop.
4. Mata Panah
Ada 2 tempat penemuan mata panah yang penting yaitu di Jwa Timur dan Sulawesi Selatan.
Bentuk mata panah di Jawa Timur umumnya segitiga terbuat dari batu gamping. Bagian tajamannya bergerigi. Punung di Jawa Timur merupakan bengkel pusat mata panah.
Mata panah dari Sulawesi Selatan umumnya berbentuk lebih kecil dan lebih bergerigi. Secara umum, pembuatan mata panah di Jawa Timur lebih teliti dari mata panah Sulawesi Selatan.
Para ahli menganggap bahwa mata panah ini menerima unsure pengaruh dari luar Indonesia (Stein Callenfels, Heine Geldern, dan Heekeren).
5. Gerabah
Penyelidikan arkeolog membuktikan bahwa benda – benda gerabah mulai dikenal pada masa bercocok tanam. Bukti ini berasal dari Kendenglembu (Banyuwangi), Klapadua (Bogor), Serpong (Tangerang), Kalumpang dan Minanga Sipakka, dekat Danau Bandung dan Poso (Minahasa).
Dari hasil penelitian para arkeolog, dapat disimpulkan bahwa teknik pembuatan gerabah di Indonesia masih sangat sederhana dengan menggunakan tangan. Penggunaan roda pemutar belum dikenal secara umum kecuali didaerah Tangerang dan sekitar Danau bandung.
Bentuk gerabah diKendenglembu sangat sederhana. Gerabah di Klapadua ditemukan bersama manik – manic namun tidak ditemukan bersama alat logam. Di Minanga dan Kalumpang gerabah dilaporkan ditemukan bersama dengan kapak lonjong dan beliung persegi.
6. Alat Pemukul Kayu
Beberapa alat pemukul kayu ditemukan di Kalimantan dan Sulawesi Tengah terdiri atas gagang dan bagian pemukul. Bagian untuk memukul kulit kayu ini memuat jalur – jalur cekung yang sejajar ditemukan di Ampah dan Minanga Sipakka. Sedangkan di kalumpang ditemukan persegi panjang dan tidak bergagang.
7. Perhiasan
Dalam masa bercocok tanam, perhiasan dari batu dan kerang sudah dikenal. Perhiasan – perhiasan ini ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dari benda – benda tersebut dapat diketahui bahwa cara pembuatannya. Pertama bahan batu dipukul hingga gepeng. Permukaan atas dan bawah kemudian dicekungkan hingga berlubang. Kemudian di gosok dan diasah hingga menjadi gelang
5. Sistem Kepercayaan
Kehidupan Batu Muda (Neolithikum) menghasilkan kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong. Kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong sebenarnya berasal dari daratan Asia Tenggara, dan masuk di Indonesia karena dibawa oleh orang-orang Melayu (Melayu Tua/Proto Melayu). Selain menularkan kepandaian membuat kapak persegi dan kapak lonjong, orang-orang dari Ras Proto Melayu ini juga membawa tradisi keyakinn mereka berupa kepercayaan terhadap roh nenek moyang atau biasa dikenal denagn sebutan Animisme-Dinamisme.
Munculnya kepercayaan ini juga nanti akan memunculkan berkembangnya kebudayaan-kebudayaan batu-batu besar (Megalithikum) yang merupakan alat/sarana bagi peribadatan/pemujaan mereka. Dalam bidang social ekonomi, dan memperhatikan alat-alat yang ada dugaan kuat masyarakat pada masa ini telah mengenal kepandaian bercocok tanam, khususnya bersawah atau bertani.
Sedikit gambaran tentang kehdupan masyarakat Larantuka di Flores untuk bahan perbedaan kehdupan masyarakat Indonesia.
Secara admnistrasi Larantuka adalh ibu kota kabupaten Flores Timur. Keadaan tanah di Larantuka pada umumnya tidak banyak berbeda dengan daerah-daerah d NTT yaitu terdiri dari tanah kapur dan tanah liat. Perbedaan kondisi tanah tersebut, ternyata mempengaruhi corak mata pencaharian mereka. Di derah pedalaman masyarakat Larantuka mempunyai mata pencaharian bercocok tanam sedangkan di daerah pantai berate pencaharian sebagai penangkap ikan. Bagi orang Flores bercocok tanam merupakan mata pencaharian yang terutama (Koentjaraningrat 1920, halaman 187).
Pada umumnya system pertanian yang berlaku di Flores adalah sama, yaitu tanah pertanian yang berrbentuk ladang yang dibuat dengan cara membuka hutan belukar. Pembukaan hutan ini dilakukan secara berama-sama oleh para lelaki anggota suku. Mula –mula ditebang pohon-pohon dan semak belukar, kemudian hasl penebangan tersebut dibiarakn kering selanjutnya dibakar. Setelah semua sisa-sisa pembakaran dibersihkan, kemudian dibuat lubang-lubang untuk menanam padi, jagung,. Alat yang digunakan untuk membuat lubang masih sederhana, yaitu berupa sebuah tongkat yang ujungnya runcing dengan panjang kira-kira 2 cm (Hidayat L.M 1976, halaman 23-24)
Pada umumnya masyarakat Flores percaya bahwa, roh nenek moyang bertempat tinggal di sekeliling manusia dan dapat mempengaruhi kehdupannya. Agar roh nenek moyang memberi kebaikan, kemakmuran dan keberhasilan maka segala kegiatan yang berkaitan dengan pertanian selalu diserta upacara-upacara. Melalui upacara-upacara ini diharapkan nenek moyang akan memberi berkah.
Kepercayaan yang asli itu kuat bertahan sampai sekarang, meskipun sebagian besar penduduk Flores telah memeluk Agama Khatolik maupun Kristen Protestan dan juga Islam. Hal ini dibuktikan pada kenyataan bahwa, di antara penduduk yang secara resmi telah menganut agama-agama tersebut di atas, pada hakekatnya masih banyak yang belum melepaskan adat-istiadat serta konsep-konsep kepercayaan tersebut(Koentjaraningrat 1970, halaman 193).
Upacara-upacara yang berkaitan dengan dasar-dasar kepercayaan di atas antara lain adalah pemilihan atau penentuan ladang, penebangan pohon atau ladang baru, menanam bibit, membuat rumah adat dan turun perang. Semua acara diatas disertai dengan binatang kurban yaitu babi, kambing dan ayam. Di samping sebagai fungsi religious binatang ternak itu menunjukkan statu social seseorang karena makin tinggi tingkat socialnya makin besar kumlah binatang yang disembelih.
Pelaksanaan upacara dpat dilangsungkan di ladang yang akan dikerjakan atau di tempat musyawarah tua-tua adat. Tempat musyawarah ini dsebut menatuk , artinya batu-batu yang disusun persegi panjang. Pada masing-masing sisi-sisi menatuk didirikan batu berdiri (beledang) yang berfungsi sebagai tempat duduk atau bersandar tua-tua adat. Hal-hal ini terjadi pada waktu menghadiri musyawarah atau upacara adat. Di sampng beledang di menatuk juga terdapat pula tempat sacral yang khususnya digunakan untuk penyembelihan korban (Nubanara). Nubanara itu berupa batu-batu kali yang ditumpuk membentuk lngkaran. Di tiap-tiap desa di daerah Flores Timur pada umumnya mempunyai bangunan musyawarah ini dan dibuat di dekat rumah adat (korke bale)
Berlangsungnya upacara adat dihadiri oleh tua-tua adat, yang berkumpul di manatuk dan duduk di masing-masing beledang. Penyembelihan binatang korban dilakukan oleh 4 tugas yang telah diakui oleh adat untuk melaksanakan upacara korban. Tugas ini bersifat turun-temurun. Adapun keempat petugas ini adalah:
1. amakolen bertugas memegang kepala binatang korban
2. amakelen bertugas memegang kaki binatang kurban
3. amakurat bertugas membantu memegang bagian yang memerlukan
4. amamarang bertugas membacakan doa dan mantra-mantra serta ceritera tentang kebun adat, sedang yang bertugas menyembelih adalah kapala suku (Hidayat L.M. 1976, halaman 64-65)
Binatang korban harus disembelih dengan sekali tetak dan sekali harus putus. Alat yang digunakan untuk memotong adalah balida (semacam golok panjang). Apabila leher binatang korban itu dalam sekli tetak tidak putus, maka berarti terjadi kesalahan dan upacara harus diulang oleh tua-tua adat yanag ditunjuk. Kepala binatang korban yang telah putus, dengan darah yang bercucuran dibawa oleh amakolenkeliling tempat upacara.Darah binatang itu dioleskan pula pada nubanara (pusat upacara). Kemudian hati/limpa binatang korban itu dikeluarkan dan diadakan pengamatan untuk mengetahui berhasil atau tidaknya uatu kegiatan yang dilakukan. Apabila hasil pengamatan itu menunjukkan suatu pertanda baik, maka korban-korban tak usah dlakukan.
Bertolak dari kehidupan masyarakat bercocok tanam di Indonesia, maka kehidupan masyarakat daerah Larantuka merupakan salah satu data etnografis, yang membuktikan bahwa tradisi masyarakat bercocok tanam masih berlangsung di daerah ini. Hal tersebut didasarkan atas adanya kesamaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat bercocok tanam di Indonesia. Adapun segi-segi kesamaan itu meliputi:
1. Sektor Pertanian
Dalam bidang pertanian, berlaku sistim pertanian ladang. Tanah pertanian tersebut dicptakan dengan cara menebang pohon-pohon dan semak-semak belukar di hutan. Ladang tersebut akan ditinggalkan apabila keadaan tanahnya sudah tidak subur lagi.
2. Berlangsungnya tradisi pembuatan gerabah
Dalam pembuatan gerabah peranan wanita sangat menonojol, karena seluruh proses pembuatannya dkerjakan ole wanita. Teknik yang digunakan juga masih sederhana, yaitu masih menggunakan tanpa roda pemutar. Dalam proses meratakan dibantu dengan tatap dan batu (panungkuk dan watu balo). Beberapa tabu dianggap dapat mempengaruhi hasil produksinya. Sebagai contoh misalnya apabila tabu dilanggar akan mengakibatkan gerabah yang dibakar banyak yang pecah.
3. Dalam masyarakat Larantuka berlaku kebiasaan bangunan batu-batu yang besar, antara lain digunakan untuk mengadakan upacara korban binatang. Upacara korban dilakukan pada perstwa-peristiwa tertentu.
4. Berlangsung hubungan dagang dengan system barter. Hal ini disebabkan karena perbedaan hasil produksi antara daerah pedalaman dan daerah lainnya.
Data di atas dapat mempertegas gambaran tentang kehidupan masyarakat bercocok tanam di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar